
Raymond mengejar Caramel yang sedari tadi menghindarinya dan menyalakan api kecemburuannya. Dan ternyata Caramel masuk ke dalam toilet wanita. Raymond menunggu Caramel yang sedari tadi ada di dalam toilet. Raymond takut jika Caramel kembali menangis, apalagi jika tangisan itu disebabkan olehnya. Raymond menyalahkan dirinya sendiri.
Ceklek...
Suara pintu terbuka. Caramel keluar dari dalam toilet wanita dan dia merapikan pakaiannya. Kemudian dia mencuci tangannya dengan sabun dan mengeringkan tangannya dengan tisu. Cukup lama memang kegiatan Caramel di dalam toilet sehingga Raymond menyimpulkan bahwa Caramel sedang menangis sama seperti sebelumnya karena toilet merupakan tempat bersemedi bagi Caramel jika dia sedang sedih ataupun menangis.
"Sayang, kamu gapapa?" tanya Raymond ketika melihat Caramel keluar dari toilet.
Raymond mendekat mengapit pipi Caramel dengan kedua telapak tangannya.
"Isssh apaan sih? Minggir!" seru Caramel sambil melepas kedua telapak tangan Raymond dari pipinya.
"Kamu gapapa kan sayang? Kamu gak habis nangis kan?" tanya Raymond dengan nada khawatir.
Caramel mengerutkan dahinya dan berkata, "Nangis? Ngapain?"
"Ya kan biasanya kamu kalau ada masalah larinya ke toilet lama gak keluar-keluar," ucap Raymond dengan menatap intens mata Caramel.
"Enak aja, orang lagi menikmati boker di dalam," ucap Caramel sambil mencari celah untuk berjalan.
Namun jalannya selalu dihadang oleh badan Raymond yang gagah, sehingga badan Caramel yang bohay tidak bisa melewatinya.
"Kok lama di dalamnya?" Raymond bertanya kembali.
"Sambil main HP liatin cowok-cowok cakep. Kenapa?" jawab Caramel sebal.
"Ini yang di depan cakep, ngapain liatin yang lain?" ucap Raymond jumawa.
"Males ah. Minggir!" seru Caramel kesal.
"Galak bener sih sayang?" tanya Raymond berwajah sedih mengiba.
"Lagi mens, mangkanya jangan macem-macem," jawab Caramel sambil berjalan.
"Ooow lagi mode galak ya?" sindir Raymond dengan berjalan di sebelah Caramel.
Caramel berhenti dan memutar badannya,
"Aauuuummm...," Kiki menirukan suara singa yang mengaum dengan mengarahkan kedua jari tangannya ke depan muka Raymond membentuk cakar singa.
"Uuuh atuuut calon istriku ternyata singa betina," Raymond terkekeh.
Caramel melotot tidak menduga jika seorang Chef Raymond yang dingin dan cuek bisa sealay itu bahasanya.
Raymond merangkul pundak Caramel, namun Caramel melepaskannya. Lalu Raymond melakukannya lagi dan Caramel pun menghempaskannya kembali, begitulah seterusnya sampai mereka melewati Arabelle dan Nindi yang berseteru lewat pandangan mata mereka sedari tadi.
"Eee... eee... eee... kalian mau kemana? Apa ini pakai peluk-peluk?" ucap Arabelle ketika melihat Raymond dan Kiki berjalan yang sedang melakukan adegan peluk lepas sedari tadi.
Arabelle mendekati Raymond dan Caramel.
"Minggir...!" seru Arabelle pada Caramel.
"Gak usah disuruh juga mau pergi. Males disini," sahut Caramel yang agak oleng badannya ketika dijorokkan badannya oleh Arabelle.
"Sayang mau kemana?" tanya Raymond yang akan menyusul Caramel tapi dihalangi oleh badan Arabelle.
"Ambil salep 88 buat olesin ke badan orang-orang yang kegatelan," jawab Caramel yang sedang berjalan dengan suara yang lantang.
__ADS_1
Raymond mengulum senyumnya mendengar jawaban dari singa betinanya. Rasanya dia ingin sekali memeluk singa betinanya itu dan dimasukkan ke sangkar agar hanya dia yang bisa mendekati singa betinanya itu.
Karena merasa kesal, Caramel menuju bar untuk meminta minuman dingin pada bartender yang memang baik padanya, setiap Caramel minta minuman apapun dia kasih.
Caramel masuk ke dalam bar dan membuat minuman dingin kesukaannya. Zayn yang berada di dalam restauran dengan Daady Natahan dan Mommy Grace ikut masuk ke dalam bar karena Daddy dan Mommy Raymond itu sedang membicarakan hal yang penting dengan Pak Sarno yang baru saja datang dari kantor pusat selama beberapa hari.
Mereka bertiga, Caramel, Angga sang bartender, dan Zayn sedang meracik minuman sambil bercanda.
Hal itu tertangkap oleh mata Raymond yang sedang mencari Caramel ke dalam restauran. Raymond geram melihat kedua lelaki itu bercanda dan tertawa dengan gadisnya.
"Ehemm... sayang, lagi bikin minum apa? Bikinin sekalian dong," ucap Raymond sambil tersenyum manis agar hati gadisnya luluh.
Caramel memandang Raymond sekilas, kemudian dia kembali mengaduk minumannya.
"Bikin racun, mau?" jawab Caramel kesal.
Zayn tertawa mendengar jawaban Caramel pada Raymond. Sedangkan Angga hanya mengulum senyumnya karena takut pada Chef Raymond yang sudah menatap dengan tatapan membunuh pada Zayn.
Arabelle mengikuti Raymond ke dalam restauran dan memeluk Raymond dari belakang sehingga membuat Caramel jijik karena tingkah Arabelle yang terkesan seperti wanita m*r*h*n.
Raymond menoleh ke belakang dan kaget melihat yang dilakukan Arabelle padanya. Raymond segera melepaskan dengan paksa tangan-tangan Arabelle yang melingkar di pinggangnya sampai Arabelle mengaduh kesakitan.
"Awww.... Ray, sakiiiit," rengek Arabelle, namun tak mendapatkan simpati apa-apa dari Raymond.
""Manja banget sih jadi cewek. Yang kuat biar bisa jadi wonder woman," sindir Caramel seraya keluar dari pintu bar.
"Dasar udik gak tau diri!" seru Arabelle kesal.
Caramel masuk ke dalam restauran dengan membawa sesuatu.
"Boneka Anabelle, nih buat kamu, kali aja diolesin ini kamu bisa gak kegatelan lagi," ucap Caramel sambil melempar salep 88 ke arah Arabelle.
"Apa ini?" ucap Arabelle heran.
Sontak semua orang disitu tertawa dengan tingkah konyol Caramel untuk melawan Arabelle.
"Baca aja itu biar jelas cara pakainya," jawab Caramel tersenyum dan meninggalkan Arabelle keheranan dengan benda kecil yang dilemparkannya pada Arabelle.
Raymond tertawa dan ikut meninggalkan Arabelle yang masih kebingungan. Raymond mengejar dan menjajari langkah kaki Caramel , kemudian dia merangkul pundak Caramel, namun seperti tadi Caramel menghempaskannya.
Kemudian ada suara yang mengalihkan pandangan mereka.
"Kalian mau kemana?" tanya Mommy Grace pada Raymond dan Caramel yang lewat di samping mereka.
Hal itu dijadikan senjata bagi Raymond agar Caramel tidak bisa melawannya. Raymond merangkul pundak Caramel dan benar saja, Caramel tidak berkutik, dia tidak bisa melawan Raymond di depan orang tuanya.
"Mau pacaran, bolehkan?" jawab Raymond asal.
"Dasar anak muda," sahut Daddy Nathan sambil terkekeh.
"Kalian sudah makan? Kalau belum, ayo kita makan bersama," ajak Mommy Grace pada Raymond dan Caramel.
Mulut Caramel sudah terbuka hendak menjawab, namum Raymond menyelanya.
"Males ah ada wanita gila itu. Mending kita makan berdua aja ya sayang," jawab Raymond sambil menengadahkan wajahnya pada Caramel.
Nyebelin banget sih. Siapa yang bilang mau makan berdua sama kamu. Pengen banget ini rasanya nyakar-nyakar muka ganteng mu itu. Sayang sih ganteng-ganteng di cakar, tapi nyebelin iiiih..... ,ungkapan batin Caramel yang sangat panjang itu dibingkai dengan senyum manis yang dia tujukan pada Mommy Grace.
__ADS_1
"Ray, kebiasaan kamu ini. Ya udah terserah kamu," jawab Mommy Grace yang pura-pura ketus.
Caramel tidak enak mendengar jawaban dari Mommy Grace. Dia menginjak kaki Raymond dengan sangat keras untuk melampiaskan kekesalannya sedari tadi.
Raymond menahan rasa sakit di kakinya agar tidak ketahuan oleh orang lain. Raymond membalasnya dengan mengeratkan rangkulan tangannya pada pundak Caramel sehingga Caramel merasakan pundaknya sangat berat karena dipegang oleh Raymond dengan penuh penekanan.
Caramel membalasnya dengan menggigit tangan Raymond yang berada di pundaknya hingga Raymond mengaduh kesakitan.
"Aaaw... sakit sayang... awas ya, udah berani main gigit-gigitan," ucap Raymond yang mulai mengejar Caramel yang sedang lari seusai menggigit tangan Raymond.
Pak Sarno, Daddy Nathan dan Mommy Grace tertawa melihat tingkah sepasang kekasih yang belum resmi menyandang predikat kekasih itu.
"Mesra banget ya mereka?" ucap Mommy Grace.
"Mom, masa' gitu mesra sih. Mesra tuh kayak gini," Daddy Nathan mengecup pelipis Mommy di hadapan Pak Sarno.
"Issh.. Daddy, ada Pak Sarno tuh," ucap malu Mommy Grace.
"Gapapa Bu, memang orang punya sendiri caranya untuk bersikap romantis. Seperti Chef Raymond dan Caramel, mereka memang sikap romantisnya ya begitu itu. Hehehe... bikin gemes yang lihat aja," ucap Pak Sarno sambil terkekeh.
Pemandangan itu tak luput dari pandangan Angga, Zayn dan Arabelle. Hal itu membuat Arabelle bermuka masam.
Arabelle keluar dari restauran menuju taman, dia duduk menikmati udara di sana sendirian. Tiba-tiba Zayn duduk di sebelahnya.
"Gak usah gangguin mereka. Percuma. Mereka itu saling mencintai," ucap Zayn membuka perbincangannya dengan Arabelle.
"Emang siapa kamu berani-beraninya merintah-merintah aku?" sewot Arabelle.
"Aku? Emmm.. nanti pasti kamu akan tahu sendiri siapa aku," jawab Zayn sambil terkekeh.
Caramel terjebak oleh dua lengan Raymond yang mengungkungnya dari belakang badannya.
"Hei apa-apaan ini? Kalian gak kerja?" tanya Revan membuat suasana romantis yang berusaha dibuat oleh Raymond menjadi buyar.
"Enggak. Udah sono balik kerja, gak usah ganggu," ucap Raymond untuk mengusir Revan.
"Ini lagi jam kerja Chef, pacarannya nanti aja. Lagian ini juga lagi rame meskipun gak begitu rame banget sih. Tapi... kasihan Caramel Chef. Tuh ada big bos lagi di dalam restauran," jelas Revan pada Raymond.
"Gapapa, mereka udah ngasih ijin kok," ucap Raymond sebal.
"Emang kalian itu siapa sampai dikasih ijin sama mereka? Udah yuk balik kerja lagi," ujar Revan berniat menyadarkan mereka.
"Liat aja, semua ini akan aku beli sama kamu juga," sewot Raymond pada Revan yang disambut tawa oleh Revan.
Raymond mendengus kesal melihat Revan menertawakannya. Ditambah lagi Caramel yang mengusirnya untuk pergi kembali ke dalam restauran.
"Huss... husss... sana pergi...," usir Caramel pada Raymond dengan mengibas-ngibaskan tangannya.
Raymond menatap sendu Caramel. Namun ide jahilnya kembali muncul. Sebelum Raymond melangkah pergi, dia mencuri ciuman di pipi Caramel, setelah itu dia lari masuk ke dalam kitchen.
Revan hanya tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepala melihat ingkah Chef tampan yang cuek dan dingin menjadi takluk pada seorang Caramel.
Setelah Daddy Nathan dan Mommy Grace makam malam bersama Zayn dan Arabelle, mereka berniat untuk pulang bersamaan dengan closing nya tempat itu. Mereka pulang berbarengan dengan semua karyawan yang juga akan pulang. Caramel sudah bersiap-siap untuk pulang, dan seperti biasa Raymond menunggu Caramel untuk mengantarnya pulang.
Pada saat Caramel akan pulang, Mommy Grace memanggilnya. Caramel datang dan berpamitan pada Mommy Grace dan Daddy Nathan. Raymond menghampiri mereka karena Caramel tak kunjung datang me mobilnya. Pada saat itu Arabelle ada di samping Raymond. Arabelle pura-pura pusing dan jatuh, untung Raymond dengan sigap menangkapnya.
Mommy Grace kaget dan menyuruh Raymond menggendong Arabelle ke dalam mobil.
__ADS_1
Caramel ikut kaget, namun setelah Arabelle ada dalam gendongan Raymond, Arabelle mengejek Caramel dengan senyum liciknya.
"Zaaaaaayn.... ayo pulang," seru Caramel mengajak Zayn yang ada disitu untuk pulang bersamanya.