Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
19. Datangnya boneka Anabelle


__ADS_3

Raymond segera menghempaskan tubuh wanita itu ketika dia sudah tersadar dari kagetnya. Dia menatap tajam penuh kebencian pada wanita itu.


Wanita itu jatuh di lantai dan menatap Caramel layaknya seorang musuh. Caramel memang sempat kaget, namun karena kejadian hari ini yang seakan melatihnya untuk kuat, dia tidak goyah sedikitpun mendapatkan tatapan maut dari wanita tersebut.


"Ray, tolong aku...," ucap wanita itu mengiba sambil mengulurkan tangan kanannya berharap agar tangannya di sambut oleh Raymond dan ditolongnya.


Raymond mengacuhkannya dan melingkarkan tangannya pada pinggang Caramel dan mengajaknya berjalan menuju sofa untuk duduk di hadapan Mommy dan Daddy-nya.


Wanita itu mengeram kesal. Selama ini memang dia dekat dengan Raymond, namun tak pernah dirinya mendapatkan perhatian dari Raymond. Dan karena kejadian terakhir kali itu membuatnya harus menjauhi Raymond.


"Mom... Dad... ngapain b*tch itu ada disini?" tanya Raymond kesal.


Raymond lupa jika dia bersama Caramel dan dia melepaskan tangan Caramel ketika duduk di kursi. Sedangkan Caramel masih berdiri tidak tahu harus bersikap apa dalam situasi ini. Jujur dia merasa rendah diri jika sedang berada di tengah-tengah keluarga Raymond.


Caramel hendak duduk tapi dia takut nantinya ada suara yang mengatakan siapa suruh kamu duduk? atau Beraninya kamu duduk di kursi itu.


Issh... akibat kebanyakan nonton drama korea sih ini, batin Caramel yang benar-benar merutuki dirinya yang sedang berada disini.


"Sayang, duduk sini," suara Mommy yang menyuruh Caramel duduk sambil tersenyum menyadarkan Raymond jika dia melupakan kehadiran Caramel karena kemarahannya pada Arabelle, teman yang menjebaknya.


"Sini sayang...," Raymond menepuk kursi disebelahnya.


Dengan canggung Caramel melangkahkan kakinya menuju kursi yang ditunjuk oleh Raymond. Namun baru selangkah Caramel disenggol dengan kerasnya oleh Arabelle. Caramel jatuh terduduk di lantai.


Caramel menghembuskan nafasnya dengan kasar. Rasanya dia ingin berteriak pada semua orang yang menzaliminya. Sungguh dia sangat lelah hari ini, sedari pagi dia harus menghadapi Nindi dan sekarang dia harus menghadapi ulet keket yang suka menempel pada Raymond.


Huft... banyak sekali hama-hama berseliweran , gerutu Caramel dalam hati.


"Sayang kamu gapapa?" tanya Raymond ketika membantu Caramel berdiri.


"Manja, gitu aja minta ditolongin," cibir Arabelle ketus.


"Diam kamu, siapa suruh kamu duduk disitu?" Raymond melotot penuh amarah pada Arabelle.


Hah kalimat itu untuk wanita itu. Hahaha.... Caramel sungguh dirimu sangat beruntung, batin Caramel bereuforia.


"Ray sayang kenapa kamu jadi jahat gitu sih sama aku?" Arabelle memperlihatkan kesedihannya.


"Ck, gak usah akting, gak mempan," Raymond menatap Arabelle datar.


"Tante... Om... Raymond jahat sama Arabelle," adunya pada Daddy Nathan dan Mommy Grace.


"Arabelle, gadis itu Caramel, dia calon istrinya Raymond," Mommy memperkenalkan Arabelle pada Caramel.


"Calon istri? Sayang kamu bercanda?" Arabelle mendekati Raymond dan bergelayut pada lengannya.


"Menyingkirlah, aku jijik sama kamu," tukas Raymond melepaskan tangan Arabelle yang bergelayut manja pada lengannya.


Oh... namanya Arabelle. Kenapa gak sekalian Anabelle aja biar samaan sama boneka Anabelle, kan sama-sama menyeramkan, batin Caramel.


"Ray kamu tega, kamu jahat. Apa kamu lupa dengan malam itu? Sekarang setelah jarak memisahkan kita, kamu dengan mudahnya menggantikan posisiku dengan gadis kampungan ini. Keterlaluan Ray," Arabelle berseru meluapkan amarahnya.


Sungguh Caramel sangat kaget dengan apa yang diucapkan oleh Arabelle.


Apa mungkin Raymond melakukan hal-hal diluar batas dengan boneka Anabelle ini?

__ADS_1


batin Caramel mengira-ira sendiri.


"Tutup mulutmu! Dasar b*tch selalu bikin masalah," ucap Raymond geram.


"Apa? Kenapa kamu menyebutku itu Ray? Kamu sendiri yang menginginkanku," ucap Arabelle dengan tegas seolah menegaskan bahwa Raymond lah yang menginginkannya.


Raymond menyeringai penuh kebencian dan berkata, "Mimpi!"


Daddy dan Mommy Raymond hanya melihat saja pertikaian Raymond dengan Arabelle karena Arabelle adalah anak dari sahabat Daddy Nathan yang berada di Paris. Mereka sekeluarga pindah ke Paris untuk mengurus perusahaan mereka di sana.


Flashback


Arabelle bertemu dengan Raymond karena Raymond kuliah di sana. Arabelle menaruh hati pada Raymond sejak mereka bertemu pada saat makan bersama keluarga mereka. Dan sejak saat itu Arabelle selalu mendekati dan mencari perhatian pada Raymond.


Hingga pada suatu ketika Arabelle menjebak Raymond dengan menaruh obat tidur pada minumannya sehingga pada saat Raymond bangun, dia akan mendapatkan Arabelle tidur bersamanya.


Rencana itu sudah disiapkan matang-matang oleh Arabelle dan dibantu oleh teman dekatnya yaitu Leon yang membantunya untuk menjebak Raymond. Namun Leon sendiri lah yang menggagalkan rencana Arabelle karena dia mencintai Arabelle dan dia tidak ingin Arabelle tidur dengan pria lain.


Leon memberitahu Raymond tentang rencana Arabelle padanya. Raymond sangat marah dan emosi, namun menurutnya ini merupakan cara terbaik untuk menendangnya jauh dari kehidupannya.


Raymond pura-pura masuk dalam perangkap Arabelle, dan pada saat Arabelle ingin membuka bajunya, Raymond bangun dari pura-pura tidurnya. Dia murka pada Arabelle dan mengancam Arabelle agar dia jauh dari kehidupannya. Raymond sungguh tidak menyangka bahwa kini Arabelle berani kembali mengusik hidupnya disaat dia akan menikahi Caramel.


Flashback end


"Mom... Dad... usir dia atau aku tidak akan menginjakkan kakiku ke rumah ini lagi," ancam Raymond pada kedua orang tuanya.


"Ray, tenang dulu. Kita akan bicarakan ini setelah makan," ucap Daddy Nathan menengahi.


"Kita makan di luar aja," Raymond meraih tangan Caramel dan mengajaknya berjalan.


"Sayang, makan dulu disini, Mommy udah masak buat kalian," cegah Mommy Grace ketika Raymond mengajak Caramel berjalan.


"Ayolah... sebentar aja. Caramel mau ya?" Mommy menatap memohon Caramel.


Dengan sangat terpaksa Caramel mengangguk. Dan itu membuat Raymond mendengus kesal.


Raymond tidak bisa menyalahkan Caramel karena menyetujui permintaan Mommy-nya. Raymond tahu bahwa Caramel tidak akan tega menolak kemauan orang lain terutama orang yang lebih tua darinya.


Akhirnya Raymond berjalan menuju Ruang makan dengan menggandeng pinggang Caramel. Arabelle bergelayut manja di lengan Raymond, sontak saja Raymond menghempaskan tangan Arabelle yang membuatnya semakin kesal.


Arabelle melingkarkan tangannya pada Mommy Grace dan mencoba mencuri hatinya agar bisa membantunya mendapatkan Raymond. Karena sedingin apapun Raymond, dia sangat menyayangi Mommy-nya sehingga dia tidak akan melawan perintah Mommy-nya.


Caramel tidak banyak bicara. Dia hanya diam karena merasa terasing dan rendah di hadapan mereka. Arabelle yang cantik dan kaya menambah kesadaran diri Caramel jika dia tidak sepadan dengan keluarga Raymond.


Arabelle menyibukkan dirinya dengan mencari perhatian Mommy Grace dan Daddy Nathan. Dia terlihat begitu akrab dengan mereka. Caramel hanya menghela nafas berkali-kali dan berkali-kali juga dia merutuki dirinya yang berada di rumah ini.


Raymond tahu jika Caramel tidak nyaman. Dia melayani Caramel mulai dari mengambilkan makanan dan kadang-kadang jika Caramel terdiam, Raymond lah yang menyuapinya.


Hal itu tak luput dari pandangan Mommy Grace, Daddy Nathan dan Arabelle. Mommy dan Daddy Raymond tersenyum ketika mereka saling memandang, namun Arabelle sangat marah, dia mencengkeram sendok dan garpunya ketika melihat Raymond sangat peduli pada gadis kampungan yang sangat dibenci oleh Arabelle mulai dari sekarang.


Setelah acara makan selesai Raymond pamit pulang, namun Daddy Nathan menyuruh Raymond dan Caramel untuk mengikutinya ke ruang kerjanya.


Di dalam ruang kerja Daddy Nathan, Caramel merasa takut, dia merasa seperti akan disidang. Raymond memegang tangan Caramel karena mengerti gadisnya itu sedang ketakutan.


"Ada masalah apa Dad, sampai Daddy menyuruh kita datang kesini?" Raymond membuka suaranya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Tadi Daddy dengar ada masalah keributan setelah Daddy pulang. Apa benar Caramel?" tanya Daddy Nathan dengan menatap Caramel.


Deg...


Jantung Caramel seperti terhenti.


"I-iya....," Caramel menjawab gugup dengan suara lemah, dan kepalanya menunduk.


"Bisa kalian ceritakan ada apa sebenarnya?" tanya Daddy Nathan kembali bergantian menatap Caramel dan Raymond.


Raymond menghela nafas panjang. Sungguh dia ingin melaporkannya pada Daddy-nya, namun melihat Caramel yang ketakutan seperti itu membuat dia tidak tega untuk mengingatkannya kembali pada peristiwa pagi tadi yang membuatnya sakit hati.


"Ceritakanlah, Mommy sebenarnya juga ingin tau, tapi dia tidak bisa meninggalkan Arabelle sendirian, karena ya... kamu tau sendiri kan dia bagaimana?" ucap Daddy Nathan yang kini sudah bernada santai.


"Lagian kenapa sih Dad wanita licik itu ada disini? Bukannya Daddy dan Mommy tau dia melakukan apa padaku?" sahut Raymond dengan kesalnya.


"Dia anak sahabat Daddy, jadi Daddy tidak bisa menolaknya Ray," Daddy menjelaskan.


"Lalu kenapa dia tinggal disini? dan sampai kapan?" tanya Raymond kesal.


"Kalau dia tinggal di luar rumah ini, Mommy sama Daddy gak bisa kontrol dia Ray. Kamu mau dia menggangu kamu setiap saat? Disini ibaratnya penjara buat dia. Dan untuk sampai kapannya kita tidak tau," Daddy menjawabnya dengan enteng.


"Ck, pokoknya Ray gak akan kemari sebelum dia pergi dari sini," ucap Raymond seraya menggandeng Caramel dan berdiri dari duduknya.


"Mau kemana kamu Ray, ceritakan dulu apa yang terjadi," Daddy Nathan mengulangi perintahnya kembali.


Akhirnya Raymond duduk kembali dan menceritakan apa yang terjadi. Caramel kaget dan menatap wajah Raymond. Caramel tidak tahu jika Raymond mengetahui kejadian itu dengan jelas.


Caramel memang tidak tahu jika tadi Raymond sempat mengecek CCTV yang ada ditempat kejadian Caramel dan Nindi tadi bertengkar. CCTV di sana semuanya selain bisa merekam gambar, ternyata bisa merekam suara juga dengan jelas.


Daddy hanya mengangguk-angguk dan melihat sekilas Caramel. Entah apa yang ada dipikiran Daddy Nathan sekarang ini.


Setelah mereka keluar dari ruang kerja Daddy Nathan, Raymond mengantarkan Caramel pulang.


Besoknya Raymond dan Caramel masuk kerja seperti biasa. Kali ini Caramel bisa tenang karena Nindi libur hari ini.


Tapi berbeda dengan Raymond, karena dia masih saja merasa tidak aman meninggalkan Caramel tanpa ada dia disampingnya.


Dan benar saja, kini Zayn mulai beraksi kembali. Baru saja semalam dia merasa tidak nyaman dengan kedatangan Arabelle, nah sekarang di tempat kerja masih ada juga yang membuatnya tidak aman. Tidak lain orang itu adalah Zayn, sepupu jauh Raymond.


Rasanya Raymond ingin menahan Caramel untuk di rumah saja daripada dia harus terus-terusan cemburu dengan pria lain.


Pada sore harinya, pada saat pulang kerja. Raymond mengajak Caramel untuk makan terlebih dahulu. Dan seperti biasanya Raymond selalu punya akal licik untuk mengajak Caramel ke apartemennya.


Raymond beralasan akan membawa Caramel untuk makan di tempat yang spesial. Caramel sudah menolaknya karena dia merasa sangat capek sehingga ingin langsung pulang. Namun bukan Raymond jika dia tidak bisa memaksa Caramel agar ikut dengannya.


Mata Caramel di tutup dengan sehelai kain ketika berada di dalam mobil. Caramel memberontak, namun percuma, Raymond tetaplah Raymond yang tak terbantahkan.


Setelah sampai di parkiran apartemennya, Raymond menuntun Caramel yang masih dengan mata tertutup.


Tit... tit... tii...


Bunyi password yang dimasukkan pada pintu apartemennya. Caramel membuka paksa kain penutup mata itu karena dia curiga jika dia dibawa oleh Raymond ke apartemennya.


Setelah pintu terbuka,

__ADS_1


"Taraaaaa...," suara seorang wanita dari dalam mengejutkan Caramel dan Raymond.


Wanita itu menggunakan kemeja putih milik Raymond yang kedodoran jika dipakainya.


__ADS_2