Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
37. Wanita ular yang berbisa


__ADS_3

"Berisik sekali," ucap Raymond tidak suka.


"Siapa sih sayang?" tanya Caramel yang makin mengeratkan pelukannya pada suaminya dan bergerak-gerak mencari posisi ternyaman.


"Entahlah, tapi menurutku wanita itu yang mengetuk pintu. Sudahlah kita kembali tidur saja," Raymond mempererat pelukannya pada tubuh istrinya.


Tok... tok... tok...


Bunyi suara pintu yang kembali di gedor.


"Chef... Chef... Chef Raymond... Chef...," teriak wanita di luar pintu kamar Raymond.


"S**t! Berisik sekali dia," kesal Raymond.


"Siapa sih sayang?" kini mata Caramel terbuka.


"Entahlah, harus diamankan orang seperti ini," ucap Raymond sembari mengambil ponsel di atas nakas.


"Halo, cepat amankan orang yang ada di depan kamar saya," perintah Raymond tegas dan penuh perintah.


"Apa kita gak sebaiknya membuka pintu dan melihat siap yang datang?" tanya Caramel penasaran.


"Tidak usah. Kalau dia memaksa masuk gimana? Orang gak sopan gak usah dikasih ati," ucap Raymond kesal.


Dan terdengar di luar sana Keamanan sedang memaksa seorang wanita untuk meninggalkan depan kamar Raymond. Wanita itu dipaksa oleh keamanan karena dia memberontak dan tidak mau meninggalkan tempat tersebut.


"Kalian pikir kalian siapa? Aku pacar Chef Raymond," teriak Nindi ketika dari luar kamar Chef Raymond.


"Anda bermimpi nona. Tuan Raymond sendiri yang menyuruh kami untuk mengusir anda," ucap salah satu pihak keamanan yang sedang berhadapan dengan Nindi.


"Kalian bohong. Dia tidak akan membiarkan aku kalian hina begini, karena aku mengandung anaknya!" teriak Nindi dari luar pintu kamar Raymond.


Samar-samar dari dalam kamar, Raymond dan Caramel mendengar Nindi mengatakan bahwa dirinya hamil. Sontak saja Caramel menjauhkan tubuhnya dari dekapan suaminya.


Raymond tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Memegang wanita lain saja dia tidak pernah, nah ini malah mengaku telah dihamili oleh Raymond, yang benar saja.


Raymond sadar bahwa dekapannya kosong dan dia menoleh ke arah istrinya, ternyata istrinya sudah menjauhinya.


Caramel menatap nanar Raymond, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar, sebab dia sangat percaya pada suaminya.


Sayangnya karena perasaan cintanya itu, Caramel menjadi cemburu meskipun itu tidak mungkin benar.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu menjauh?" Raymond mendekati Caramel, namun Caramel menghalaunya dengan telapak tangannya yang dia ajukan ke depan.


"Sayang...," ucap Raymond tidak percaya melihat istrinya yang tidak mau dia dekati.


Caramel menggeleng dan dengan tatapan mata penuh tanya dia meraih baju-bajunya memakainya dengan cepat.


"Sayang mau kemana?" tanya Raymond yang ikut memakai baju-bajunya.


"Apa yang dikatakan wanita itu benar?" tanya Caramel dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca.


Raymond menggeleng dan berjalan mendekati istrinya. Namun Caramel berjalan mundur seolah dia tidak mau didekati suaminya.


"Tidak benar sayang. Aku tidak pernah menyentuh wanita lain selain dirimu. Aku berani bersumpah demi apapun," Raymond mendekati istrinya sedikit demi sedikit.


"Bagaimana dia bisa dia-"


Raymond menutup bibir istrinya dengan bibirnya untuk menghentikan perkataan istrinya. Namun Caramel memberontak, dia memukul-mukul dada suaminya agar suaminya itu melepaskan ciumannya.


Setelah istrinya agak tenang, Raymond melepaskan ciumannya namun tetap tidak melepaskan pelukannya.


"Sayang dengarkan aku. Kamu tau bukan jika wanita itu tidur dengan banyak pria, jadi mana mungkin itu anakku. Lagi pula kapan aku bersamanya? Dari dul sejak pertama aku di sana bukannya kamu tau jika aku membencinya, aku tidak suka berdekatan bersamanya. Jadi bagaimana mungkin aku bisa menghamilinya?" Raymond menjelaskan dengan tenang agar istrinya bisa mendengarkannya tanpa emosi.


"Tapi dia-"


"Kamu percaya suamimu ini kan?" tanya Raymond dengan berjongkok di depan istrinya.


Caramel menatap intens kedua netra milik suaminya dan mengangguk. Dia memang tidak menangkap keraguan dan kebohongan dalam setiap perkataannya.


"Apa kita perlu ke sana?" tanya Caramel pada suaminya.


"Aku rasa tidak perlu. Biarkan saja pihak keamanan yang menanganinya," jawab Raymond.


"Tapi sayang, aku gak mau nama kamu tercemar karena fitnahnya," ucap Caramel memegang tangan suaminya.


"Tapi jika kita datang ke sana, dia merasa senang, karena tujuannya adalah mencari ku," Raymond tidak setuju dengan ucapan istrinya.


"Terus gimana?" tanya Caramel dengan nada khawatir.


"Ya udah biarin aja. Kita balik tidur aja yuk," Raymond berdiri dan naik ke atas ranjang.


"Enggak, aku gak akan biarkan dia memfitnah kamu. Aku harus menemuinya. Udah terlalu sering aku membiarkannya melakukan hal-hal yang membuatku malu," Caramel berdiri, hendak berjalan, namun tangan Raymond memegang tangannya untuk menghentikannya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana sayang? Udah biarkan aja dia, kita di sini untuk senang-senang," ucap Raymond.


"Tidak, aku tidak terima dia selalu mengganggu kita. Aku akan menemuinya. Kamu jangan sampai bertemu dengannya, agar dia tidak merasa berhasil memancing kita," Caramel berusaha melepaskan tangan suaminya.


"Sayang tunggu, oke... oke... aku akan antar kamu ke sana, tapi aku akan tunggu di luar. Oke?" ucap Raymond sambil berdiri.


Raymond menghubungi pihak keamanan untuk menanyakan perihal wanita yang membuat keramaian di depan kamarnya.


Kini Caramel berada di ruangan yang sama dengan Nindi. Dia menatap nyalang Nindi dengan penuh amarah. Sedangkan Nindi hanya tersenyum miring meremehkan Caramel.


"Apa sebenarnya tujuanmu mengatakan itu?" tanya Caramel dengan tidak mengalihkan perhatiannya pada Nindi.


"Tujuanku sangat jelas. Bodoh jika kamu tidak tau," Nindi masih dengan senyumnya yang membuat Caramel ingin menamparnya.


"Apa kamu tidak malu mengejar-ngejar pria yang jelas tidak menyukaimu?" tanya Caramel dengan nada meremehkan.


"Bukan aku yang seharusnya malu, karena kamu lah yang menikah dengannya hanya karena hartanya. Kamu ingin menaikkan strata sosialmu dengan menjeratnya agar dia bisa menikah denganmu," Nindi berbicara dengan santai seolah-olah dia mengatakan kebenaran.


"Jaga mulutmu. Aku tidak sepertimu yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan seorang pria yang bahkan tidak mau melihatmu. Sadarlah dan jauhi suamiku!" teriak Caramel tidak tahan dengan ocehan Nindi.


"Hahaha... kamu tidak tau saja jika Raymond sangat puas jika bersamaku," Nindi memancing kemarahan Caramel.


Dan benar saja, Caramel mendekat dan menampar keras pipi Nindi. Caramel mengerahkan semua tenaga dan kemarahannya untuk menampar Nindi.


Nindi pun tak tinggal diam. Dia membalas Caramel dan terjadilah jambak menjambak setelah tampar menampar pipi selesai.


Petugas keamanan yang berada di dalam ruangan tersebut kewalahan menangani mereka. Akhirnya petugas itupun keluar ruangan untuk memanggil Raymond.


Raymond segera berlari masuk ke dalam ruangan tersebut untuk memisahkan mereka. Raymond menarik tubuh istrinya dan petugas keamanan menarik tubuh Nindi.


Kemarahan Raymond memuncak ketika melihat rambut istrinya acak-acakan dan pipinya memerah dengan bekas tangan yang masih terlihat.


"Bawa wanita ini keluar dari hotel dan jangan ijinkan dia untuk masuk kesini selamanya!" teriak Raymond menginstruksikan pada pihak keamanan.


"Aku tidak akan membiarkanmu. Tunggu saja pembalasanku!" teriak Nindi saat dipaksa keluar oleh pihak keamanan.


Nindi tidak terima lagi-lagi diperlakukan seperti itu. Dia dilempar keluar hotel dan ternyata di sana masih ada banyak wartawan. Jadilah Nindi menjadi topik utama.


Dan sialnya dia begitu cerdik, hingga dia menceritakan bahwa dia ditampar, dipukul dan dijambak oleh Caramel hanya karena suaminya berbicara dengannya.


Dan saat itu juga berita yang dibuat Nindi menjadi viral seketika.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan Caramel?" suara Daddy Nathan membuat Caramel merinding.


__ADS_2