
Zayn masuk mengikuti Raymond dan Caramel. Baru satu langkah kaki Zayn melangkah, Zayn berbalik dan berlari ke arah Clara. Memeluk tubuh Clara dengan sangat erat.
"Sayang, kamu tunggu di sini dulu ya. Atau masuklah ke dalam mobil. Di luar dingin dan kamu pasti lelah jika harus berdiri di sini," ucap Zayn sambil memeluk tubuh Clara.
Setelah itu Zayn menuntun Clara untuk masuk ke dalam mobilnya. Zayn membukakan pintu mobil Clara dan menghalangi kepala Clara dengan tangannya agar tidak terbentur atap mobil. Persis seperti apa yang dilakukan Raymond pada Caramel.
Clara memperhatikan Zayn yang sangat tulus padanya. Dari situ Clara kembali tersadar jika memang Zayn sangat mencintainya. Dia tidak kalah dengan Raymond yang memperlakukan Caramel seperti seorang ratu. Zayn pun memperlakukan Clara sama seperti itu.
Clara menatap punggung Zayn yang mulai menjauh darinya. Ditatapnya punggung lebar itu dari dalam mobil. Dalam hati Clara sangat beruntung bisa dicintai seseorang seperti Zayn yang sangat mencintainya.
Clara menunggu Zayn yang kini masuk ke dalam rumah megah yang ada di depan Clara saat ini. Dia menatap nanar rumah tersebut karena dia mengerti keinginan kedua orang tuanya yang menginginkannya hidup mewah tanpa harus memikirkan nasibnya kelak.
Rumah dihadapannya ini memang sangat mewah dam megah, tidak mungkin ada orang yang tidak menginginkannya. Begitu juga dirinya yang ingin hidup mewah, nyaman dan berkelas. Namun entah karena hartanya atau karena diri Raymond yang diinginkan oleh Clara. Sekarang yang dibutuhkannya dan bayi yang ada di perutnya hanyalah seorang Zayn.
Mama... Papa... maafkan Clara. Clara janji akan menjadi yang terbaik untuk kalian, Clara berkata dalam hatinya disertai helaan nafasnya yang berat seberat hatinya meninggalkan kedua orang tuanya.
Di dalam rumah mewah yang megah itu, Raymond dan Caramel duduk di ruang tamu berdampingan dan di depan mereka duduklah Zayn yang merasa cemas meninggalkan kekasih hatinya sendirian di luar sana.
"Ada apa Zayn? Kenapa kamu bawa wanita itu ke rumahku? Kamu tau kan jika aku tidak menyukai kehadirannya?" Raymond bertanya pada Zayn dengan tegas.
Atmosfir dingin terasa di ruangan tersebut karena sikap Raymond yang berubah dingin menghadapi Zayn.
"Maaf Ray, aku hanya bingung dan butuh bantuanmu. Sedari tadi aku menghubungimu berkali-kali, tapi tidak pernah kamu angkat sekalipun," Zayn mendengus kesal pada Raymond.
"Ada perlu apa?" tanya Raymond dengan nada datar dan dingin.
"Clara gak mau aku pulangkan ke rumah orang tuanya. Aku bingung akan membawanya ke mana. Sedangkan dia harus banyak istirahat karena sedang hamil," Zayn memberitahukan permasalahannya.
"Kenapa tidak kau bawa ke hotel saja?" tanya Raymond pada Zayn masih dengan nada datar.
__ADS_1
"Clara gak mau Ray. Dia malah meminta tinggal di apartemenku," jawab Zayn dengan suara melemah.
"Lalu?" tanya Raymond tanpa ekspresi.
"Biarkan Clara tinggal di apartemenmu Ray," Zayn mengiba pada Raymond.
"No!" jawab Raymond dengan tegas.
"Tapi Ray, apa kamu tega dengan Clara yang sedang hamil?" Zayn mengiba kembali pada Raymond.
"Buat apa aku sibuk mengurusi wanita lain yang sedang hamil? Aku lebih sibuk dengan istriku sendiri yang sedang hamil anakku," jawab Raymond kini dengan senyum memandang wajah Caramel yang berada di sampingnya, dan tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan Caramel.
"Benarkah? Kamu hamil Ca?" Zayn terkesiap mendengar Caramel sedang hamil.
Caramel menganggukkan kepalanya dengan senyum manisnya yang mengembang. Reflek Zayn berdiri dengan tangan yang siap memeluk Caramel. Namun dengan sigap Raymond berdiri menghalangi Zayn mendekati Caramel. Mata Raymond melotot tajam membuat Zayn bergidik ngeri.
"Gak usah. Sana pikirkan istrimu yang sedang jadi buronan orang tuanya," Raymond berkata sinis pada Zayn.
"Hah, Buronan?" celetuk Zayn.
"Kamu tau jika orang tua Clara melaporkanku karena tidak mengakui anak yang sedang dikandungnya itu? Dan jika Clara tinggal di apartemenku, bukannya akan menjadi boomerang bagiku? Atau mungkin itu cara dia menjebakku?" Raymond mengatakannya pada Zayn dengan sangat kesal.
"Benarkah? Clara gak bilang apa-apa sama aku. Dan untuk ide menggunakan apartemenmu untuk tempat tinggal dia sementara itu ideku, bukan idenya dia. Clara malah meminta tinggal di apartemenku," Zayn membela Clara di hadapan Raymond.
"Ya sudah tinggal saja dengannya. Bukannya itu maunya dia? Lalu kenapa kamu harus memusingkan itu?" Raymond memberitahukan pemikirannya.
"Aku dan Clara belum menikah Ray. Nama Clara akan buruk jika kami tinggal bersama di luar nikah," Zayn menjawab pertanyaan Raymond.
"Malah kalian akan cepat dinikahkan kalau kalian tinggal bersama," jawab Raymond dengan entengnya.
__ADS_1
"Tapi Ray, kedua orang tua Clara belum menyetujui kami. Mereka masih mengharapkanmu menjadi menantunya," Zayn kembali bersedih mengingat kedua orang tua Clara yang tidak merestuinya.
"Biarkan saja mereka sekarang. Lama-lama juga mereka akan merestuimu. Sudahlah bawa wanita itu tinggal di apartemenmu saja. Tidak usah kamu pikirkan hal lainnya," Raymond memberikan solusi pada Zayn.
"Tapi-"
"Apa kamu mau dinikahkan dengan orang lain? Atau kamu mau jika dia terluka atau sakit seperti tadi?" Raymond memprovokasi Zayn.
"Tentu saja tidak. Aku gak mau sampai terjadi apa-apa dengan Clara," jawab Zayn.
"Pergilah. Ajaklah istrimu tinggal bersamamu. Kau telah menghabiskan waktu berhargaku bersama dengan istriku," ucap Raymond sambil berdiri dan mengajak Caramel untuk pergi dari ruang tamu.
Zayn menghela nafasnya berat dengan memandang Raymond dan Caramel yang meninggalkannya sendiri menaiki tangga menuju kamar mereka.
Zayn belajar banyak dari Raymond. Dia selalu melihat cara Raymond memperlakukan Caramel dengan sangat baik dan penuh dengan cinta. Zayn berharap nasib percintaannya dengan Clara bisa seperti Raymond dan Caramel yang bahagia dengan pernikahannya.
Clara keluar dari mobil ketika Zayn sudah berjalan mendekati mobil tersebut. Terlihat Zayn yang tersenyum seperti dipaksakan. Clara sadar jika dia hanya menambah beban Zayn. Bukan karena dia dan bayinya, melainkan karena kedua orang tuanya yang tidak merestui hubungan mereka berdua.
"Kamu gapapa Zayn? Ada apa? Apa Raymond memarahimu karena masalahku kemarin?" Clara melayangkan banyak pertanyaan pada Zayn.
Zayn tersenyum pada Clara dan memeluknya dengan erat untuk menyalurkan perasaannya pada Clara yang sedang mengandung anaknya. Kemudian dia mengurai pelukannya dan memandang wajah Clara dengan hangat.
"Kamu tau Caramel sedang hamil?" bukannya Zayn menjawab pertanyaan Clara, dia malah memberikan pertanyaan pada Clara.
"Apa Caramel hamil?" Clara bertanya kembali pada Zayn.
Zayn mengangguk dan memeluk kembali tubuh Clara dengan penuh perasaan.
"Sayang, pulang ke apartemenku yuk," ucap Zayn dengan senyumnya setelah mengurai pelukannya.
__ADS_1