Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
48. Pertengkaran kecil


__ADS_3

"Apa Pak, terluka? Kenapa?" tanya Caramel bingung, pasalnya suaminya dari tadi berada di kitchen, jadi terluka kenapa pikirnya.


"Itu, kamu lihat aja ke sana," suruh Pak Sarno padanya.


"Kok bisa?" tanya Caramel kembali.


"Aduh... kamu ini banyak pertanyaan sih. Udah sana samperin si bucin," ucap Pak Sarno sambil mendorong tubuh Caramel menuju ke arah kitchen.


Caramel berlari kecil menuju kitchen. Matanya menyusuri seluruh kitchen, dan dia menemukan suaminya, Chef Idolanya, Chef Raymond.


Caramel tersenyum melihat sosok yang dicarinya. Namun, ada yang berbeda dari wajah suaminya. Caramel mendekati Raymond yang sedang duduk dengan mengobati tangannya. Dia menolak untuk diobati orang lain.


Caramel mengambil alih obat yang ada di tangan Raymond, kemudian dia memberi plester jari Raymond yang hampir teriris, darahnya keluar terus menerus sehingga semua yang ada di kitchen panik.


Raymond hanya diam saja tidak merespon ataupun berbicara pada Caramel. Dia benar-benar mendiamkan fan mengacuhkan Caramel.


Caramel tahu jika ada yang tidak beres dengan suaminya. Dia berdiri dan mengambil kepala suaminya untuk di dekatkan dan disandarkan pada dadanya.


Siapa yang tidak luluh jika diperlakukan seperti ini? Raymond yang sangat cuek dan dingin pun akhirnya menyerah dengan perlakuan manis Caramel. Istrinya itu paling bisa menaklukan kemarahannya.


Tangan Raymond melingkar di pinggang Caramel dan dengan nyamannya kepalanya masih bersandar di dada istrinya.


Tangan Caramel tidak menganggur, tangannya mengusap lembut rambut suaminya untuk menyalurkan kasih sayangnya.


"Sayang, kenapa? Kok bisa tanganmu terluka? Tidak seperti Chef Raymond yang handal," Caramel bertanya dengan sangat lembut dan berhati-hati.


Raymond mendongakkan kepalanya sebentar, kemudian dia kembali pada posisinya semula untuk bersandar pada dada istrinya.


"Biarkan seperti ini dulu, aku butuh kamu," jawab Raymond dengan lebih mengeratkan tangannya yang berada di pinggang Caramel.


"Kenapa? Ada apa?" tanya Caramel kembali.


Raymond melepaskan tangannya dari pinggang Caramel dan berdiri dari duduknya, kemudian dia memegang tangan Caramel dan menariknya menuju kantor.


Di dalam ruangan kantor, Caramel di dudukkan Raymond, sepertinya dia akan disidang.

__ADS_1


"Kamu mau di sini atau ikut ke kitchen?" tanyanya tegas tanpa nada sayang dan lembut seperti biasanya.


Glek...


Caramel menelan ludahnya. Dia tahu jika suaminya kali ini dalam mode marah.


"Mmm..... bukannya kamu terluka? Apa harus kamu yang memasak?" tanya Caramel khawatir.


"Gimana lagi, aku kan orang yang profesional dan bertanggung jawab. Tidak seperti orang yang senang tebar pesona di luar sana dan sangat senang jika dikerubungi lawan jenisnya," sindir Raymond dengan melirik istrinya.


Caramel tidak bodoh, meskipun dia terlalu jujur sehingga dipikir lemot dan terlalu bodoh, tapi sebenarnya dia tidak bodoh mengenai hal semacam ini, dia tahu apa maksud dari perkataan suaminya.


Suaminya itu, Chef Raymond telah menyindirnya. Caramel memang tau kesalahannya, namun penyampaian Raymond lah yang membuat Caramel tidak suka dan kesal.


Caramel berdiri dari duduknya. Dia berjalan menuju pintu untuk keluar dari dalam kantor tersebut.


"Kamu mau kemana?" tanya Raymond kaget.


"Keluar. Mau tebar pesona. Siapa tau laku," ucap Caramel kesal.


Braaakk....


Raymond kaget dan melongo melihat istrinya yang balik memarahinya. Harusnya dia yang marah, kenapa jadi Caramel yang marah? Pikiran Raymond seperti itu.


Dan Raymond baru ingat kalimat terakhir yang diucapkan oleh Caramel adalah dia akan tebar pesona dan siapa tahu dia akan laku.


Segera Raymond berlari mencari sosok Caramel di manapun. Dimulainya di kitchen, restoran, bar, dan dia berlari keluar untuk mencari Caramel di seluruh sudut tempat permainan dan rekreasi keluarga.


Sialnya Raymond tidak menjumpai sosok istri ya di manapun. Dia jadi merasa bersalah dan sangat menyesal. Di samping itu Raymond tidak bisa membayangkan jika istrinya benar-benar dengan pria lain.


Membayangkannya saja dia tidak bisa, apalagi jika dia benar-benar melihatnya dekat dengan pria lain.


-Gudang Party room-


Raymond sekilas mendengar suara tangis seorang wanita. Sebenarnya dia tidak ingin menghampirinya, namun seperti ada yang menyuruhnya untuk masuk ke dala. gudang dan mencari keberadaan istrinya.

__ADS_1


Ternyata benar, Caramel duduk dipojokan ruangan gudang dan dia menangis di sana. Entah kenapa hatinya sesakit itu mendengar Raymond menuduhnya tebar pesona dengan lelaki lain.


"Apa serendah itu aku di matanya hingga dia mengatai aku serendah itu? Apa aku sudah tidak berarti di matanya? Apa itu berarti dia sudah tidak mencintaiku? Ya Tuhan... apa aku harus pergi darinya agar dia tidak terluka seperti tadi?" Caramel berucap di sela tangisnya dengan suara yang berat dan bergetar.


Dia tidak bisa mengatakan semua itu pada orang lain, karena dia tidak ingin mengumbar masalah keluarganya pada orang lain, meskipun itu orang tuanya sendiri. Dia hanya bisa mengatakannya pada dirinya sendiri.


Raymond mendengar suara hati Caramel yang dia gumamkan di ruangan yang sepi itu. Sebenarnya Raymond hanya ingin memberikan Caramel pelajaran saja. Dia ingin Caramel mengetahui jika dia tidak mau istrinya berdekatan dengan lelaki lain.


Padahal sudah berkali-kali Raymond mengatakannya, tapi entah mengapa Caramel masih saja melakukannya. Oleh sebab itu Raymond ingin memberikan pelajaran pada Caramel dengan mengacuhkannya.


Namun kini, malah Raymond sendiri yang kelabakan mencari keberadaan Caramel. Dia tidak ingin kehilangan istri tercintanya. Apalagi dia mendengar jika Caramel akan pergi darinya.


Tidak, ini tidak boleh terjadi. Dia salah paham, aku bukan terluka karena dia. Ini kesalahanku yang tidak bisa fokus dengan pekerjaanku, batin Raymond yang ingin mencegah kepergian Caramel.


Raymond berjalan mendekati Caramel. Tidak sesuai perkiraan Raymond yang seperti biasanya dia gampang meluluhkan hati Caramel. Kini Caramel segera berdiri dan menghapus air matanya ketika melihat suaminya mendekatinya.


"Sayang...," ucap Raymond dengan lembut seperti biasanya.


Caramel menggeleng dan kakinya bergerak menjauhi Raymond.


"Jangan mendekat!" teriak Caramel dengan suara yang tersendat.


"Sayang, ini aku, suamimu. Ayolah mendekat padaku," bujuk Raymond seraya mengulurkan tangannya ke depan Caramel.


"Enggak, aku gak mau menyakitimu. Lebih baik aku pergi menjauh darimu," air mata Caramel kembali menetes di pipinya.


"Enggak, aku gak akan ijinkan kamu pergi dariku. Kamu salah paham sayang. Ayo mendekatlah, nanti akan aku jelaskan," bujuk Raymond dengan sedikit demi sedikit mendekat dan mengulurkan tangannya ke depan Caramel.


Caramel tetap pada pendiriannya karena hatinya sangat sakit dituduh seperti itu oleh orang yang dicintainya.


Tanpa aba-aba, Caramel berlari keluar dari gudang dan Raymond kehilangan jejaknya. Caramel berlari begitu cepat karena dia memakai sneaker yang dapat menunjang pelariannya.


Raymond segera keluar dan mencari ke seluruh area tempat itu.


Oh God... apa aku harus mencarinya di seluruh area tempat ini? Tempat ini sangat luas, bisa-bisa aku kehilangan jejaknya, Raymond membatin dengan berlari dan matanya mengitari seluruh area tempat tersebut.

__ADS_1


Raymond memerintahkan beberapa keamanan dan bodyguardnya untuk berpencar mencari Caramel di setiap area. Namun sialnya mereka semua melaporkan bahwa Caramel tidak mereka temukan.


"Oh My God.... apa lagi ini?!"


__ADS_2