Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
77. Clara vs Vania


__ADS_3

Vania menunggu Zayn di mejanya sudah terlalu lama. Matanya mencari-cari keberadaan Zayn, namun sosok Zayn tidak ditemukannya. Hingga dia melihat Waitress yang melintas di hadapannya.


"Maaf, apa Zayn ada di dalam?" Vania menanyakan Zayn pada waitress tersebut.


"Maaf, saya kurang tau. Permisi," ucap waitress tersebut yang memang sedang sibuk melayani banyak tamu yang datang untuk makan di restoran tersebut.


"Ck, sombong sekali. Sama sekali tidak membantu. Apa mungkin dia juga tertarik pada Zayn? Mungkin saja, pantas dia tidak mau membantuku," Vania menggerutu selepas kepergian waitress tersebut.


Akhirnya Vania memutuskan untuk mencari Zayn ke dalam restoran. Dia masuk ke dalam restoran tanpa canggung dan dia tersenyum sangat manis sekali ketika melihat Raymond yang sedang minun di depan Bar dengan memakai baju Chef nya.


"Maaf, apa bisa saya bertanya?" ucap Vania dengan memasang senyum super manisnya ketika melihat Raymond.


Seketika Raymond dan Caramel menoleh ke arah sumber suara. Mereka saling menatap dan heran melihat wanita yang ditunjukkan oleh Zayn tadi tersenyum sangat manis hanya pada Raymond.


"Ada apa ya?" Caramel segera bergeser ke depan Raymond dan menjawab pertanyaan Vania.


Seketika senyum Vania hilang ketika Caramel berada di depan Raymond dan menjawab pertanyaan darinya.


Kemudian dia melayangkan pertanyaan kembali tanpa melihat wajah Caramel yang berada di depan Raymond. Vania tetap memandang Raymond dan bertanya padanya dengan senyum manis kembali terukir indah di bibirnya.


"Apa Zayn ada di sini?" tanya Vania pada Raymond dengan menebar senyum manisnya.


Caramel merasakan bau-bau tidak enak. Dia merasa wanita yang berada di depannya sedang menabuh genderang perang padanya dan ingn menggoda suaminya.


Dulu memang Caramel tidak mau memperjuangkan Raymond ketika ada banyak wanita gatal yang selalu menggoda Raymond karena dia masih belum menjadi istrinya. Namun kini, dialah istrinya, Caramel lah istri dari seorang Raymond Xavier, jadi dia bertekad untuk memerangi semua wanita yang berniat untuk menggoda untuk mendapatkan hati suaminya.


"Ada perlu apa ya mencari Zayn?" tanya Caramel dengan nada datar.


Lagi-lagi wanita ini. Kenapa harus dia yang menjawab? Siapa sebenarnya dia? Berani sekali dia menyelaku, Vania berkata dalam hatinya mencela Caramel.


"Saya sudah ada janji dengannya," ucap Vania ketus tanpa melihat Caramel.


Kurang ajar sekali dia berbicara padaku tapi tidak menatapku, Caramel mengomel dalam hatinya sambil menatap Vania tajam penuh permusuhan.

__ADS_1


"Diaaaaaaan....!" teriak Caramel memanggil seorang steward yang sedang berada di kitchen.


"Iya, ada apa Ca?" ucap Dian ketika sudah berada di dekat Caramel dengan berlari tergopoh-gopoh dari dalam kitchen.


Raymond menatap tajam Dian karena berani memanggil nama istrinya. Bolehlah dulu semua orang memanggil Caramel dengan nama panggilannya, tapi sekarang dia tidak mau jika mereka memanggilnya sama seperti dulu, karena Raymond ingin istrinya dihormati sehingga tidak ada yang bisa merendahkannya.


Dian merasakan hawa horor yang mencekam. Dia melirik ke depannya sampingnya yang merasa ada yang memperhatikannya, dan benarlah Raymond menatapnya dengan tatapan yang sangat ditakuti oleh semua orang yang bekerja dengannya.


Dian menundukkan kepalanya, tidak berani memandang Caramel ataupun Raymond.


"Tolong kamu panggilkan Zayn, ada orang yang mencarinya," ucap Caramel ketus tanpa melihat Dian, tatapan mata Caramel hanya berpusat pada Vania.


Sedangkan Vania sedari tadi hanya memandang Raymond tanpa sepengetahuan Raymond karena Raymond sibuk melihat Dian yang sudah berani memanggil Caramel sama seperti dulu sebelum Caramel menjadi istrinya.


"Sayang, Dian sedang sibuk," ucap Raymond.


Seketika Raymond menutup mulutnya tidak berani lagi berbicara ketika mendapat tatapan yang ditakutinya dari istrinya.


Dengan cepat Raymond menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Dian, cepat kamu panggil Zayn!" perintah Raymond dengan tegas.


Sayang? Apa dia pacarnya? Ish, menyebalkan. Harusnya pria seperti dia sangat cocok sekali denganku. Dengan apa wanita ini bisa menaklukannya? Vania berkata dalam hatinya menghina Caramel ketika melihat Raymond sangat patuh padanya.


Vania segera mengikuti Dian ketika Dian berjalan mencari keberadaan Zayn.


"Eh... eh mau kemana kamu? Tunggu saja di sini!" Caramel berteriak kesal melihat Vania tidak mengacuhkannya dan tetap berjalan di belakang Dian, mengikutinya untuk bertemu dengan Zayn.


"Sayang, sudahlah biarkan saja mereka," ucap Raymond sambil mendekap tubuh Caramel dari belakang.


"Tapi wanita itu akan ke kantor, di sana kan orang lain gak boleh masuk," ucap Caramel dengan kesal.


"Ada Zayn, biarkan aja. Jangan khawatir. Ok Cinta?" ucap Raymond menenangkan Caramel dengan membalikkan tubuh Caramel untuk menghadapnya dan tersenyum penuh cinta padanya.

__ADS_1


"Wanita membahayakan. Kenal di mana sih Zayn sama wanita modelan kayak gitu?" ucap Caramel yang masih sangat kesal dengannya.


"Kenapa sih Sayang... udah gak usah diurusi mereka. Biarin aja Zayn yang urus. Itu urusan dia, biar dia yang membereskannya," Raymond menatap dalam mata Caramel dengan tangan kanannya mengusap pipi Caramel dan tersenyum manis padanya.


"Tapi dia tadi sempat menggodamu," kini bibir Caramel mencebik kesal dan memajukan bibirnya.


Dengan segera Raymond.memajukan wajahnya dan mendaratkan bibirnya pada bibir Caramel serta me-lu-mat-nya. Hanya sebentar saja, sebab ada pengganggu yang membuat mereka yang lupa tempat karena kasmaran itu menjadi sadar di mana mereka kini berada.


"Ehemm...," deheman dari seseorang menyadarkan mereka.


"Ehem... cari tempat lain... ehem...," Revan menghentikan acara ciuman mereka dengan cara yang tidak biasa.


Untung saja saat itu jam tamu belum begitu ramai, dan kebanyakan tamu yang datang pada jam-jam seperti ini lebih memilih di restoran diluar yang berada dekat taman dan dekat kolam pemancingan. Karena tamu kebanyakan lebih suka nuansa outdoor dibanding indoor.


Di depan kantor, Dani yang mengantar Vania untuk bertemu dengan Zayn tiba-tiba berhenti. Dia melihat dan mendengar Zayn sedang beradu mulut dengan Clara.


"Pergilah, aku akan mengurusnya," ucap Vania sambil memberikan selembar uang lima puluh ribuan pada Dani yang baru saja diambilnya dari dompetnya.


"Tapi...," Dian menggantungkan ucapannya dan matanya melirik selembar uang lima puluh ribuan yang berada di tangan Vania.


"Cepat ambil. Aku akan mengurus mereka. Aku pacarnya Zayn," ucap Vania dengan tegas.


Seolah mendapatkan lampu hijau setelah mendengarkan bahwa wanita yang berada di depannya adalah pacar Zayn, Dian langsung menyahut selembar uang lima puluh ribuan itu dan berjalan dengan cepat meninggalkan Vania.


"Clara... aku-"


"Untuk apa kamu kesini?" tatap mata Clara menusuk tajam pada hati Zayn.


"Aku akan menjelaskan semuanya. Sebenarnya wanita tadi itu-"


"Zayn! Sayang... kamu lama sekali. Aku sudah menunggumu sedari tadi di sana sampai badanku capek semua," ucap Vania dengan sangat manja dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Zayn.


Clara menatap tajam Zayn dengan mata yang berkaca-kaca. Belum lama kemarahannya mereda karena Zayn mengejarnya dan akan menjelaskan tentang wanita itu padanya. Namun kemarahan itu semakin bertambah, Vania, si wanita manja itu bermanja-manja pada Zayn seolah mengatakan padanya bahwa Zayn adalah miliknya.

__ADS_1


__ADS_2