Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
57. Dasar Posesif!


__ADS_3

Clara malu, akhirnya dia keluar dari dalam kantor dengan wajah besungut kesal dan penuh amarah.


Untuk sekarang aku akan biarkan kamu tertawa senang karena merasa menang. Lihat saja nanti, pasti akan aku rebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku, Clara berbicara dalam hati ketika sudah berada di luar kantor sambil melihat kantor yang akan dia huni untuk kedepannya.


Caramel memperhatikan layar laptop yang menampilkan rekaman CCTV di dalam kantor yang diperlihatkan oleh Raymond agar Caramel tahu kejadian yang sebenarnya.


"Kamu percaya kan sekarang Sayang?" Raymond mendekatkan kursinya pada Caramel agar dia bisa memeluknya.


Namun sayangnya, Caramel malah menjauh darinya. Setiap Raymond mendekat, maka Caramel yang akan menjauh, begitulah seterusnya. Hingga Raymond menghela nafasnya panjang merasa frustasi karena usahanya sia-sia.


"Benar kan sayang, aku sama Clara gak ngapa-ngapain?" Raymond memberanikan dirinya untuk kembali bertanya pada Caramel yang sedang dalam singa betina mode on.


Caramel mengalihkan pandangannya dari layar laptop pada wajah Raymond. Caramel memandangnya lama, memang Caramel melihat adanya kejujuran dan ketulusan dari wajah Raymond, namun kekesalan Caramel tak bisa dihilangkan. Caramel masih belum bisa menerima jika suaminya terlalu dekat dengan wanita lain yang jelas-jelas menyukai suaminya.


"Sayang... ayolah, jangan marah lagi. Aku janji tidak akan berdekatan dengan Clara," Raymond kini kembali berlutut di hadapan Caramel yang sedang duduk.


Caramel hanya diam memandang wajah suaminya yang tak henti-hentinya meminta maaf padanya dan membujuknya agar tidak marah lagi padanya.


"Pulang yuk Sayang," Raymond meraih tangan Caramel, dan Caramel kembali menghempaskan tangan Raymond.


Caramel beranjak dari duduknya dan berjalan terlebih dahulu keluar dari kantor. Sebenarnya Caramel sudah memaafkan Raymond karena Caramel tahu jika Raymond memang tidak pernah berbohong padanya dan Caramel tahu pasti jika Raymond tidak akan bermain-main dengan wanita lain atau berselingkuh darinya.


"Perasaan kamu gak pernah kerja, main kejar-kejaran mulu dari kemarin-kemarin. Awas aja gajinya aku potong nanti," Caramel berlagak menjadi Bos pada Raymond.


Raymond tersenyum, dia tahu jika istrinya tidak bisa marah padanya terlalu lama, dan dia tahu jika istrinya itu berhati baik dan tidak tega pada orang lain. Itulah yang menambah rasa suka Raymond pada Caramel hingga menjadi cinta.


"Ampun Bu Bos. Habisnya kamu main lari-larian mulu, ya udah aku kejar aja dari pada hilang diambil orang," jawab Raymond dan karena pembicaraan mereka yang sudah seperti biasanya, Raymond memberanikan dirinya untuk merangkul pundak istrinya.


"Emangnya barang bisa ilang," ucap Caramel kesal karena disamakan dengan barang.


"Bukan barang, tapi wanitaku yang terlalu berharga, jadi tidak boleh sampai hilang ataupun diambil orang," jawab Raymond membela dirinya.


Hati Caramel serasa berbunga-bunga mendengar jawaban dari Raymond yang menyebutkan dirinya sangat berharga bagi Raymond. Senyum Caramel merekah, namun ditahannya karena dia sedang ingin memberikan pelajaran pada suaminya.


Emangnya kamu aja yang bisa marah karena cemburu aku dekat dengan laki-laki lain, aku juga bisa marah seperti kamu, rasain dan nikmatin itu! Caramel tersenyum dalam hati mengingat rencana pembalasannya pada Raymond.


"Dasar posesif!" ucap Caramel menanggapi jawaban dari Raymond.


Raymond sangat senang mendengar Caramel mengatainya posesif, bukan karena dia bangga, hanya saja dia senang karena istrinya tahu jika memang Raymond posesif padanya karena terlalu mencintainya dan tidak ingin kehilangannya.

__ADS_1


"Cieee udah baikan nih?" sindir Zayn ketika melihat Raymond merangkul pundak Caramel.


Seketika tangan Raymond yang berada di pundak Caramel pindah ke pinggang Caramel dan mengeratkannya, sehingga tubuh Caramel menempel tidak berjarak dengan tubuh Raymond.


"Iiish... tangannya... lepasin... lepasin gak?" Caramel memukul-mukul tangan Raymond yang bertengger dengan indahnya di pinggang Caramel.


Raymond menatap Caramel dan menyuguhkan senyum lebarnya yang memperlihatkan deretan giginya. Namun dibalas pelototan mata Caramel yang sangat tajam.


"Hahahaha....," Zayn tertawa terpingkal-pingkal melihat pasangan suami istri yang unik dan kocak menurutnya, yang lebih disukai Zayn adalah mereka suka main lari-larian dan kejar-kejaran.


Kini mata Raymond berpindah pada Zayn. Dan seketika tawa Zayn berhenti karena mendapatkan tatapan mata dari Raymond yang beraura pembunuh.


"Yuk Sayang pulang, biar gak dirusuhi makhluk jomblo ini," Raymond menarik tubuh Caramel yang pinggangnya masih terdapat tangan Raymond.


"Enak aja ngatain orang, gini-gini aku lebih ganteng daripada kamu, cuma sayang aja si Caramel yang matanya agak kabur, jadi milihnya kamu," seru Zayn tidak terima mengiringi langkah kaki Raymond dan Caramel menuju mobil Raymond.


Sayangnya seruan Zayn tidak digubris sama sekali oleh Raymond. Kali ini Raymond lebih memilih pulang dan menaklukan kembali hati Caramel daripada meladeni Zayn yang tidak habisnya jika berdebat dengannya.


Di dalam mobil, Caramel sibuk mengaca pada kaca spion mobil. Dia berulang kali mengedip-ngedipkan matanya dan jari tangannya maraba-raba sekitar matanya.


"Kenapa Sayang?" tanya Raymond heran karena melihat Caramel seperti itu.


"Cuma ngecek aja beneran gak apa kata Zayn tadi. Kali aja mataku bermasalah," jawab Caramel yang masih melakukan aktifitasnya di depan kaca.


Raymond mengusap lembut rambut Caramel sambil tertawa, kemudian masih dengan tawanya Raymond mengacak gemas rambut Caramel karena masih saja berkaca. Caramel kesal rambutnya diacak-acak oleh Raymond. Melihat wajah kesal istrinya itu, Raymond yang masih belum berhenti tertawanya memeluk erat tubuh Caramel yang bibirnya sudah manyun ke depan.


Caramel mencoba melepaskan pelukan Raymond namun pelukannya semakin erat. Karena Caramel masih dalam mode kesal, dia tidak ingin disentuh oleh Raymond. Semakin Caramel berontak minta dilepas, semakin erat pelukan Raymond, hingga akhirnya Caramel menyerah. Caramel membiarkan saja tubuhnya di peluk oleh Raymond sampai akhirnya dilepaskan dengan sendirinya.


Melihat Caramel yang semakin kesal dan dian saja, Raymond kembali meminta maaf meskipun diacuhkan oleh Caramel. Raymond melajukan mobilnya dengan lantunan kata maaf di setiap perjalanan dari restoran hingga rumah mereka.


Jujur saja Caramel sangat senang dalam hatinya melihat suaminya benar-benar punya niatan kuat untuk meminta maaf padanya. Namun Caramel harus mementingkan gengsinya untuk memberikan pelajaran pada Raymond kaki ini.


Lihat aja, aku gak akan dengan mudahnya memaafkanmu suamiku, hahahaha.... Caramel berbicara dalam hati disertai tawanya.


Sesampainya di rumah mereka, Caramel langsung turun begitu saja tanpa menunggu dibukakan pintu oleh Raymond seperti biasanya.


Caramel langsung menuju kamarnya dan berganti dress ketat yang seksi untuk menyiksa suaminya karena dia akan menolak jika suaminya meminta haknya. Memang sengaja Caramel tidak memakai lingerie karena akan terlalu kentara jika dia memancing hasrat suaminya.


Raymond masuk kamar dan matanya dimanjakan oleh lekuk tubuh seksi istrinya dengan warna kulit yang putih bersih, sangat cantik di mata Raymond.

__ADS_1


"Sayang....," Raymond mendekat dengan senyum senang dan mata lapar yang ingin menerkam sesuatu di depannya.


Namun jauh dari bayangan Raymond. Semuanya buyar karena Caramel menolak untuk didekati.


"Ngapain dekat-dekat? Sana tidur di luar, aku mau tidur sendiri," Caramel sengaja berlama-lama berada di depan cermin dengan pose yang sangat menggoda hingga membuat sesuatu di dalam celana Raymond sesak.


"Kok tidur di luar sih Yang, di dalam aja ya berdua kayak biasanya, nanti kamu gak ada yang meluk loh, pasti kedinginan," Raymond membujuk Caramel layaknya membujuk anak kecil dengan mainan, permen ataupun coklat.


"Gapapa kedinginan daripada tidur sama buaya macam kamu," Caramel merebahkan tubuhnya di atas ranjang hingga membuat Raymond semakin tersiksa karena tubuh Caramel yang semakin menggoda tidak tertutup oleh selimut.


Raymond ikut merebahkan tubuhnya di samping Caramel. Namun Caramel segera duduk.


"Kamu atau aku yang tidur di luar?" tanya Caramel dengan tegas.


Raymond menggeleng tidak mau memilih kedua pilihan yang diajukan oleh Caramel.


"Atau aku ke apartemen saja biar bisa bertemu dengan Zayn?" Caramel tersenyum licik menatap Raymond.


Seketika Raymond terbangun dan pergi keluar kamar dengan perasaan kesal. Lebih baik dia daja yang mengalah daripada Caramel pergi ke apartemen dan bertemu dengan Zayn.


Raymond berada di sofa besar ruang menonton TV yang berada di depan kamarnya. Sofa itu memang sangat besar, sehingga bisa muat untuk tidur. Malahan Raymond dan Caramel sering tidur berdua di sofa tersebut sambil menonton TV.


Raymond menonton TV hingga ketiduran dan TV dibiarkan menyala begitu saja. Mungkin karena terlalu kelelahan dan saking kesalnya Raymond hingga tertidur tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu.


Caramel cemas di dalam kamarnya. Dia berbolak balik menghadap ke kanan dan ke kiri namun sama saja, dia tidak bisa tidur tanpa didekap ataupun dipeluk oleh suaminya.


Ternyata sekarang Caramel kecanduan tidur bersama Raymond. Begitupula Raymond yang tidak bisa tidur jika tidak membawa Caramel dalam pelukannya. Itu terbukti pada saat Caramel menghilang waktu itu yang bersembunyi di apartemen Raymond.


Kegelisahan Raymond membuatnya tidak bisa tidur dan kecanduannya mendekap, memeluk dan mereguk madu dalam bibir dan tubuh Caramel membuatnya tidak bisa tidur ataupun jauh dari Caramel.


Caramel keluar dari kamar dan dia tersenyum melihat Raymond yang tertidur di sofa. Karena masih gengsi, Caramel tidak mau membangunkan Raymond, namun Caramel malah ikut bergabung dengan Raymond tidur di samping Raymond dan menaruh tangan Raymond di pinggangnya.


Tengah malam, Raymond terbangun karena merasa tangannya keram tidak bisa bergerak dengan bebas. Matanya terbelalak dan senyumnya mengembang ketika mendapati Caramel tertidur disampingnya.


Karena tidak bisa menahan kesenangan dan kerinduannya, Raymond mengecup sekilas bibir Caramel dan itu membuat mata Caramel terbuka.


"Ngapain Sayang pindah ke sini, gak bisa tidur ya kalau gak dipeluk suamimu ini?" sindir Raymond yang berniat menggoda Caramel.


Caramel benar-benar malu, dia sendiri yang mengusir suaminya tidur di luar, dan kini malah dia sendiri yang menghampiri suaminya untuk tidur disampingnya.

__ADS_1


Melihat istrinya yang diam saja dan terlihat malu, Raymond segera mengangkat tubuh istrinya untuk masuk ke dalam kamar.


"Eh... eh... eh... mau ke mana ini? Ngapain?" tanya Caramel bingung ketika merasakan tubuhnya melayang dan sudah berada di dalam gendongan suaminya.


__ADS_2