Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
76. Mulai mengenal cemburu


__ADS_3

Zayn berhasil lepas dari Vania karena Zayn membuat alasan yang tidak bisa dihindari lagi oleh Vania. Vania terpaksa mengijinkan Zayn pergi tidak menemaninya makan malam di restoran itu, namun dia meminta Zayn untuk menemuinya nanti ketika pekerjaannya sudah selesai.


Zayn berjalan menuju meja kasir yang berbatasan dengan bar dan pintu kitchen. Zayn melihat Clara yang sedang melihat form event dan party di meja kasir. Dan Zayn berada di depan bar untuk meminta minuman dingin pada bartender yang bertugas.


Sedangkan Raymond menggandeng Caramel menghampiri Zayn untuk meminta dibuatkan minuman dingin juga seperti Zayn pada bartender yang ada di situ.


"Ray, apa aku boleh libur beberapa hari? Vania mengajakku liburan bersama di Bali," ucap Zayn sengaja mengatakannya pada Raymond ketika melihat Clara berada di dekat mereka.


"Vania? Siapa?" tanya Caramel yang memang jahil jika sedang bersama Zayn.


"Tuh...," ucap Zayn sambil mengarahkan dagunya ke arah Vania berada.


"Wanita yang sedang makan itu?" tanya Caramel kembali.


"Iya, dia ngajak liburan berdua ke Bali. Apa boleh?" tanya Zayn sambil melihat ke arah Clara yang sok sibuk dengan kertas-kertasnya, namun Zayn yakin jika Clara mendengarkannya.


"Mau bikin cemburu?" bisik Raymond di telinga Zayn.


Zayn pun tersenyum lebar seolah dia ketahuan sedang melakukan sesuatu. Sedangkan Caramel menggerak-gerakkan lengan Raymond ingin mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.


"Ehem... terserah kamu saja Zayn, yang penting kamu kembali dengan selamat. Atau mungkin sekalian kamu akan mengadakan pesta pernikahan di sana?" Raymond mengikuti rencana Zayn untuk membantunya membuat Clara cemburu.


"Itu sih tergantung nanti Ray, kalau wanita yang selama ini aku tunggu tidak mau menerimaku, ya... bagaimana lagi, terima saja yang ada, toh dia juga tidak jelek, dan dari keluarga baik-baik," ucap Zayn yang masih melirik ke arah Clara.


"Memangnya wanita yang kamu cintai kenapa Zayn?" tanya Caramel yang ingin sekali tahu tentang wanita yang dicintai oleh Zayn.


"Aku gagal menjaga kehormatannya, tapi aku senang karena aku lah yang pertama kali bersamanya melakukan itu," ucap Zayn yang langsung memberikan ciri-ciri wanita yang dicintainya.


"Zayn... kamu... bukannya kamu semalam dengan-"


"Ini aku bawa," ucap Clara sambil memperlihatkan form event dan party yang ada di tangannya.

__ADS_1


Suara Clara yang sengaja dibesarkan membuat Caramel menghentikan ucapannya. Dengan lantangnya Zayn mengatakan sesuatu agar Clara mendengarnya.


"Aku mencintainya sejak dulu, dan semalam itulah kesempatanku untuk memilikinya."


Caramel melongo mendengar teriakan Zayn. Beruntung Vania sedang makan di restoran outdoor, jadi dia tidak mendengar teriakan dari Zayn yang berada di dalam restoran. Sedangkan Clara, sudah bisa dipastikan dia bisa mendengarnya. Zayn tersenyum, dia tahu jika Clara mendengarnya dan mengerti akan perasaannya yang sudah sejak dulu untuknya.


"Sayang, apa Zayn benar-benar sehat?" Caramel berjinjit dan meraih pundak Raymond untuk bisa berbisik di telinga Raymond.


"Agak gila dia. Sepertinya cintanya ditolak," bisik Raymond di telinga Caramel.


Karena Caramel terlanjur ingin tahu, maka dia menanyakannya pada Zayn yang sedang meminum minumannya yang tadi sempat dia pesan pada bartender.


"Zayn, apa cintamu ditolak?" tanya Kiki penasaran.


Uhuk...


Zayn tersedak minumannya mendengar pertanyaan dari Caramel.


"Aku," jawab Caramel dengan wajah tidak berdosa.


Zayn menoleh pada Caramel dan wajahnya penuh dengan pertanyaan. Dan Raymond menatap Caramel menunggu penjelasan dari ucapannya itu.


"Aku, aku pernah menolakmu kan pada saat kamu mengajakku ke hotel," ucap Caramel dengan entengnya.


"Oh it-itu... itu karena.. kenapa kamu masih mengingatnya Ca? Itu kan dulu sebelum kamu menjadi milik Raymond," ucap Zayn sambil mengaduk-aduk minumannya.


"Jadi kamu ada niatan untuk meniduri istriku?" tanya Raymond sambil mendekati Zayn dan membuat Zayn menjadi panas dingin.


"Dulu sebelum jadi istrimu Ray. Lagian lelaki mana yang tidak tertarik dengan istrimu yang bentukannya suit... suit...," ucap Zayn sembari menunjuk Caramel dan bersiul di akhir ucapannya.


"Sialan kamu Zayn," Raymond meraih kerah baju Zayn dan posisi tangannya yang mengepal sudah dekat dengan kepala Zayn.

__ADS_1


Zayn hanya diam saja karena percuma saja dia tidak akan bisa melawan Raymond yang jago dalam bidang apa saja.


Caramel menghentikan tangan Raymond yang hendak melayangkan tinjunya pada Zayn. Caramel menggeleng dan berjinjit untuk membisikkan sesuatu pada Raymond.


"Aku mencintaimu, hanya kamu yang bisa menyentuhku. Percayalah Sayangku.... cintaku..."


Bisikkan kata-kata Caramel itu mampu membuat kemarahan Raymond reda seketika. Dilepaskannya kerah Zayn dan dengan seketika Raymond memeluk tubuh Caramel dengan sangat erat dan menciumi rambutnya.


"Ck, bucin!" seru Zayn melihat Raymond yang sebegitu cintanya pada istrinya.


Raymond kembali melayangkan tatapan tajamnya pada Zayn dan seketika Zayn menjadi tersenyum lebar agar Raymond tidak lagi marah padanya.


"Cepat kejar cintamu, atau kamu akan menyesal jika kehilangannya," kata-kata ini membuat Zayn terperangah, karena tidak pernah sekalipun Raymond memberikan petuah ataupun nasihat padanya seperti sekarang ini.


"Tunggu apalagi Zayn... buruan, kejar sana kalau kamu memang benar-benar mencintainya," kini Caramel yang menyadarkan Zayn agar mengejar cintanya.


Zayn bingung, dia masih terdiam di tempatnya. Dia hanya bingung, karena memang dari dalam hati kecilnya dia ingin sekali memperjuangkan cintanya itu, namun wanita yang dicintainya melarangnya untuk mendekatinya. Zayn jadi bimbang dan dilema.


"Zayn, harusnya cinta itu dikejar bukan untuk dijauhi," perkataan Caramel yang ini seolah menjadi jawaban untuk kebimbangannya.


Seketika Zayn berjalan cepat menuju kantor setelah mendengar ucapan dari Caramel. Raymond tersenyum melihat Zayn yang ternyata sangat mencintai Clara, dan Revan sedari tadi hany mendengarkan dan mengira-ira apa yang sedang terjadi.


Di dalam kantor Clara merasa sangat kesal dan marah. Entah karena apa dan pada siapa dia marah, dia sendiri pun tidak mengerti. Beberapa map tebal yang ada di tangannya di bantingnya ke meja hingga menimbulkan suara yang keras. Bahkan beberapa map di mejanya menjadi korban untuk pelampiasan kemarahannya.


Zayn melihat dari kaca dan tentu saja dia mendengar dengan jelas apa yang terjadi karena pintu ruangan kantor sedikit terbuka. Sepertinya tadi pada saat Clara masuk dan membanting pintu ruangan kantor itu tidak menutup dengan sempurna.


"Ba-ji-ngan.... ba-ji-ngan... ba-ji-ngan.... ," teriak Clara mengumpat seseorang, dan Zayn yakin orang itu adalah dirinya.


"Beraninya kamu mempermainkanku! Sialan!" umpatan-umpatan Clara membuat Zayn tersenyum karena Zayn tahu sebenarnya Clara ada rasa padanya, hanya saja Clara menolak mengetahuinya.


"Clara... aku-"

__ADS_1


"Untuk apa kamu kesini?" tatap mata Clara menusuk tajam pada hati Zayn.


__ADS_2