
Melihat kesungguhan pria yang sedang berlutut dihadapannya, Ayah Caramel menjadi sedikit luluh. Dia persilahkan semuanya masuk ke ruang tamu dan meminta Raymond untuk menjelaskan semuanya yang terjadi tadi.
Raymond menjelaskan semuanya dibantu oleh Daddy-nya karena Daddy Nathan merasa bersalah telah mengijinkan Arabelle ikut dengan mereka tadi.
Mommy Grace menggenggam tangan Caramel yang berada di pangkuannya dan memberikan senyuman untuk menguatkan Caramel dan memberitahukan bahwa Mommy Grace mendukungnya.
Ayah bertanya kembali pada Ibu dan Caramel karena Ayah tidak bisa memutuskannya sendiri, apakah dia akan menerima lamaran dari Raymond atau dia menolaknya.
Raymond menatap penuh harap pada Caramel dan Mommy Grace pun mengiba melalui pandangan matanya dan ekspresi wajahnya.
Entah kenapa Caramel pun mengangguk menandakan jika iya menerima lamaran dari Raymond. Entah karena Caramel orang yang tidak tegaan atau karena Caramel memang mencintai Raymond, anggukan Caramel itu membuat Raymond teramat senang.
Hari itu juga dia akan mempersiapkan pernikahannya meskipun dari pihak Caramel belum menentukan tanggal pernikahannya.
Hari berganti hari namun dirasa Raymond pergantian hari begitu lambat. Raymond tidak sabar menantikan hari pernikahannya. Padahal pertunangannya saja baru dilakukan semalam di rumah Caramel.
Sebenarnya keluarga Raymond meminta agar acara pertunangan tersebut diadakan di Hotel berbintang lima milik Daddy Nathan yang tentu saja akan diwariskan pada Raymond. Namun keluarga Caramel menolaknya, dengan alasan karena cuma pertunangan saja. Jika acara pernikahan mereka mengijinkan diadakan di hotel mewah, karena mereka bahagia jika melihat putrinya menikah dengan acara yang begitu mewah.
Tidak ada yang tahu jika Raymond dan Caramel telah bertunangan karena Caramel ingin jika semua orang di tempat kerjanya tidak tahu. Biarlah nanti mereka di undang secara mendadak ketika mereka menikah.
Hal itu karena Caramel tidak ingin jika ada Arabelle lain yang merusak pernikahan mereka. Seperti halnya Nindi yang semakin hari semakin gencar mendekati Raymond meskipun penolakan bahkan hinaan yang dia terima.
Zayn selalu menjaga mereka dari jauh, sehingga Raymond dan Caramel tidak tahu jika Zayn selalu mengawasi mereka dan menjauhkan orang-orang yang membahayakan hubungan mereka dari jauh.
Seperti halnya sekarang. Zayn menjadi tumbal Raymond. Dia sekarang sedang makan bersama dengan Nindi karena Nindi membuntuti Raymond yang sedang pulang ke apartemennya.
Zayn menghadang Nindi untuk mengajaknya makan, padahal Nindi sedang berada di wilayah apartemen Raymond. Nindi ingin datang langsung ke apartemen Raymond karena menurut Nindi Raymond malu jika bersamanya di tempat kerja.
Alamak apes sekali aku bisa makan malam bareng wanita macam dia. Memang benar pilihan Raymond, mending Caramel kemana-mana daripada wanita ini.
"Kenapa gak di makan Zayn?" tanya Nindi manja.
"Gapapa kok, ini juga mau makan," jawab Zayn sambil tersenyum.
"Kamu kok bisa tahu kalau aku disini? Jangan-jangan... kamu memang buntuti aku ya?" tanya Nindi masih dengan nada manja yang dibuat-buat.
Sungguh nafsu makan Zayn rusak karena mendengar suara manja yang dikeluarkan oleh Nindi.
Zayn hanya tersenyum, tidak ingin menjawab pertanyaan Nindi. Dia terlalu malas menghadapi wanita yang mau menyerahkan semuanya pada lelaki demi tujuannya seperti Nindi ini.
"Zayn, apa kamu menyukaiku?" tanya Nindi tiba-tiba.
"Uhuk...," Zayn tersedak mendengar pertanyaan dari Nindi.
Cepat-cepat Zayn meraih gelas yang berisikan air putih disampingnya. Zayn meminum perlahan air putih itu sampai habis agar rasa sakit akibat dari tersedak tadi di hidung dan tenggorokannya bisa reda.
__ADS_1
"Zayn, kamu gapapa?" tanya Nindi khawatir dengan berdiri hendak mendekat pada Zayn.
Namun Zayn memberi larangan lewat tangannya yang terulur ke depan agar Nindi tetap berada di tempatnya.
Nindi pun kembali duduk dan meneruskan makannya. Zayn meraih dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang dan menaruhnya di bawah piringnya. Dia berencana untuk pergi terlebih dahulu.
Nindi mengerti bahwa Zayn akan pergi, jadi dia juga bersiap untuk pergi dari restauran tersebut. Nindi meraih minumannya dan meneguknya dengan cepat karena kini Zayn sudah berjalan beberapa langkah meninggalkan Nindi.
"Zayn... tunggu...," Nindi meraih lengan Zayn dan menggandengnya.
Zayn risih dengan sikap Nindi, dia melepaskan tangan Nindi, namun Nindi meraihnya kembali sehingga Zayn merasa malu dengan orang-orang yang melihat mereka.
Zayn memesankan taksi untuk Nindi, namun ketika taksi itu datang Nindi tidak mau pulang menggunakan taksi. Nindi ingin pulang diantar oleh Zayn menggunakan mobil mewah miliknya dan sebelumnya dia mengatakan pada Zayn jika dia ingin berbelanja di Mall.
Sungguh Zayn kesal dan ingin berteriak. Dia sangat marah pada dirinya yang dengan sengaja melemparkan dirinya pada lintah yang bisa menghisap darahnya.
Zayn beralasan jika dia tiba-tiba kurang sehat, namun diluar dugaannya, Nindi dengan senang hati ingin ikut Zayn ke rumahnya dan merawatnya, tak masalah jika dia akan menginap.
Demi apapun Zayn rasanya ingin mengumpat di depan wanita tersebut. Dia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya menolak dengan halus wanita macam Nindi. Dia jadi berpikir, apakah dia harus berlaku kasar pada Nindi seperti yang dilakukan oleh Raymond si saudara sepupunya itu.
Akhirnya, Zayn menyerah dan membiarkan Nindi naik kedalam mobilnya untuk mengantarnya pulang.
Di perjalanan Nindi memprotes karena Mall yang dia ingin kunjungi hanya dilewati saja oleh Zayn padahal sebelumnya Nindi sudah memberitahunya bahwa dia ingin pergi ke Mall itu. Nindi merengek di sepanjang perjalanan. Dia melakukan segala cara agar Zayn memenuhi permintaannya hingga dia merayu dan menggoda Zayn ketika fokus menyetir.
Sungguh Zayn dalam hati berteriak jika dia tidak akan tergoda oleh Nindi meskipun dia tanpa busana sekalipun. Namun semua itu ditahannya demi kelangsungan hidupnya, dia meredam emosinya dsn fokus pada jalanan.
Sungguh Zayn sangat terkejut dengan apa yang dia sentuh sehingga mobil yang dia kendarai sedikit oleng, untung saja mereka sedang melintas di jalanan yang sepi sehingga tidak terlalu ramai orang yang melewati jalanan tersebut.
Zayn segera menarik tangannya dari tubuh Nindi dan kembali mengendalikan setir mobilnya dengan dua tangannya.
Setelah mobilnya stabil, Zayn berhenti di pinggiran jalan dan menyuruh Nindi keluar. Nindi merengek manja tidak mau keluar dari mobil sehingga membuat kemarahan Zayn memuncak.
Zayn keluar dari mobilnya, kemudian dia membuka pintu mobil Nindi dan menyeretnya keluar. Tentu saja Nindi memberontak dan tidak mau, sehingga Zayn membentaknya dan menariknya untuk menjauh dari mobilnya.
Nindi ditinggalkan Zayn di jalanan yang tergolong sepi namun masih ada pemakai jalan yang lewat di sana. Untung saja tadi pada saat Zayn menarik paksa keluar Nindi dari mobilnya tidak ada pengendara yang lewat, sehingga bisa dibilang lancar tanpa gangguan.
Caramel disibukkan dengan persiapan pernikahannya dengan Raymond. Namun bukan hanya mereka berdua saja yang sibuk karena tentunya Mommy Grace yang sangat antusias untuk menyiapkan semuanya, sehingga Caramel diajak Mommy Grace mempersiapkan badan dan penampilannya di tempat yang biasanya dikunjungi oleh Mommy Grace.
Raymond harus mengalah dengan Mommy Grace yang menyita seharian waktu Caramel sehingga dia tidak bisa bertemu dengannya.
Raymond mencari cara agar dia bisa bertemu dengan calon istrinya, karena sedari tadi dia tidak mendapatkan pesan balasan ataupun jawaban dari semua panggilan teleponnya.
Raymond benar-benar seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Dia bertanya pada bodyguard Mommy Grace lokasi mereka berada.
Dengan modal kenekatan dan rindunya pada calon istrinya, Raymond mendatangi tempat tersebut untuk bertemu dengan gadis pemilik hatinya. Namun, pada saat Raymond akan turun dari mobil, Mommy Grace dan Caramel malah naik ke mobil mereka, entah akan kemana lagi Mommy Grace akan membawa Caramel.
__ADS_1
Raymond mendengus kesal dan memukul setirnya merasa dipermainkan oleh Mommy-nya sendiri. Dia mengikuti mobil Mommy-nya dari belakang.
Dan Raymond tersenyum ketika mendapati mobil Mommy-nya masuk ke dalam halaman rumah mereka.
Dengan santai dan senyumnya yang mengembang Raymond merangkul pundak Caramel ketika Caramel berjalan masuk ke dalam rumah.
"Chef..." kaget Caramel ketika pundaknya dirangkul oleh Raymond.
Raymond tersenyum manis menjawab kekagetan yang dilontarkan oleh Caramel.
"Kok bisa disini? Apa Chef udah dihubungi Mommy?" tanya heran Caramel.
Raymond menggeleng dan berbisik pada telinga kiri Caramel,
"Aku tau kemanapun kamu pergi."
"Gimana gak tau, orang dia ngikuti kita dari tadi," sahut Mommy Grace dengan santainya sambil berlalu masuk meninggalkan pasangan yang akan menikah.
Caramel memukul pundak Raymond karena merasa malu dengan sikap Raymond yang kekanak-kanakan. Pasalnya tadi Mommy Grace lah yang menyuruh Caramel mengabaikan pesan dan panggilan dari Raymond, dan sekarang Raymond malah ketahuan Mommy Grace mengikuti mereka.
Mereka berempat makan malam bersama. Daddy Nathan dan Mommy Grace sangat senang karena sudah sekian lama tidak makan dengan putranya yang sedang berbahagia sekarang ini. Berbeda dengan makan malam waktu itu pada saat ada Arabelle, jelas berbeda suasananya.
Tiba-tiba Zayn masuk dengan muka marah dan mencuci tangannya berkali-lali dengan sabun di wastafel. Kemudian Zayn bergabung dengan keluarga Raymond untuk makan.
"Zayn ada apa, sepertinya kamu marah sekali?" tanya Mommy Grace pada Zayn.
"Tante, aku benci sekali dengan Nindi," jawab Zayn masih dengan amarahnya.
"Nindi? kenapa? Coba kamu ceritakan," tanya Mommy Grace ingin tahu.
Zayn menceritakan semua yang terjadi mulai dari dia yang menghadang Nindi untuk mengikuti Raymond ke apartemennya hingga dia menurunkan paksa Nindi di jalanan yang sepi.
Raymond menertawakan Zayn yang tertimpa kesialan menurutnya.
"Zayn, jangan lupa kamu sterilkan dulu itu tangan kamu. Hahahaha..," Raymond tertawa mengejek Zayn yang bertambah kesal hingga tawanya hilang pada saat dia keluar rumah untuk mengantar Caramel pulang.
Di saat Caramel diantar pulang oleh Raymond, dia mendengarkan begitu banyak rencana Raymond untuk rencana hidup mereka, dari mulai tempat tinggal mereka yang tidak lagi menempati apartemen Raymond dan rencana honeymoon mereka yang sudah direncanakan dengan baik oleh Raymond.
Caramel memandang calon suaminya itu ketika membicarakan rencananya itu dengan fokus pada jalan di depannya. Caramel begitu takjub dan bersyukur pada sang pemberi jodoh yang menjadikannya istri dari lelaki yang sangat diidam-idamkan oleh semua wanita.
Mobil Raymond pun berhenti ketika sudah berada di depan rumah Caramel. Raymond menatap tidak rela melepas calon istrinya pulang. Caramel tahu arti dari tatapan itu, sehingga antara sadar dan tidak sadar Caramel mendaratkan bibirnya pada bibir Raymond.
Mata Raymond terbelalak kaget ketika merasakan bibir Carmel yang menjadi candunya menempel di bibirnya dan ini bukan karena dia yang mencuri ciuman itu, tapi Caramel sendirilah yang menciumnya.
Beberapa detik kemudian Raymond sadar, dia hendak meneruskannya namun Caramel sudah berada di luar mobilnya dan menutup pintu mobil itu dengan senyum manisnya dia melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Sayang..." teriak Raymond untuk menghentikan Caramel.