Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
28. I want you!


__ADS_3

Lengan Zayn sudah dipegang oleh Nindi yang sedari tadi memperhatikan Zayn dan mengikutinya.


Zayn menghembuskan nafasnya kesal kemudian dia menoleh dan menghempaskan tangan Nindi dari lengannya. Tanpa berkata-kata, Zayn dengan langkah lebarnya meninggalkan tempat itu.


Nindi mengomel marah karena kehilangan jejak Zayn yang benar-benar sudah berada di depannya.


Zayn berada di dalam kamar hotel yang telah disediakan untuknya. Dia tidak akan ke pesta itu lagi karena dia tidak nyaman dengan adanya Nindi di pesta itu.


Sedangkan Nindi masih berusaha mencari pengganti Raymond dengan menggoda beberapa tamu yang hadir di acara tersebut yang diketahui Nindi sebagian besarnya adalah pengusaha-pengusaha yang berhasil.


Raymond mengajak Caramel meninggalkan pelaminan mereka karena dia melihat istrinya yang kelelahan.


"Yuk sayang kita ke kamar aja," ucap Raymond dengan menggandeng pinggang Caramel.


Caramel mengangguk setuju karena dia juga merasa sangat kelelahan. Setelah Raymond mendapat ijin dari orang tuanya, dia bersama Caramel meninggalkan pelaminan menuju kamarnya yang sudah disiapkan untuk kamar pengantin.


Di dalam lift menuju lantai kamar mereka, Raymond menatap Caramel yang sudah berstatus menjadi istrinya itu dengan penuh harap.


Caramel melirik Raymond yang sedari tadi menatapnya. Dia gelisah karena Raymond kini telah merapatkan tubuhnya, membuat tubuh mereka tanpa jarak. Tanpa aba-aba kini bibir Raymond telah menempel pada bibir Caramel.


Ciuman itu semakin lama semakin menuntut hingga membuat mereka terbuai dalam ruangan kotak itu.


Ting!


Suara pintu lift yang terbuka membuat mereka sadar dan menyudahi kegiatan mereka.


Raymond melihat lorong kamar mereka sepi, hingga ide jahilnya kembali dilancarkannya. Dengan segera Raymond mengangkat tubuh Caramel untuk dibawa ke kamar mereka.


Rasa malu membuat pipi Caramel bersemu merah. Dia mengalungkan tangannya ke leher Raymond ketika Raymond dengan jahilnya menggoyangkan tubuh Caramel.


Kejahilannya itu sukses membuat Caramel merapatkan tubuhnya pada dada Raymond. Dan dengan senang hati Raymond lebih erat menggendong tubuh istrinya.


Caramel mendongak ketika sudah berada di dalam kamar. Dia sangat terpukau melihat kamar pengantin yang begitu indah hingga membuatnya sangat terpesona dan melupakan fakta bahwa sekarang dia berada di dalam gendongan suaminya.


Tubuh Caramel di letakkan perlahan di atas ranjang, Raymond membuka perlahan aksesoris yang berada di kepala istrinya. Dengan perlahan dan telaten dia membuka sehelai demi sehelai benang yang menempel di badan istrinya.


"Aku suka harum tubuhmu," ucap Raymond ketika menghirup aroma tubuh Caramel dengan menempelkan hidungnya di ceruk leher Caramel.


"Chef.. a-aku...," ucap Caramel gugup dan bulunya meremang merasakan hembusan nafas suaminya.

__ADS_1


"Sayang... baby... honey... kamu mau dipanggil dengan sebutan apa cinta?" tanya Raymond menggoda.


"Hah? A-aku...," ucapan Caramel terhenti karena kini bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Raymond.


"Rasanya manis, aku suka," ucap Raymond sebelum meneruskan kembali kegiatannya.


Raymond mencecap manisnya sari madu di bibir Caramel. Pangutan itu begitu menuntut mengharapkan reaksi balik dari Caramel, namun Caramel hanya diam saja menikmatinya. Raymond melepaskan pangutannya dan menatap wajah istrinya.


"Chef... a-aku... aku...," ucap Caramel ragu-ragu.


"Panggil aku dengan panggilan sayang," bisik Raymond yang membangkitkan rasa yang sedari tadi ditahan oleh Caramel.


"Ta-tapi...," ucap gugup Caramel.


"Kenapa hmm..? Kamu udah sah jadi milikku," Raymond kembali melancarkan aksinya dengan menarikan jari-jarinya di seluruh bagian tubuh yang membuat Caramel serasa melayang tak terkendali.


"My wife... so beautiful...," ucapnya serak dengan melucuti pakaian dalam yang masih menempel di tubuh Caramel.


"Kamu cantik sayang... kamu sexy...," ucapnya masih dengan suara yang serak.


Caramel tak bisa menahan semua sentuhan yang diberikan oleh Raymond. Suara-suara yang dikeluarkan oleh Caramel membuat Raymond bertambah semangat untuk segera memilikinya.


Desiran aneh ditubuh Caramel membuatnya gelisah di bawah sentuhan suaminya yang kini tengah membuat tubuh istrinya tanpa sehelai benang pun.


Disatukannya milik mereka secara perlahan. Pekikan Caramel begitu keras, cengkraman di tubuh Raymond begitu kuat hingga terasa menyakitkan.


Namun Raymond tak mudah berhenti, membiasakan diri sesaat lalu kembali bergerak dengan penuh hasrat.


Hingga diakhir perjuangannya, Raymond mempercepat ritmenya sampai mereka menuju kenikmatan bersama.


Caramel terbangun dengan tubuh yang terasa pegal serta tubuh yang lengket. Dia teringat kejadian semalam yang membuatnya menjadi milik Raymond seutuhnya.


Timbullah sesuatu yang ingin diketahui oleh Caramel. Dia ingin mengetahui milik Raymond yang berhasil membuat dirinya menjadi miliknya seutuhnya.


Ingin rasanya Caramel mengintip dari balik selimut yang menutupi tubuh mereka. Tapi dia takut jika suaminya mengetahui apa yang dilakukannya.


Namun rasa penasarannya begitu besar, sehingga membuat tangannya tanpa sadar membuka selimut yang menutupi tubuh mereka dan dia mulai mendekatkan wajahnya untuk melihat lebih jelas milik suaminya itu.


Tanpa dia sadari Raymond sudah membuka matanya karena dia merasakan pergerakan tubuh Caramel yang hilang dari dekapannya.

__ADS_1


Raymond tersenyum melihat tingkah konyol istrinya yang malu-malu tapi mau, bahkan istrinya itu sangat penasaran dengan hal-hal yang tadinya dia tolak.


"Itu milikmu sayang," bisik Raymond tepat di telinga Caramel.


Mata Caramel membelalak kaget mendengar suara suaminya. Malu, sungguh dia benar-benar malu.


Kepala Caramel masuk ke dalam selimut karena dia sangat malu akan perbuatannya. Dia sungguh merutuki kebodohannya yang dengan beraninya melihat milik suaminya disaat suaminya sedang tertidur.


Raymond terkekeh dengan sikap konyol istrinya itu. Menurutnya istrinya itu sangat lucu dan menggemaskan.


Diraihnya tubuh istrinya itu untuk memberinya pelajaran agar tidak mengintip selagi dia tertidur.


"Aaaah.... lepaskaaaaan...," seru Caramel dengan menutup mukanya menggunakan kedua telapak tangannya.


"Nakal ya, ngintip-ngintip," ucap Raymond sambil menggelitik tubuh istrinya.


"Aaah... ampuuun... ampuuun...," ucap Caramel memohon disela tawanya.


"Sini biar aku kasih hukumannya," ucap Raymond seraya mengangkat tubuh Caramel masuk ke dalam kamar mandi.


Mereka masih belum memakai pakaian, sehingga ketika di dalam kamar mandi mereka tidak meributkan pakaian mereka.


Acara mandi mereka bisa dikatakan lama, karena proses mandi mereka yang tidak biasa.


Caramel serasa dihukum oleh suaminya. Sepertinya suaminya tidak merasa puas setelah membuatnya lemas dengan nafas yang terengah-engah.


Raymond menggendong tubuh istrinya yang lemas karena ulahnya. Dengan telaten dia mengeringkan tubuh istrinya dan memakaikan pakaian, setelah itu dia mengeringkan rambut indah istrinya.


Sungguh kegiatan yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Bahkan mengetahui dirinya yang sangat tergila-gila dengan gadis yang kini menjadi istrinya itu pun tak pernah dia sangka sebelumnya.


Raymond sungguh senang dan puas menjadikan Caramel miliknya seutuhnya. Sehingga dia tidak rela melepaskan wanita yang menyandang gelar Nyonya Raymond Xavier itu dilirik oleh lelaki lain.


"Sayang... aku disini aja ya," ucap Caramel lirih dia malu memanggil suaminya dengan kata sayang.


"Kenapa? Kamu ingin berduaan terus ya?" goda Raymond yang menempelkan hidungnya pada pipi kiri Caramel.


"Aku nyeri kalau buat jalan," ucap Caramel malu.


Raymond tersenyum dan berbisik pada telinga Caramel,

__ADS_1


"Sesuai harapanmu sayang."


"Aaaaah....," seru Caramel.


__ADS_2