
Tadi aja nyuruh aku keluar kamar, sekarang malah kamu gak bisa tidur kan kalau gak dipeluk suamimu ini? Raymond berkata dalam hati dan tersenyum senang dalam hatinya.
"Eh... eh... eh... mau ke mana ini? Ngapain?" tanya Caramel bingung ketika merasakan tubuhnya melayang dan sudah berada di dalam gendongan suaminya.
"Ngamar! Bikin anak!" jawab Raymond tegas dengan menggendong tubuh Caramel ala bridal style dan matanya tidak lepas menatap mata Caramel.
"Ah enggak mau, aku kan lagi ngambek," Caramel menghentak-hentakkan kakinya agar Raymond menurunkannya.
Namun diluar perkiraan Caramel, Raymond malah tersenyum puas dengan perlawanan Caramel. Entah apa yang dipikirkan oleh Raymond hingga akhirnya dia terkekeh karena perlawanan Caramel yang semakin menjadi.
"Aku suka sikap pemberontakmu," Raymond mengucapkannya dengan menatap intens manik mata Caramel.
Caramel menatap penuh tanya pada Raymond, karena dia tidak mengerti maksud perkataan Raymond itu.
"Aku jadi lebih tertantang untuk menaklukanmu Sayang," Raymond mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Caramel.
Caramel melongo melihat sikap suaminya yang tidak biasa, tapi tidak bisa dipungkiri jika Caramel menyukai Raymond yang seperti ini padanya. Hanya padanya, bukan pada orang lain.
Cupp!
Bibir Raymond mendarat pada bibir Caramel yang sedikit terbuka karena melongo tadi. Caramel melebarkan matanya tidak percaya dengan apa yang terjadi, namun detik selanjutnya dia tidak bisa menahannya lagi, karena dirinya memang mendambakan sentuhan Raymond malam ini.
Tangan Caramel melingkar pada leher Raymond, dan ditariknya tengkuk leher Raymond sehingga bibir Raymond bisa digapai oleh Caramel.
Raymond? Tentu saja dia senang sekali dan menyambut ciuman Caramel dengan senang hati. Raymond membiarkan Caramel memandu ciuman mereka hingga akhirnya Raymond merebahkan tubuh Caramel di atas ranjang.
Ciuman mereka tidak begitu saja selesai meskipun kini tubuh Caramel sudah berada di ranjang. Justru ciuman mereka sekarang semakin menuntut dan Caramel menjadi pemandu permainan tersebut.
Caramel bergerak duduk dan tangannya membuka satu persatu kancing baju Raymond. Setelah baju Raymond terbuka sempurna, Caramel membuai tubuh Raymond dengan tangannya yang gemulai menggerayangi semua bagian tubuh Raymond, terutama bagian yang sensitif.
Raymond benar-benar terbuai dengan perlakuan Caramel hingga suara lenguhannya terdengar seiring nafas yang dikeluarkannya.
Melihat Raymond yang sudah terbuai dan hanyut dalam permainannya, Caramel segera membalikkan keadaan. Caramel kini berada di atas tubuh Raymond. Seringai licik terbit di bibir Caramel. Dan dia mulai melakukan aksinya menggunakan mulut dan tangannya untuk memanjakan tubuh suaminya.
__ADS_1
Raymond sungguh tidak berdaya ketika tangan dan mulut Caramel menjelajah tubuh Raymond, terutama pada saat memainkan milik Raymond.
Raymond merem melek dan terdengar desisan dari mulutnya membuat Caramel bersemangat membuat Raymond tidak berdaya.
Caramel melahap milik Raymond masuk ke dalam mulutnya, lidahnya bergerak liar, memutar, menjilat dan menghisap milik Raymond.
Raymond menikmatinya hingga tangannya meremas rambut milik Caramel. Ternyata istrinya itu sudah pintar memanjakannya.
"Emmm...," Raymond sampai beberapa kali melenguh dan merem melek merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Caramel.
Sensasi yang hangat bercampur dengan saliva yang licin dari mulut dan lidah Caramel membuat milik Raymond terbuai. Caramel juga memainkannya dengan memaju mundurkan milik Raymond dari mulutnya sehingga membuat Raymond bertambah terbuai. Tangan Caramel pun tidak menganggur, tangan itu memainkan dua bola yang menggantung.
Lenguhan dan desisan dari mulut Raymond bertambah keras ketika Caramel memainkan tangan dan mulutnya untuk mengocok milik Raymond dengan gerakan lebih cepat. Dan keluarlah cairan lengket milik Raymond membuat tangan Caramel sangat basah dan lengket karena cairan yang dikeluarkan oleh Raymond lumayan banyak.
"Good job Baby!" Raymond sekarang membalikkan posisi yang berarti Caramel berada di bawahnya.
Ah kenapa jadi begini? Harusnya aku yang menghukumnya, kenapa sekarang aku jadi yang merasakan dihukum juga? Caramel menggerutu dalam hati, dia berniat akan membuat Raymond tak berdaya dengan menghukumnya, namun kini Raymond malah bersemangat dan tidak ada lelah sedikit pun di wajahnya.
Omegat... sepertinya aku salah memprediksi. Sekarang aku tidak bisa berkutik lagi, Caramel kembali berbicara dalam hati dengan memejamkan matanya menikmati sentuhan yang diberikan oleh tangan dan lidah suaminya.
Caramel menjambak rambut Raymond dengan memanggil nama Raymond pada saat dia menuju k*****s.
"Tunggu aku Sayang," ucap Raymond sambil menghentakkan miliknya pada milik Caramel dengan lebih cepat dan pinggul Raymond pun bergerak maju mundur dengan cepat sehingga mereka menuju titik k****"s bersamaan dan mengeluarkan cairan milik mereka secara bersama.
Byuuur.... cairan itu terasa penuh di dalam rongga milik Caramel yang terasa hangat, banyak dan lengket.
Peluh mereka bersatu membuat sprei ranjang mereka yang berantakan karena ulah panas mereka kini menjadi basah karena peluh mereka berdua.
Raymond berbaring di atas tubuh Caramel serta mengecup kening Caramel dengan penuh perasaan sehingga Caramel memejamkan matanya.
"Semoga di sini cepat ada dedek bayinya ya," Raymond mengusap perut rata Caramel yang dalam keadaan tidak memakai apa-apa.
Caramel membuka matanya dan tersenyum ketika Raymond mengusap perutnya.
__ADS_1
"Tidur dulu yuk Sayang, nanti lagi," bisik Raymond di telinga kanan Caramel serta membawa tubuh Caramel ke dalam pelukannya.
Mata Caramel yang tadinya merem kini terbuka dan membola mendengar bisikan dari Raymond.
Hah, apa? Lagi? Yang benar aja, aku kan mau menghukum dia, kenapa jadi aku yang dihukum? Caramel membatin, ngeri melihat tatapan mata dan smirk Raymond saat ini.
Tadi sih Raymond bilangnya ke Caramel tidur, tapi nyatanya kini tangan Raymond masih aktif bermain-main pada aset kembar milik Caramel.
"Aissh... tangannya loh, bisa gak sih gak mainin ini? Katanya suruh tidur," Caramel memprotes Raymond yang tidak berhenti mengganggunya.
Raymond terkekeh mendengar Caramel kesal padanya. Hingga dengan kejahilannya kini, tangan Raymond berpindah pada milik Caramel bagian bawah.
Caramel yang tadinya merem kini menggigit bibir bawahnya agar Raymond tidak mendengar lenguhannya. Namun lama-lama Caramel tidak bisa menahannya lagi, akhirnya Caramel berinisiatif untuk membalikkan keadaan.
Sayangnya tubuh Caramel tidak bisa menandingi kekuatan yang dimiliki oleh Raymond. Usaha Caramel sia-sia, Raymond tetap membuatnya berada dalam kungkungannya. Hingga Caramel berkali-kali mengeluarkan cairan miliknya, dan kini badannya benar-benar lemas tak berdaya bersamaan dengan milik Raymond yang juga mengeluarkan kembali cairan miliknya.
Mereka tidur dengan saling memeluk hingga sinar matahari menyapa mereka. Mata mereka pun terbuka secara bersamaan ketika sinar matahari menembus gorden jendela kamar mereka.
"Morning Baby," Raymond menyapa Caramel ketika mata mereka saling bertatapan.
Senyum keduanya mengembang ketika yang pertama kali mereka lihat adalah orang yang dicintainya.
"Yuk kita mandi, mau kerja kan?" ucap Caramel dengan mengusap pipi suaminya.
"Sebentar lagi, biarkan kita seperti ini dulu," Raymond kembali memeluk Caramel dengan sangat erat.
"Yuk mandi bareng, abis itu kita berangkat kerja," Caramel membujuk Raymond dengan semangat.
"Kami ikut lagi Sayang?" tanya Raymond sambil mengurai pelukannya dan memandang wajah Caramel dengan penuh tanya.
"Kenapa? Gak boleh? Takut ganggu kamu sama Clara lagi?" Caramel bertanya penuh curiga dengan tatapan yang mampu membuat Raymond meminta ampun padanya.
"Enggak... enggak Sayang, aku cuma gak mau kamu lari-larian kayak kemarin-kemarin. Sungguh aku gak bisa ngapa-ngapain kalau istri cantikku ini pergi seperti itu. Mending aku gak usah berangkat kerja aja daripada aku harus mengalami seperti kemarin," Raymond mencoba menjelaskan agar Caramel tidak kembali marah padanya.
__ADS_1
"Gak akan. Dan pokoknya aku harus ikut!"