Suamiku Chef Idolaku

Suamiku Chef Idolaku
74. Mengulang lagi


__ADS_3

Raymond menikmati acara pesta malam itu dengan sangat senang. Karena tidak ada yang mengganggu mereka. Tidak ada yang membuat Raymond dan Caramel saling cemburu. Semua halangan sudah menyingkir dengan sendirinya.


Yang paling membuat Raymond senang adalah Zayn berhasil menjauhkan Clara darinya. Kini Raymond bisa bernafas dengan lega karena dengan begitu, pasti Clara tidak akan lagi bisa mendekatinya.


"Kayaknya lagi seneng banget deh," sindir Caramel yang melihat Raymond tersenyum bahagia ketika mereka sudah selesai melakukan ritual mereka yang pertama kalinya untuk malam ini.


Entahlah nantinya akan ada yang kedua atau ketiga Caramel belum tahu. Yang dia tahu hanya dirinya harus menuruti apa kata suaminya.


Raymond meraih tubuh Caramel dan mendekatkannya lebih dekat padanya hingga tidak berjarak. Menempelkan kembali tubuh mereka berdua agar mereka bisa saling merasakan desiran dalam hati mereka berdua.


"Pasti dong, kan gak ada lagi yang bisa ganggu kita. Clara udah bisa dipastikan, bahwa dia akan berakhir bersama Zayn. Dan itu berarti tidak akan ada lagi yang merecoki hubungan kita lagi," ucap Raymond dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa mereka sebenarnya saling mencintai? Tapi, selama ini dia kan...," ucap Caramel menggantung, dia enggan mengucapkan bahwa selama ini Clara mencintai dan mengejar-ngejar Raymond, suaminya.


"Dia hanya terobsesi denganku Sayang. Dia tidak tau apa arti cinta sesungguhnya. Zayn lah yang tau persis bagaimana sifatnya. Clara tidak mau jika apa yang diinginkannya didapatkan oleh orang lain. Dan aku, aku hanya menginginkanmu dan kamu yang mendapatkan hati, cintaku dan tubuhku, bukan Clara. Karena itulah dia semakin terobsesi padaku," ucap Raymond sambil menggesek-gesekkan hidungnya pada hidung Caramel.


Caramel tersenyum geli dengan apa yang dilakukan Raymond padanya. Dengan jahilnya Caramel memegang milik Raymond yang tidak memakai kain penghalang karena tubuh mereka berdua masih polos dan memakai selimut tebal.


Mata Raymond terbelalak ketika jari-jari tangan Caramel memegang miliknya dan meremasnya dengan gemas.


"Sayang... Auuh... kamu membangkitkan milikku lagi," ucap Raymond dengan suara yang agak tercekat karena mendesis.


Caramel lebih kuat meremasnya kemudian dia memelankan remasannya agar Raymond menikmatinya. Namun setelah Raymond sangat menikmatinya, Caramel segera melepaskan tangannya dari milik Raymond dan tidur dengan membelakangi Raymond.


Raymond mengerti jika Caramel menjahilinya dan kini dia berpura-pura tidur. Dengan segera Raymond mengangkat tubuh Caramel dan menaruhnya di atas tubuhnya.


"Nakal kamu ya," ucap Raymond dengan seringai licik dan menyentilkan jari tangannya pada dahi Caramel.

__ADS_1


Merasa harus membalas, Caramel pun terpancing untuk membalas perlakuan Raymond padanya.


Caramel memegang kembali milik Raymond sehingga Raymond kembali terlena dan melepaskan tangannya dari tubuh Caramel. Setelah itu Caramel segera membalikkan arah badannya membelakangi Raymond dan segera memasukkan milik Raymond pada mulutnya.


Caramel menghisap dan menjilati milik Raymond tanpa perlawanan dari Raymond karena Raymond sekarang sedang merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Caramel, sedangkan Caramel terlalu bersemangat sehingga dia terbuai dengan tangan jahil Raymond yang memegang dua gundukan kembarnya.


Dan akhirnya mereka mengulanginya kembali tanpa disadari oleh Caramel bahwa aksi balas dendamnya berakhir berbeda. Bukannya Raymond yang menderita karena kejahilannya malah dia yang diperdaya oleh Raymond, dia masuk ke dalam jebakan Raymond.


Setelah ritual mereka selesai, Caramel baru tersadar bahwa bukan seperti itu yang dia inginkan. Dia menginginkan agar Raymond tersiksa karena sudah terpancing oleh Caramel namun ditinggalkannya begitu saja ketika dia menikmatinya, namun kini Raymond lah yang menjadi pemenang, kare a Raymond dan Caramel kembali melakukannya lagi hingga ritual itu selesai dilakukannya.


"Ck, lagi-lagi aku yang kalah," ucap Caramel mencebik kesal dengan membalikkan badannya memunggungi Raymond ketika mereka terbaring setelah mekakukannya.


Raymond terkekeh melihat istrinya yang sesuai dugaannya, dia menjahilinya dan kini dia terkena kejahilannya sendiri.


"Sayang, aku udah bisa memprediksinya. Aku tau semua tentang kamu, dan kamu tidak bisa menang melawanku," ucap Raymond disela kekehannya.


Melihat tidak ada respon dari Caramel, Raymond segera meraih tubuh Caramel dan memasukkannya pada pelukannya. Caramel meronta dan memberontak, namun percuma saja karena semakin dia memberontak, tangan Raymond semakin mengeratkan pada pinggang Caramel sehingga tubuh mereka saling menempel dengan sempurna tanpa jarak sedikit pun.


Caramel kini hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya berusaha untuk tidur dengan menahan sekuat tenaga godaan yang diberikan oleh Raymond melalui sentuhan-sentuhan tangannya dan tangan yang memainkan dua gundukan kembarnya itu.


Untung saja ketika Caramel menahan sekuat tenaga rasa inginnya dan suara yang keluar dari mulutnya membuat Raymond mengantuk sehingga Raymond tertidur dengan tangan yang masih memegang dua gundukan kembar Caramel dan Caramel pun ikut tertidur seiring melemahnya usapan dan permainan tangan Raymond yang memegang dua gundukannya itu.


Keinginan Raymond untuk terbangun dini hari dan mengulangi lagi ritual mereka pun sirna sudah, karena sekarang matahari sudah sangat tinggi sehingga mereka harus kembali berangkat bekerja.


"Sayang... bangun, udah siang," ucap Caramel ketika membangunkan Raymond dengan memainkan hidungnya.


Raymond membuka matanya dan ketika melihat wajah istrinya tepat di depan wajahnya, langsung saja dia cium sekilas bibir Caramel tanpa permisi dahulu.

__ADS_1


"Morning kiss," ucap Raymond dengan tersenyum.


"Morning... morning apaan, ini udah hampir siang Sayang," ucap Caramel.


Caramel menarik tangan Raymond namun gagal, karena tubuh Raymond yang lebih besar daripada Caramel membuat dirinya tidak bisa menarik Raymond untuk bangun. Dan dengan jahilnya Raymond malah menarik tangan Caramel yang masih memegang tangannya.


"Lepas gak? Atau mau ini yang lepas?" tanya Caramel yang satu tangannya sedang memegang milik Raymond.


"Jangan dong Sayang, bahaya, nanti gak bisa kayak semalam dong?" ucap Raymond mengiba.


"Ayo bangun, ini udah siang, apa kita bolos kerja aja? Kita jalan-jalan ke tempat-tempat yang indah. Bagaimana?" tanya Caramel yang sekaligus memberi ide pada Raymond.


"Sebentar, aku cek dulu schedule nya," ucap Raymond sembari melihat ponselnya.


"Ya... maafkan aku Sayang. Lain waktu aja ya, hari ini ada tamu-tamu VIP yang harus aku handle sendiri karena mereka merupakan tamu-tamu yang penting buat perusahaan," ucap Raymond yang kini bangkit dari tidurnya untuk memeluk tubuh Caramel.


"Ayo kita mandi dulu Sayang, setelah itu kita berangkat kerja. Kamu juga pasti dibutuhkan di sana. Tapi ingat, hanya di kitchen area aja, tidak di lobby ataupun tempat lain. Mengerti?" Raymond mengingatkan kembali akan peraturannya pada Caramel pada saat di tempat kerja.


Caramel hanya mengangguk pasrah dengan ekspresi kecewa yang bisa dilihat oleh mata Raymond, karena Raymond sangat mencintainya sehingga dia tau bagaimana Caramel jika senang, sedih, kecewa ataupun gelisah.


Dan kini Raymond mengetahui jika istri ya sedang kecewa. Untuk menghilangkan kekecewaan Caramel, Raymond segera mengangkat tubuh Caramel ke dalam kamar mandi dan memandikannya secara menyeluruh.


Ritual mandi mereka hanya sebentar karena hanya bermain-main sebentar saja karena mengingat waktu yang sudah sangat siang bagi mereka berangkat kerja.


Setelah mereka rapi, mereka keluar dari kamar. Seperti biasa tangan Raymond tidak pernah absen melingkar di pinggang Caramel dan berjalan beriringan menuju lift.


"Zayn?!"

__ADS_1


"Clara?!"


__ADS_2