
Clara masih duduk di lantai depan pintu apartemen milik Zayn. Dia menangis tersedu-sedu memikirkan nasibnya, nasib janin yang ada dalam kandungannya dan nasib Zayn yang merupakan ayah dari janin yang sedang dia kandung.
"Kenapa sesakit ini? Kenapa cinta itu menyakitkan? Bukannya harusnya membahagiakan?" Clara berbicara sambil menangis tersedu-sedu.
"Mari cepat ikut kami!" perintah seseorang pada Clara.
Clara mendongak setelah dia melihat ada kaki seseorang yang ada di hadapannya. Dia menatap orang yang ada di hadapannya itu lama seolah dia ingin bertanya siapa orang tersebut, namun bibirnya tak mampu mengucap kata-kata.
"Ikutlah kami untuk menolong Zayn. Kami utusan dari Tuan Nathan Xavier untuk membawamu menemui Zayn dan menyelamatkannya. Apa kamu mau menyelamatkannya dengan bersaksi untuk membuktikan bahwa Zayn tidak bersalah apapun yang terjadi?" tanya orang tersebut pada Clara.
Clara mengangguk antusias dengan sedikit senyum merekah dari bibirnya.
"Tolong bawa aku menemui Zayn. Aku akan menyelamatkannya, apapun yang terjadi," ucap Clara dengan penuh harap.
"Apa kamu berjanji?" tanya orang tersebut dengan tegas.
"Ya, aku berjanji. Apapun yang akan tejadi, aku pasti akan bersaksi untuk menyelamatkan Zayn karena memang dia tidak bersalah," Clara kembali berbicara untuk meyakinkan orang yang ada di hadapannya itu bahwa dia mendukung Zayn agar dia bisa bertemu dengan Zayn.
"Baiklah, ikutlah dengan kami sekarang. Ayo cepatlah, jangan buang-buang waktu," orang tersebut memerintah Clara dengan sangat tegas.
Clara pun segera bangkit dari duduknya, dan berjalan mengikuti orang tersebut. Dan Clara yakin jika mereka benar-benar diutus oleh Daddy Nathan karena orang yang kini menjemputnya bukanlah orang yang biasa. Penampilan mereka khas pengawal yang ada di setiap tempat keluarga Xavier berada dan jumlah mereka bukan hanya satu.
"Kita mau ke mana?" tanya Clara pada mereka ketika mobil sudah berjalan beberapa meter dari apartemen Zayn.
"Ke Kantor Polisi. Zayn ditahan di sana," jawab salah satu dari mereka.
__ADS_1
"A-apa... apa Zayn baik-baik saja?" Clara bertanya dengan takut.
"Kamu pikir bisa baik-baik saja ketika kamu masuk penjara?" orang tersebut menjawab pertanyaan Clara dengan kesal.
Clara mengkerut ketakutan, kepalanya tertunduk dan matanya berkaca-kaca. Namun bayangan Zayn yang tersenyum padanya berada tepat di depan matanya.
Clara memejamkan matanya berharap dia bisa melihat bayangan Zayn dan senyumannya lebih lama. Namun yang ada malah bayangan Zayn ketika tangannya diborgol oleh Polisi dan menatapnya dengan penuh kesedihan. Tak terasa bulir mata Clara perlahan menetes membasahi pipinya.
Clara tak ingin membuka matanya karena dia ingin meyakinkan pada dirinya sendiri jika dia mencintai Zayn selama ini. Memory tentang dirinya dan Zayn selama ini datang bagaikan rekaman film yang diputar kembali.
Apa yang dilihatnya kini membuatnya menyadari bahwa dia sangat bersalah pada Zayn yang sangat sabar dan sangat mencintainya. Air matanya semakin deras, suara isakan tangisnya semakin keras terdengar hingga mereka yang sedang mengawalnya merasa bersalah pada Clara yang mereka ketahui kini sedang hamil anak dari Zayn.
Mereka tidak melarang ataupun memarahi Clara karena mereka tahu jika maslah ini berat baginya. Mereka tahu jika kedua orang tua Clara yang membuat Zayn harus merasakan malu tangannya diborgol oleh Polisi dan dibawa ke kantor Polisi.
Bisa dibayangkan bukan bagaimana jika keluarga besar Xavier yang terhormat anggota keluarganya ada yang masuk penjara? Maka semua orang akan memandang remeh keluarga besar Xavier dan mencibirnya meskipun mereka tidak tahu apa fakta yang sebenarnya.
Dan ini lah saatnya. Dua orang pengacara dari tim kuasa hukum yang menangani kasus Zayn menghampiri mobil tersebut. Clara dibawa masuk ke dalam Kantor Polisi yang ada dihadapannya.
Satu pengacara wanita menggandeng Clara dan satu pengacara laki-laki mengawal dua orang wanita tersebut masuk ke dalam ruangan interogasi yang di dalamnya sudah ada Zayn untuk diinterogasi sejak tadi.
Clara kaget melihat kedua orang tuanya yang juga kaget melihatnya. Mereka berdua melotot dan terlihat sangat marah pada Clara.
"Kalian... Beraninya kalian membawanya datang ke tempat ini!" teriak Papa Clara pada tim kuasa hukum Zayn.
"Cepat bawa dia pergi! Saya tidak mengijinkan dia berada di tempat ini!" kini Mama Clara yang berteriak tidak terima.
__ADS_1
Kedua orang tua Clara emosi melihat orang yang didatangkan tim kuasa hukum Zayn menjadi saksi penting mereka.
"Cepat pergi dari sini!" teriak Mama Clara pada Clara yang terlihat sangat ketakutan pada kedua orang tuanya.
Clara semakin takut ketika Mamanya berteriak histeris padanya. Badannya bergetar ketakutan dengan memegang erat lengan pengacara wanita yang menggandengnya. Dan pengacara laki-laki yang mengawal Clara menghentikan Mama Clara yang akan meraih tubuh Clara.
"Maaf Bu, harap tenang. Tolong hargai semua yang ada di sini. Dan mohon bantuannya agar proses bisa cepat diselesaikan," ucap salah satu Polisi dengan tegas.
Zayn yang sedari tadi menghadap ke belakang mencari tahu siapa yang akan menjadi saksi untuk dirinya menjadi kaget, matanya terbelalak ketika mendapati sosok wanita yang dicintainya menangis ketakutan melawan kedua orang tuanya demi untuk membebaskannya.
Zayn memandang iba dengan penuh kesedihan pada Clara yang berjalan mendekatinya.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja? Kenapa kamu menangis? Tidak baik jika ibu hamil menangis," ucap Zayn sambil mengusap jejak air mata yang ada di pipi wanitanya itu.
"Zayn...," hanya satu kata itu yang berhasil keluar dari mulut Clara sambil memeluk tubuh Zayn serta terisak di dalam pelukan Zayn.
Zayn mengusap punggung Clara untuk menenangkannya. Diciumnya pucuk kepala Clara yang sedang nyaman berada di dalam pelukannya.
"Udah ya, aku baik-baik aja. Kamu jangan sedih lagi ya," ucap Zayn sambil mengeluarkan senyum manisnya.
"Jangan keluarkan drama kalian di sini. Clara sangat membencinya Pak. Pasti anak kami diancam agar mau memainkan skenario mereka," Mama Clara kembali mengeluarkan pembelaannya.
"Jangan kurang ajar Nyonya. Kami tidak pernah mengancam ataupun menekan anak anda. Dia sendiri yang secara suka rela ingin memberikan kesaksiannya pada pihak berwajib," salah satu pengacara dari tim kuasa hukum Zayn menyangkal tuduhan dari Mama Clara.
"Kami orang tuanya, kami tau semua tentang anak kami. Jadi jangan pengaruhi dia dan kembalikanlah dia pada kami," Mama Clara mengeluarkan ancamannya.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak mau pisah dengan Zayn. Aku mencintainya. Zayn ayah dari anak yang aku kandung, bukan Raymond. Kalian kedua orang tuaku harusnya mendukungku agar tidak berpisah dengan Zayn, bukannya malah menyuruhku untuk membuat agar Raymond menikahiku dengan cara apapun. Pokoknya aku tidak mau pisah dengan Zayn, titik," sahut Clara menyuarakan isi hatinya dengan lantangnya.
"Sudah jelas sudah Pak. Dan kami akan menuntut balik mereka berdua dengan tuntutan pencemaran nama baik Zayn dan Raymond Xavier!" Daniel, pengacara dari tim kuasa hukum Zayn mengatakan tuntutan pertama mereka.