
"Dan membiarkan anakku, hidup tanpa orangtua lengkap! Tidak Lita, aku tahu rasanya hidup seperti itu dan aku tidak akan membiarkan anakku merasakannya." Sahut Arga. " Berdoa saja semoga benih kita tidak tumbuh dengan baik disini." Lanjutnya mengusap perut Lita dengan tatapan yang saling bertemu.
Lita menaikkan sebelah alisnya, menatap bingung pria dia hadapannya itu."kamu harus banyak-banyak berdoa, agar Tuhan mengabulkan doamu! Karena jika kamu sampai hamil, aku tidak akan pernah melepaskan kamu." Arga terus berbicara sembari menunjukkan kepemilikannya atas diri wanita itu.
"Siapa kamu? Kamu pikir aku mau menjadi istri kedua kamu, kalau bukan karena malam yang di ciptakan istrimu itu!" Sahut Lita tak suka dengan sikap Arga yang seakan mengklaim dirinya.
Bukannya marah Arga justru tersenyum mengejek. Lalu dengan lancang mengecup bibir Lita. " Kamu bertanya siapa aku! Aku Argani Aditya Sanjaya, suami dari Thalita Sanjaya_"
"Tidak, bukan Thalita tapi lebih tepatnya Melissa Sanjaya. Ya itu, jadi jauh-jauh dari aku, ."Potong Lita sembari mendorong tubuh Arga sekuat tenaga namun untuk terlepas dari dekapan pria kurang ngajar yang sayangnya adalah suaminya itu. " Sekali lagi kamu menciumku, kamu akan_Arga." Belum selesai Lita berbicara Arga sudah kembali mencium bibir wanita itu.
Membuat Lita semakin geram kepadanya dan tanpa sadar ia menaikkan tangan kanannya untuk menampar pria itu. Akan tetapi Arga lebih dulu menahan tangan Lita.
Ia dengan santainya menarik tangan Lita untuk dia cium. " Marah? ingin menampar aku?" Tanya sembari terus menciumi telapak tangan Lita terus menerus membuat wanita itu semakin memberontak marah.
"Lepaskan aku, Arga." Pekik Lita. Ia sungguh sangat membenci sikap pria itu.
Bagaimana tidak, Agra bersikap seolah Lita adalah wanita yang dia inginkan dan dia cintai. Tidak hanya itu kata-kata yang di ucapkan Arga seakan menjelaskan semuanya. Tapi sayangnya kenyataan yang Lita tahu.
Pria yang berstatus suaminya itu, sangat mencintai istri pertamanya dan rela melawan orang tua serta kakeknya untuk menikahi wanita itu.
__ADS_1
Wanita yang tidak lain Adalah seekor si rubah betina. Yang berhasil menipu semua orang dengan sikapnya yang sok baik itu.
" Tidak, aku masih ingin seperti ini! Aku nyaman bersamamu." Ucapnya.
Jika seorang wanita mendapatkan kalimat itu dari suaminya, tentu saja mereka akan merasa tersentuh dan senang.
Sebab menjadi tempat ternyaman untuk pasangan mereka , tapi sayangnya hal itu tidak berlaku untuk Lita. Wanita itu justru merasa muak mendengar kejujuran Arga.
"Apaan sih! Lepas dulu aku mau pakai baju." Lita terus mencoba melepaskan diri dari Arga karena saat ini wanita itu hanya mengunakan bathrobe saja tanpa dalam tentunya.
Jika Arga iseng atau sengaja menarik bathrobe itu, makan aja terpanggang lah tubuh polos Lita.
"Apa maksud kamu_?"
" Bukan apa-apa, lupakan." Pria itu lalu membawa tubuh istrinya ke balkon kamar. Menikmati udara malam disana sembari memeluk tubuh Lita dari belakang, walaupun wanita itu terus melawan meminta untuk dilepaskan. " Bisa diam nggak?"
"Nggak!"
"Lita dosa loh ngelawan suami?" Ucap Arga, berharap wanita itu berhenti melawan.
__ADS_1
"Bilang sama si Lisa istri kamu itu, jangan sama aku! Lagian aku nggak merasa tuh jadi istri kamu." Sahut Lita.
"Mau aku tempel bukti nikah siri kita di jidat kamu, baru kamu mengakui aku sebagai istri kamu." Ucap Arga.
"CK cuma nikah siri doang." Arga tidak lagi menyahuti ucapan Lita, karena pria itu tahu, jika dia menjawab pasti akan ada ucapan Lita lainnya, yang mungkin saja akan semakin menyakiti hatinya.
Pria itu memilih diam sembari menikmati pemandangan yang ada dihadapannya dengan Lita dalam pelukannya.
Sementara Lita sendiri terus mendumel tidak jelas, membuat Arga sesekali tersenyum mendengarnya.
Wanita itu mungkin terlihat dingin dan cuek. Tapi satu dari dirinya yang disukai Arga. Pembawaannya yang tenang dan mudah diatur.
Tidak seperti Lisa wanita itu selalu menilai segala sesuatunya dari uang, suka memaksa dan harus di turutin mau-nya sungguh Arga sudah sangat muak dengan semua itu, untuk itu dia membutuhkan sosok wanita seperti Lita, yang mampu membuatnya nyaman.
Lita itu ibarat rumah, dimana ia disibukkan dengan rutinitasnya yang padat serta membuat pening. Ia membutuhkan rumah untuk pulang dan beristirahat.
"Tha," panggil Arga.
"Hmm."
__ADS_1
"Kalau nanti kamu hamil, anak aku jangan di apa-apain ya! Kita juga harus mengsahkan pernikahan kita secara hukum." Ucap Arga, tiba-tiba dengan nada suara yang begitu pelan terdengar seperti memohon dan itu membuat Lita terdiam mendengarkan saja.