
Tanpa banyak bicara Arga langsung keluar dari lagi kamar itu. Lisa yang melihat hal itu langsung mengejarnya.
"Arga." Teriak Lisa, sembari terus melangkah mengikuti suaminya itu tanpa peduli penampilannya yang masih menggunakan bathrobe dan handuk di kepalanya.
"Arga tunggu, kamu mau kemana! Baru juga datang udah mau pergi lagi." Teriak wanita itu sepanjang koridor kamar-kamar dilantai itu.
Membuat keduanya menjadi pusat perhatian dari pelayan hotel yang sedang bertugas di kamar itu juga beberapa pengunjung yang hendak keluar.
" Apaan sih kamu! Jangan ikut aku." Sentak Arga, menghentikan langkahnya lalu berbalik untuk menunjuk wajah istrinya.
Arga kembali di buat sakit kepala dengan penampilan Lita, dalam hatinya pria itu bertanya dimana letak rasa malu wanita yang telah dia nikahi dengan begitu megahnya itu hingga berani berlenggang dengan penampilan seperti ini di koridor hotel yang bisa saja menjadi tontonan tamu hotel yang tidak sengaja berpapasan atau pelayan hotel yang melihatnya dalam keadaan seperti ini.
__ADS_1
"Ini lagi kenapa berpenampilan seperti ini, kamu nggak malu?" Tanya Arga sambil menyentuh bathrobe yang digunakan Lisa dengan ujung jari, seolah-olah ia jijik menyentuh langsung wanita itu.
"Habisnya kamu sih, datang-datang langsung pergi aja. Kamu kenapa sih? Nggak biasanya kamu gini ke aku." Ucap Lisa.
Arga yang tidak ingin bertengkar di koridor hotel itu, memilih kembali ke kamar mereka dengan melewati tubuh Lisa begitu saja tanpa menyahuti ucapan wanita itu.
" Hiih Arga." Teriak Lisa kembali mengikuti langkah pria itu, tanpa embel-embel panggil sayang seperti biasanya mereka sematkan kepada satu sama lain.
"Apa maksud kamu ngomong seperti itu, haah." Teriak Lisa tak kalah histerisnya seraya mendorong tubuh Arga kebelakang hingga pria itu hampir terjatuh, jika ia tidak pandai menahan keseimbangan tubuhnya. " Kamu malu menikah aku iya." Tanya Lisa menuntut jawaban pria itu, sembari mengeluarkan air mata kepalsuan.
"Kamu ninggalin aku begitu saja, saat pesta pernikahan kita dengan alasan pekerjaan kamu mikir nggak gimana perasaan aku. Orang tua kamu pernah mikirin gimana aku saat mereka memberikan pekerjaan kepada kamu di hari bahagia kita. Aku tahu mereka semua tidak pernah merestui hubungan kita tapi apa harus dengan aku di perlakukan seperti ini." Ucap Lisa sembari menangis sesenggukan, seolah dia benar-benar terluka. " Aku udah coba mengerti kamu dengan pekerjaan kamu itu, bukannya berterima kasih! Kamu Malah marah-marah keaku seperti ini, mengatai aku sesuka kamu, hanya karena aku keluar dengan penampilan ku sekarang. Aku juga malu harus melakukan ini tapi kamu nggak mau balik saat aku panggil, kam_"
__ADS_1
"Cukup Lisa, aku minta maaf aku salah." Arga terpaksa mengalah dengan wanita itu, karena telinganya sangat panas mendengar pembelaan Lisa yang terus memojokkan dirinya dengan kejadian malam itu." Sekarang jawab aku, kenapa kamar ini beg berantakan! Ngapain saja kamu di dalam kamar ini?" Tanya Arga membuat tubuh Lisa membeku seketika dan kehabisan kata-kata, untuk membela dirinya.
" Aku_ aku ti_durlah apa lagi." Jawab Lita dengan gugup seakan ia tengah menutupi dosanya.
Mendengar jawaban Lisa, Arga tersenyum mengejek. Istrinya itu selain pintar memutar balik keadaan dan bermain peran ternyata ia juga pandai menipu.
"Kamu yakin, apa mungkin seorang wanita sendiri dalam kamar bisa membuat kamar itu berantakan seolah ia baru selesai bercinta dengan dahsyatnya." Ujar Arga. Lisa pikir pertengkaran kecil mereka sudah berakhir dengan Arga meminta maaf tadi, tapi lihatlah pria itu kembali menunduhnya dengan sesuatu yang sayangnya sangat-sangat tepat sekali.
Tapi bukan Lisa namanya jika ia mengiyakan apa yang dituduhkan suaminya itu.
"Kamu menuduhku?" Teriak Lisa sembari memukul-mukul dada Arga. " Kamu menuduhku hanya karena kamar yang berantakan?" Lanjutnya lagi tidak terima dengan tuduhan Arga.
__ADS_1
"Jika kamu tidak melakukan hal menjijikkan itu, lalu apa ini. Haaah." Teriak Arga sembari menarik bathrobe yang di gunakan oleh Lisa, membuat jejak yang di tinggal sang pelayan itu terpampang jelas di depan matanya.