
Setelah dibujuk oleh Arga akhirnya Lita sedikit tenang, sebab apa yang dikatakan Anton dan Arga memang benar, kalau dia sayang harusnya ia tidak menangis dan berpikir buruk tentang keadaan mommy.
"Sudah merasa lebih baik." Tanya Arga, pria itu mengusap wajah istrinya dengan penuh kasih sayang, menghapus jejak air matanya.
"Hmm," Lita mengangguk sembari bergumam sebagai Jawaban."Kapan kita akan foto bersama mommy?" Tanya Lita, ia mencoba untuk berpikir positif.
"Aku usahakan besok! Kamu nggak mau cari gaun pengantin seperti apa yang ingin kamu pakai?" Jawabannya sembari bertanya, Lita pun mengeleng.
"Cuma buat foto-kan! Jadi nggak perlu repot sewa aja." Ucapnya.
"Baiklah kalau begitu, nanti kamu temani mommy di sini biar aku sama bang Anton yang akan mengurus semuanya, kebetulan aku punya beberapa kenal di sini yang bisa membantu kita. Jangan nangis lagi dong! Kasihan anak kita diajak nangis terus." Arga mengangkat tangannya untuk mengusap pipi kemudian turun mengusap perut Lita.
"Cengeng banget sih! Manja biasanya juga nggak perlu dibujuk diam sendiri." Sindir Anton. Lita menatap tajam kakaknya."Apa emang benar kan."Lita langsung membuang pandangannya, karena dia tahu semakin dia meladeni Anton pria itu akan semakin menjadi mengerjainya.
"Abang jangan digangguin adek-nya, sayang sini."Tegur mommy Mayang seraya memanggil Lita untuk mendekatinya.
Anton pun terdiam sementara Lita langsung menghampiri mommy-nya, wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya kemudian diraih oleh Lita, ia menuntun anaknya untuk duduk ditepi ranjang, menggenggam erat tangan Lita.
"Jangan menangis! Melihat kamu menangis seperti ini membuat hati mommy sakit! Apa permintaan mommy terlalu berat?" Tanya mommy Mayang.
"Tidak mom! Bahkan Lita sendiri pun dapat mengabulkannya, mommy tahu itu."Sahut Lita dengan kedua mata yang sudah mulai berkaca-kaca tapi sebisa mungkin ia menahannya sehingga air matanya tidak sampai jatuh.
"Lalu apa yang membuat Lita menangis seperti ini?" Tanya mommy Mayang lagi sambil menepuk-nepuk punggung tangan Lita.
"Lita tidak tahu mom, tiba-tiba pengen nangis aja."Lita sengaja mengatakan hal ini kepada mommy Mayang karena dia tidak ingin mengatakan yang sejujurnya.
Dia tidak ingin mommy-nya semakin kepikiran dan sedih, begitu tahu dia memiliki ketakutan akan ditinggalkan oleh mommy Mayang.
"Kamu yakin?"
"Hmm."
"Kalau begitu jangan nangis! Kasih anak kamu! Dia pasti akan sedih melihat ibunya juga sedih." Mommy Mayang memeluk Lita." Mommy mau makan."Lita mengangguk, ia melepaskan pelukannya! Lalu mengambil makanan yang tadi diantar dan mulai menyuapi mommy Mayang.
Arga duduk di sofa bersama Anton, sembari memperhatikan Lita dengan telaten menyuapi mommy Mayang, sesekali ia akan menyahuti obrolan Anton atau mommy begitu mereka menanyakan sesuatu kepadanya.
"Jangan dilihat terus, entar besar kepala dia." Bisik Anton membuat Arga tersenyum.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Keesokan paginya, Arga dan Anton berpamitan kepada mommy Mayang, karena mereka harus mengurus segala sesuatu untuk pemotretan mereka hari ini.
Arga bersama Anton, menemui seorang fotografer profesional yang sudah ia hubungi semalam atas saran dari sahabatnya Kai.
__ADS_1
Begitu ketemu mereka pun berbicara dengan fotografer itu dan menentukan waktu pemotretan.
Setelah berdiskusi sang fotografer memutuskan, pemotretannya akan dilakukan sore hari, karena satu jam lagi ia memiliki jadwal pemotretan dan sore hari itu waktu sudah sangat pas.
Begitu selesai berbicara dengan sang fotografer Arga dan Anton pergi ke butik, untuk membeli gaun pengantin dan beberapa gaun lagi untuk Lita pakai, setelah memilih beberapa mode, Arga meminta pemilik butik itu untuk mengutus dua orang pegawai butik membawa gaun-gaun itu ke rumah sakit untuk di coba sama mommy Mayang dan Lita.
Tak lupa ia dan Anto juga membeli tuksedo untuk mereka, serta beberapa kemeja dan jas yang senada dengan warna gaun yang mereka pilih, begitu selesai, mereka langsung kembali ke rumah sakit.
"Ga, ini terlalu berlebihan, kita hanya pemotretan biasa, kenapa juga gaunnya, harus di beli segala." Protes Lita begitu pun dengan mommy Mayang.
" Iya nak! Mommy rasa kamu terlalu berlebihan menyiapkan semua ini." Sahut mommy Mayang membenarkan ucapan Lita.
" Mom, tidak ada yang berlebihan, karena aku ingin mengabadikan moment kebersamaan kita sebaik mungkin apalagi ini atas permintaan mommy." Selain untuk memenuhi permintaan mommy mertuanya, Arga juga ingin membuat foto pernikahannya dengan Lita.
"Aku setuju dengan Arga! Karena ini permintaan mommy, semuanya harus di siapkan se-terbaik mungkin."Anton pun turut mendukung Arga.
"Terserah kalian saja." Ucap Lita tidak ingin berdebat.
"Gitu dong! Sebagai anak yang sayang sama mommy-nya harusnya kamu mendukung apa yang kita lakukan." Lita memutar bola matanya malas mendengar ucapan kakaknya.
Sebab menurut Lita, rasa sayang dan cinta kasih itu tidak hanya diukur dari kemewahan, seperti yang dilakukan kakak dan suaminya ini, tapi dia juga tidak akan menolak keinginan mereka untuk membahagiakan mommy-nya.
"Mommy dan Lita silahkan dicoba bajunya, aku dan bang Anton akan menunggu diluar." Arga dan Anton pun meninggalkan ruang itu, begitu mendapat anggukan dari mommy Mayang.
"Abang yakin tidak ingin ikut?" Tanya Arga memastikan.
"Hmmm, pergilah."
Arga lalu meninggalkan kakak iparnya, ia akan berbicara dengan dokter yang menangani mommy Mayang, mengenai kondisi mommy mertuanya dan memastikan mommy Mayang bisa dibawa keluar sebentar untuk pemotretan.
Sementara didalam sana, Lita dan dua pegawai butik untuk membantu mommy Mayang, mencoba gaun yang dipilih Anton dan Arga untuknya.
Dan gaun-gaun itu, begitu cocok di pakai mommy Mayang, sehingga Lita memutuskan untuk mengambil semuanya untuk sang mommy, sementara ia hanya mengambil gaun pernikahan serta tiga buah gaun lainnya.
Begitu selesai dua pegawai itu, pamit untuk kembali ke butik. Setelah itu Arga dan Anton kembali masuk." Sudah mendapatkan pilihan yang mau dipakai?" Tanya Arga. Lita mengangguk sembari menunjuk deretan gaun-gaun yang tersusun di atas sofa."Kamu hanya memilih itu?"
Lita mengangguk, untuk apa memilih banyak-banyak, dia juga tidak akan memakai semuanya.
"Hanya untuk pemotretan-kan? Aku rasa itu sudah lebih dari cukup."
Arga mengangguk, pria itu tidak ingin berdebat dengan istrinya. Ia lalu menghampiri ranjang mommy Mayang. " Mom, aku sudah berbicara dengan dokter dan dokter telah mengizinkan Kita untuk membawa mommy keluar, tapi mommy harus janji! Kalau mommy merasakan sesuatu langsung bilang sama Arga ya."Ujarnya sembari mengusap punggung tangan mommy Mayang.
"Iya nak! Terima kasih karena kamu mu mengabulkan permintaan mommy."Arga mengangkat kedua tangan mommy Mayang, lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Jangan berterima kasih, Arga juga anak mommy! Sudah seharusnya Arga ikut membahagiakan mommy! Arga nggak mau mommy anggap sebagai orang lain." Sahutnya.
Mommy Mayang tersenyum sembari mengangguk kepalanya, ia bahagia karena anaknya mendapatkan pria sebagai Arga ini, pria yang tidak malu mengakuinya sebagai seorang ibu padahal status sosial mereka bagaikan bumi dan langit.
Tidak hanya mommy Mayang! Hati Lita pun ikut menghangat melihat sikap sang suami yang begitu baik kepada mommy.
Tapi Lita tetaplah Lita, secepatnya ia langsung menepis perasaan itu. "Gaun, izin dari dokter dan fotografer sudah siapa, tinggal mencari lokasinya saja." Ucap Anton. " Ga ayo, Nanti lagi ngomong sama mommy-nya, kita cari lokasi pemotretan dulu." Ajaknya kemudian melangkah keluar ruangan mommy-nya.
"Mom, Arga pergi dulu ya." Ia kembali mencium punggung tangan mommy Mayang. Lalu menghampiri Lita. Sayang tolong jagain mommy aku ya." Pintanya seraya mencium pipi Lita.
"Enak aja! Mommy aku."
"Mommy kita sayang." Sahut Arga dari balik pintu yang baru saja tertutup itu.
"Lita, sayang sini." Panggil mommy Mayang, begitu mereka kembali ditinggalkan berdua.
Lita mendekati mommy Mayang, ia duduk pada sisi ranjang ibunya." Ya mom."
"Menurut kamu Arga gimana?" Tanya mommy Mayang, wanita itu merasa sudah saatnya ia berbicara kepada Lita akan perasaan mereka.
"Arga Baik, penyayang dan perhatian juga."
"Hanya itu?"
"Iya."
"Kamu tidak memiliki perasaan kepada dia?" Mommy Mayang merasa harus sedikit melubangi tembok yang di bangun Lita, agar putrinya itu belajar mencintai orang yang mencintainya.
"Perasaan apa? Lita nggak punya perasaan apa-apa kepada kak Arga, walaupun begitu Lita tetap akan menghormatinya sebagai sumber."
"Harusnya perasaan kamu lebih dari sekedar rasa hormat." Ucap mommy Mayang. " Lita dengarkan mommy, tidak semua laki-laki itu sama dan mommy dapat melihat ketulusannya kepada kamu."
Lita mengeleng kepala, bukan karena tidak setuju dengan apa yang di katakan mommy-nya, tapi untuk menyingkirkan isi pikirannya yang ikut berpikir sama seperti mommy Mayang.
"Mommy minta maaf karena membuat kamu melihat sisi buruk lelaki. Mommy juga tidak akan memaksa kamu, mommy cuma ingin kamu tahu, laki-laki yang memperlakukan kita dan orang-orang di sekitar dengan baik, juga lemah-lembut, Tidak pernah meninggikan suaranya saat kamu melakukan kesalahan, tidak mudah mengangkat tangannya, selalu menggenggam tangan kita untuk menghadapi masalah bersama-sama adalah lelaki yang baik dan semua itu ada di Arga." Mommy Mayang sengaja menjeda ucapnya.
"Sebab itu harus melembutkan hati untuknya, kamu juga harus belajar mencintainya. "Sambungnya.
"Tapi Lita nggak bisa melakukan itu mom."
"Kenapa sayang?"
"Sebab dia juga mempunyai istri yang lain. Lita juga sudah memberikan semua kecuali hati, maaf mom Lita tidak bisa melakukan hal itu.
__ADS_1