Takdir Anak Wanita Malam

Takdir Anak Wanita Malam
Lebih baik!


__ADS_3

Wanita yang duduk bersama Steve, beranjak dari tempat duduknya, ingin ikut  membantu Lisa Dan pelayan itu namun Steven mencegahnya. "Sayang kamu tidak perlu melakukan itu, biar aku saja."


Stefan melakukan itu bukan karena dia ingin lebih dekat dengan Lisa tapi karena dia tidak ingin istrinya itu kesusahan saat berjongkok mengingat kandungan istrinya.


"Tapi_"


" Lily  sayang, dengarkan  aku, aku tak ingin terjadi sesuatu kepada kamu dan anak kita." Mendengar itu hati wanita yang dipanggil Lily itu langsung menghangat, wajahnya bersemu merah.


Lily merasa menjadi wanita paling beruntung karena dicintai Steve, prianya selalu memperlakukan dia dengan baik dan perhatian kepadanya juga  anak-anak mereka, Steve bahkan rela menahan hasratnya untuk tidak menyentuh Lily saat dia hamil mengingat kandungannya yang begitu lemah.


Dia juga sudah dilarang dokter untuk tidak hamil lagi, kerena hal itu akan sangat membahayakan, namun justru mempertaruhkan nyawanya agar bisa memberikan Steve seorang anak laki-laki dan bersyukurnya hasil USG anak ketiga mereka berjenis kelamin laki-laki. Lily berharap sampai lahiran nanti akan seperti itu.


"Sayang duduk lagi." Pinta Steve sembari menuntun Lily untuk duduk di tempat semula.


"By, kamu terlalu berlebihan memperlakukan aku, aku hanya ingin membantu mereka, aku rasa itu tidak akan aku dan kita." Tutur Lily, berharap suaminya mengerti, namun Steve justru menggeleng kepala tidak ingin dibantah." Kau ini." Sungutnya lalu duduk kembali.

__ADS_1


"Good girl."Steve mencium bibir wanita itu kemudian ikut membantu Lisa dan pelayan itu. Meninggal Lily  yang masih terdiam dengan rona merah yang telah menjalar sampai ke telinga nya.


Ia selalu dibuat salah tingkah dengan kasih sayang yang ditunjukkan Steve, untuknya.


Sementara itu, Lisa diam-diam melirik interaksi Steve dan wanita yang ia duga sebagai istri dari selingkuhannya.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Steve, pada pelayan yang membawakan makanan untuk Lisa.


"Ya saya baik-baik saja, tuan tidak perlu membantu saya, saya bisa melakukanya sendiri." Sang pelayan itu tidak ingin terkena masalah lagi untuk itu dia menolak niat baik Steve.


"Tidak  saya harus membantu kamu, jika tidak istri saya yang akan turun tangan sendiri untuk melakukan ini dan saya tidak ingin hal itu sampai terjadi." Ucap Steve, membuat Lisa mengepalkan tangannya tidak suka.


Namun Lisa tidak melakukan, karena dia belum ingin kehilangan ATM berjalannya atau lebih tepatnya partner  simbiosis mutualisme. Steve memberi Lisa uang dan kenikma-tan sementara Lisa memberikan selang-kangannya.


Dan melihat Steve bermesraan di depanya tanpa beban serta sikap pria itu, seakan tak mengenalinya telah melukai harga diri Lisa namun dia bisa apa selain menjadi penonton sekaligus figuran untuk Steve dan Lily.

__ADS_1


Lisa yang terlanjur terbakar api cemburu meninggalkan Steve dan pelayan itu tanpa sepatah kata pun.


Ia berjalan menuju toilet untuk membasuh wajahnya sekaligus menyegarkan pikirannya saat ini.


"Akkhh." Begitu Lisa keluar dari toilet usai mencuci muka, tangannya tiba-tiba di tarik seseorang orang.


" Sstttthh, Diam." Bentak Steve membuat  Lisa langsung terdiam seketika.


Steve membawa Lisa menjauh dari toilet lalu mengurung Lisa mengunakan kedua tangannya."Steve apa-apa sih kamu, sakit tahu." Keluh Lisa saat tangan besar Steve mencengkram kuat Tengkuk lehernya.


"Aku sudah bisa jangan pernah tujukan wajah kamu di depan istriku, kenapa masih nekat, ingin mati kamu? Hmm." Steve semakin kuat mencengkram tengkuk Lisa membuat wanita itu menjerit kesakitan namun tertahan tangan Steve yang sudah lebih dulu membekap mulutnya. " Sebaiknya kamu pulang sekarang dan jangan pernah lagi, kamu  tujukan wajah kamu di depan istriku kecuali kamu ingin hubungan ini segera berakhir." Ancam Steve, Lisa pun dengan cepat mengangguk kepala, barulah Steve melepaskan dirinya.


"Steve_"


"Sstttthh, pergi sekarang. aku tak akan mengulangi perkataan aku untuk kedua kalinya." Tegasnya membuat nyali Lisa menciut dan Lisa pun meninggalkan restoran itu dengan kemarahan tanpa sempat untuk makan siang.

__ADS_1


Jika ditanya apa Steve peduli? Jawabannya tentu tidak, selain selang-kangan Lisa tidak ada yang menarik dari diri Lisa dimata Steve, baginya Lily jauh di atas wanita bodoh seperti, Lisa ini tapi bodohnya ia justru  selingkuh dari Lily  dengan wanita seperti Lisa.


Steve mengatai Lisa tanpa berkaca lebih dulu, karena jika Lisa bodoh, maka dialah yang paling bodoh diantara mereka, sudah tahu salah namun masih di nikmati juga, sungguh miris sekali.


__ADS_2