Takdir Anak Wanita Malam

Takdir Anak Wanita Malam
Nggak papa!


__ADS_3

Suara percikan air shower terdengar di dalam bathroom, Lita berdiri dibawahnya sambil mendongak kepala dengan kedua mata yang tertutup rapat.


Tetesan air itu jatuh mengenai wajahnya, menyamarkan cairan bening yang itu keluar dari kedua kelopak mata Lita yang tertutup.


Raganya berada disini, tapi pikirannya ada bersama mommy-nya. Ia terus memikirkan wanita itu. Rasa terlalu sulit untuk dia bersikap biasa-biasa saja.


Terlalu lama melakukan hingga Lita tidak sadar jika Arga kini sudah berada di belakangnya."Kenapa tidak dilepas pakaian kamu, sayang." Bisikan itu disertai sebuah kecupan di pipinya membuat Lita tersadar dan perlahan membuka kelopak matanya dengan sedikit menunduk, ia melihat tangan kedua tangan kekar yang kini sudah melingkar di perutnya, sesekali mengusap perut Lita yang mulai terasa tonjolannya.


"Kalau ada masalah cerita, jangan pendam sendiri, jangan menghilang juga! Aku khawatir nyariin kamu dari semalam, belum lagi kamu sengaja matiin ponsel kamu." Ucap Arga dengan lembut, tidak ada kemarahan dari cara bicara dan kata-katanya.


Arga membenamkan wajahnya pada leher Lita, pria itu ikut merasakan pancuran air yang membasahi tubuh mereka berdua.


"Maaf." Suara Lita terdengar serak karena menahan tangisnya.


"Jangan minta maaf sayang! Kamu tidak punya salah apapun, aku mengatakan itu buka untuk membuat kamu merasa bersalah, aku mengatakannya karena ingin kamu tahu, aku khawatir sama kamu." Arga melepaskan pelukannya dari pinggang Lita, memutar tubuh itu dengan perlahan hingga dia dapat melihat wajah istri.


Arga mematikan shower itu lalu menyatukan dahi mereka sembari menahan tengku Lita." Kalau kamu belum ingin cerita, nggak papa aku nggak akan maksa kamu, tapi jangan di pendam ya rasa sedihnya, mau nangis-nangis aja, jangan menyiksa diri kamu, sayang. Karena aku nggak mau kalian berdua kenapa-kenapa." Ucapnya lagi dengan satu tangan turun untuk mengusap perut Lita kemudian menarik tubuh wanita itu untuk ia peluk, seketika itu tangisan Lita langsung pecah dalam pelukan suaminya.


Arga membiarkan Lita menangis, sembari mengusap punggung istrinya. Setelah tangisan Lita sedikit reda ia membantu wanita itu melepas pakaiannya yang sudah basah, lalu membersihkan tubuh istrinya itu, begitu selesai ia memakaikan bathrobe di tubuh Lita dan melilitkan handuk di pinggangnya sendiri, barulah setelahnya ia mengangkat tubuh Lita membawanya ke kamar dan membaringkannya di atas ranjang mereka.

__ADS_1


Arga menyelimuti Lita, lalu meninggalkannya masuk kedalam walk in closed untuk berpakaian.


Arga yang tahu suasana hati istrinya yang sedang sedih entah karena apa! Memilih mengurus wanita itu tanpa banyak bertanya, sebab kesedihan itu membuat Lita malas untuk melakukan apapun, termasuk mengurus dirinya sendiri.


\=\=\=\=\=\=\=


Ting... Tong...


Suara bel apartemen itu terdengar dengan begitu nyaringnya. Arga yang sedang berada di dapur membuat bubur untuk Lita karena tubuh wanita itu sedikit demam, menghentikan kegiatannya, lalu mematikan kompor sebelum meninggalkan masakannya untuk membuka pintu apartemen untuk tamunya.


Ceklek.


" Eh Han, masuk! dia udah pulang kok, itu lagi istirahat." Hani mengangguk-anggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam apartemen itu setelah di beri izin oleh sang empunya apartemen.


"Kak Arga lagi masak ya?" Tanya Hani, begitu melihat arpon yang digunakan Arga.


"Iya, aku buatin bubur aja sih! Kamu mau juga?" Tawar Arga. Hani yang lagi di fase pemakan segala pun mengangguk kepalanya. " Ya udah kamu kesana gih, sekalian temani dia, nanti aku antar bubur nya begitu siap."lanjutnya.


"Oke chef." Hani mengabungkan jadi jempol dan telunjuknya membentuk huruf o, setelah itu ia menghampiri Lita sedangkan Arga kembali ke dapur melanjutkan masakan.

__ADS_1


Setibanya Hani di ruang tempat Lita bersantai, Hani melihat sahabatnya sedang berbaring sambil melakukan. "Tha." Panggilnya.


Dan benar saja, Lita tidak menyahuti ucapan, wanita itu hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan mata yang kosong. Andai ada jin yang lewat pasti sahabatnya itu sudah kemasukan jin-nya.


"Lita." Panggil Hani lagi, namun wanita itu masih saja tidak meresponnya." THALITA."


"Astaga Haaniya! Copot jatung aku." Hani langsung nyengir lebar.


"Makanya jangan ngelamun, mikir apa? Kayanya sedih banget." Tanya Hani sembari mendaratkan bokongnya di samping Lita.


"Nggak papa, cuma lagi nggak enak badan aja!" Jawab Lita, wanita itu belum siap untuk bercerita kepada Hani, karena dia tahu wanita ini pasti tidak akan diam melihat mommy-nya sakit.


Hani tuh sayang banget sama mommy Mayang, walaupun wanita itu berkerja di tempat kotor, ia selalu mengingatkan mereka untuk tetap menjaga kehormatan mereka dan mommy Mayang mereka banyak belajar akan pahitnya hidup dari mommy juga mereka tahu tidak ada wanita di dunia ini yang ingin berakhir seperti mommy Mayang tapi keadaan itulah yang membuat mereka terjun ke dalamnya dan sulit untuk keluar.


"Berapa tahun kita kenal Tha?" Tanya Hani membuat Lita menengok kepadanya." Mommy kenapa? Mommy baik-baik aja kan?" Tanya Hani lagi langsung pada intinya.


"Han_"


"Jika kesedihan kamu karena hubungan kalian berdua, aku nggak akan maksa kamu Tha, aku tahu batas! Tapi jika kesedihan di wajah kamu ini karena mommy aku ingin tahu." Potong Hani sebelum Lita sempat untuk berbicara." Kamu tahukan, mommy Mayang itu sudah seperti mommy aku sendiri, jangan menyembunyikan apapun jika berhubungan dengannya." Lanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2