
"Ga kita mau kemana?" Tanya Lita sembari mencengkram erat tangan suaminya, membuat itu mengerutkan keningnya sekaligus memandang genggaman tangan mereka dan berpindah pada wajah Lita yang memucat.
Keduanya baru saja tiba di Jakarta dan sekarang sedang menuju apartemen. Setelah di jemput oleh seorang supir yang dari bandara.
"Kenapa?" Tanya Arga. Pria itu masih melihat gerak-gerik istrinya dan rasanya dia ingin tertawa.
Bagaimana tidak, Lita terlihat seperti anak remaja yang dilarang pacaran sama orang tua namun tidak bisa menolak saat diantara pulang kekasihnya.
Bingung, gugup serta takut bahkan wajah terlihat pucat." Sayang lihat aku." Ucap agar lagi, karena wanita itu tidak kunjung menjawab pertanyaan dan terus melihat keluar. " Ada apa,hmm." Tanya Arga untuk kedua kalinya sembari mengusap pipi Lita dengan sayang.
"Ini_"
" Ya ini jalan menuju apartemen Narendra dan Hani. Itukan ya ingin kamu katakan." Arga memotong ucapan Lita. Dan langsung di angguki wanita itu. "Dengar ya sayang, aku memang membeli sebuah unit apartemen bersebelahan dengan Hani dan Narendra, karena aku ingin kamu dekat dengan mereka, sampai pernikahan ini di Ketahui semuanya. Aku melakukan ini karena khawatir sama kamu, apalagi kamu lagi hamil dan aku tidak mau sampai kamu kenapa-kenapa. Karena aku tahu Narendra dan Hani akan menjaga kamu saat aku nggak ada." Ucap Arga.
"Tapi Ga, aku belum siap untuk menjelaskan semuanya, pada Hani aku masih membutuhkan waktu." Sahut Lita.
"Ya aku tahu sayang! Aku tahu dan kamu tidak perlu menjelaskan semua itu sekarang, karena aku yakin saat ini mereka Sudah beristirahat saat kita masuk ke apartemen itu. Mereka nggak akan tahu kamu tinggal di sana selama kita tidak mengatakannya." Arga meyakinkan Lita untuk tidak perlu mengkhawatirkan hal ini.
"Tapi, Ga_"
__ADS_1
"Ssstthh, percaya sama aku! Oke." Arga meletakkan jari telunjuknya pada belahan bibir Lita, agar wanita itu tidak perlu melanjutkan ucapannya yang hanya akan membuat dia semakin kepikiran.
"Kenapa hidup aku jadi serumit ini." Gumam Lita, namun masih bisa didengar oleh Arga.
Pria itu langsung menarik tubuh istrinya membawanya masuk kedalam pelukannya." Semua akan baik-baik saja." Ucapnya menenangkan sang istri.
"Kapan kita akan mengatakan semuanya pada Hani dan Narendra? " Tanya Arga setelah cukup lama keheningan melanda keduanya.
"Entahlah, tapi jangan sekarang." Jawab Lita. Membuat Arga sedikit kecewa pasalnya dia ingin memperkenalkan wanita itu sebagai istrinya, pada keluarganya namun Lita masih belum siap.
Bahkan Arga sudah siap menanggung kemarahan keluarganya dan adik-adiknya, sayang tidak lain sahabat dari istrinya, Ela dan Hani.
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya mereka tiba di basmane apartemen itu. Arga pun turun dari mobilnya kemudian membukakan pintu untuk Lita. Sementara sang supir keluar untuk menurunkan koper-koper mereka dari bagasi dan akan membantu membawakannya ke atas dimana unit apartemen mereka berada.
" Ayo sayang." Ajak Arga, sembari menggenggam tangan Lita ditangan kanannya sedang tangan satunya lagi menarik memegang tas Lita sembari menarik koper wanita itu dan dibelakang sana ada sang supir yang membawa dua buah koper dan ransel milik Arga.
Mereka masuk kedalam lift, lalu menutup pintu lift itu kemudian menekan angka lantai yang akan mereka tujuh.
Ting.
__ADS_1
Pintu lift itu terbuka, bersamaan dengan tangan Lita yang semakin dingin, bahkan genggaman tangan Arga pun tidak cukup membuat telapak tangan wanita itu menjadi hangat.
"Tenang semua akan baik-baik saja." Ucap Arga lagi, seraya menarik tangan Lita untuk keluar dari dalam lift. Pasalnya apartemen yang Arga beli bukan hanya di gedung yang sama. Tapi lantai pun sama sudah begitu saling berhadapan pula, siapa yang tidak akan gugup.
"Arga_"
Pria itu ingin tertawa namun kasihan melihat kecemasan di wajah istrinya. Apa seorang Haniya begitu menakutkan sampai membuat Lita se-takut ini.
" Silahkan." Ucap mempersilakan sang istri untuk masuk, begitu pintu apartemen itu terbuka.
Lita dengan cepat meleset masuk kedalam apartemennya, sementara Arga mengambil koper-koper mereka dari tangan sang supir.
Setibanya didalam apartemen itu, Lita mengelilingi ruangan untuk melihat-lihat unit apartemen yang akan ia tempati itu. Apartemen itu memiliki dua kamar, dapur kamar mandi umum, ruang tamu sekaligus ruangan bersantai dan ia bisa melihat pemandangan kota dimalam maupun siang hari dari tempatnya bersantai.
"Suka nggak?" Tanya Arga sembari melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Lita dan menenggelamkan wajahnya pada tengkuk leher wanita itu.
"Hmmm." Gumam Lita sebagai jawaban, sembari mengusap rambut Arga. Sesuatu yang paling Arga sukai dari seorang Thalita.
Entah mengapa dia begitu senang saat Lita mengusap rambutnya, mungkin karena sejak kecil kurang mendapat perhatian dari Anita, wanita yang membawanya ke dunia ini namun mengabaikan kehadirannya. Mungkin juga karena cinta, atau entahlah hanya Arga yang tahu kenapa dia begitu menyukai semua sikap Lita dan perhatiannya.
__ADS_1