
Setelah doa tujuh hari mommy Mayang selesai, Luna dan Melly memanggil Hani, lalu menarik tangan wanita itu untuk ikut dengan mereka.
Lita yang melihat mereka, bisa dapat menebak apa yang ingin di bicarakan kedua wanita itu dengan Hani.
Lita berharap Hani tidak langsung mengatakan semuanya, karena dia belum siap atau mungkin tidak akan pernah siap.
Sementara itu, setibanya mereka di salah satu kamar, Hani langsung didudukkan di ranjang sementara Melly dan Luna berdiri sembari menatapnya penuh maksud.
"Mom, Mah! Jangan lihatin Hani kaya gitu, emangnya Hani buat salah apa sampai di seret ke sini?" Tanya Hani.
Luna menarik nafasnya berat. Ia menelisik wajah menantunya itu Lalu melirik kepada Melly sahabatnya.
Melly pun mengangguk seakan mengiyakan apa yang ingin Luna tanyakan. "Hani jawab mama jujur." Pintanya sembari menatap serius menantunya.
"Iya mah. Mama mau tanya apa?"
"Lita Hamil-kan?"
Giliran Hani yang mendengkus kasar, dia sudah tahu suatu hari pertanyaan ini akan datang pada dirinya dan Hani sudah menyiapkan diri untuk menghadapi pertanyaan ini.
Tapi entah mengapa ketika ditanyakan langsung Hani jadi gugup serta bingung mau jawab apa, karena jika dia jujur! Hani tahu itu bukan kapasitas dia untuk mengatakan sebenarnya tapi tidak mungkin jika dia menjawab tidak tahu, bukankah itu sama saja dia membohongi orang tuanya.
"Iya mah?" Jawab yang paling tepat menurut Hani tanpa embel-embel lanjutnya, walaupun dia tahu setelah ini ada pertanyaan baru lagi.
"Hamil anak siapa?" Giliran Melly yang bertanya. Dan Hani merasa dirinya saat ini tengah di interogasi polisi.
"Anak suaminya_lah mom, masa anak suami aku. Ya nggaklah." Jawab Hani.
__ADS_1
"Hani mommy serius!"Ucap Melly.
"Hani juga serius mom."
"Memangnya Lita sudah nikah?"Tanya Luna. "Nikah sama siapa? Kok mama nggak tahu, bukannya kalian dekat Banget ya."
'Jangankan mama, Hani yang makan, sepiring, tidur sebantal dan segala sesuatunya sama dia aja nggak di kasih tahu, kalau bukan karena mereka ketahuan, apalagi mama.' salut Hani dalam hatinya, mana berani dia berkata seperti itu kepada mertuanya.
"Sudah mah, beberapa bulan yang lalu. Dia nikah sehari setelah hari pernikahan Lisa dan Arga. Dia juga nikah di bali mah." Jawab Hani jujur.
"Oh gitu ya, tapi hari itu mommy ketemu sama dia! Dia nggak ada bilang datang buat nikah, katakan dia di Bali buat kerja." Sahut Melly.
"Kalau soal itu, Hani tidak tahu, mommy dan mama silahkan tanyakan langsung ke orang." Ujarnya, dia tidak ingin sampai salah bicara.
"Mama nggak enak lah, sayang. Kamu kan tahu sendiri dia masih berduka masa iya kita kepo-in urusan pribadinya." Walaupun Luna dan Melly begitu ingin tahu, namun mereka juga tidak sampai hati mengorek masalah pribadi Lita disaat wanita itu sedang berduka.
"Ya sudah kalau begitu ditahan aja sampai dia dan suaminya cerita semuanya kepada mama." Tuturnya.
"Kan mama ingin tahu, jadi mereka harus kasih tahu mama dong, biar mama nggak kepo lagi, sekalian kenal sama menantu barunya." Lanjutnya, sembari membuat dua wanita itu bingung. " Sudahlah mom, mah! Nggak usah dipikirin, bila saatnya tiba mama juga akan tahu semuanya. Nggak ada lagi yang mau diceritakan, Hani mau gabung sama yang lain dulu." Tanpa menunggu jawaban kedua wanita itu Hani langsung meninggal mereka dengan perasaan bertanya-tanya.
\=\=\=\=\=\=\=
Sementara itu di tempat lain, Lita menghampiri Arga yang sedang duduk, bersama narendra, Ela, Kevin dan Kairan.
Lita sengaja mengambil tempat duduk di samping Narendra agar tidak ada yang menyadari hubungannya dengan Arga.
Sementara narendra yang melihat Lita mengambil tempat Hani, hanya membiarkan saja." Aku ingin bicara." Ucap Lita, pelan membuat mereka yang sejak tadi sejak tadi sedang bercanda itu langsung, terdiam dan menatap Lita juga Arga menunggu apa yang ingin Lita katakan kepada Arga.
__ADS_1
"Ayo, kita ngomong dikamar." Ajak Arga, pria itu berpikir jika Lita ingin membicarakan masalah yang serius jadi ia sengaja mengajaknya untuk bicara berdua saja.
"Nggak usah, disini aja." Tolak nya.
"Kamu yakin?" Lita mengangguk kepalanya." Ya udah mau ngomong apa?" Tanya Arga, pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Ga jangan maju, entar ketahuan mama kamu gimana?" Bukannya menjawab pertanyaan Arga Lita justru menyuruh pria itu untuk mundur sedikit kebelakang.
"Tha, sampai kapan kita harus kaya gini? Aku lelah harus terus sembunyikan hubungan ini." Lita menaikkan kedua bahunya tidak tahu.
"Ternyata beristri dua itu nggak enak ya! Tertekan." Sindir Kevin namun tidak dihiraukan oleh Arga maupun Lita.
"Nggak usah ngurusin orang, urusin aja tuh sih Nahla. Kalau perlu Nikahin sekalian." Ujar Ela.
"Naela dengar ya! Mau penjahat, preman, pembunuh, pendosa sekalipun. Pasti menginginkan wanita baik-baik untuk menjadi istri mereka, apalagi aku. " Sahut Kevin.
"Ela, Kevin Bisa diam." Tegur Narendra, membuat keduannya langsung diam. " Lanjut aja obrolan kalian, nggak usah hiraukan omong mereka." Sambungnya kepada Lita dan Arga.
Arga tersenyum kepada sang adik, lalu mengangguk kepalanya. " Kamu mau ngomong apa tadi?" Ia kembali fokus untuk mendengar apa yang di katakan Lita.
"Aku mau kerja lagi, bolehkan?" Tanya Lita, ia senjata menemui Arga untuk membicarakan hal ini.
Sebab Lita berpikir jika dia hanya berada didalam apartemen itu hanya akan membuatnya semakin sedih karena mengingat sang mommy.
Untuk itu dia ingin berkerja, siapa tahu dengan begitu dia mengalihkan kesedihannya dengan pekerjaannya.
"Kenapa harus kerja, sayang kamu sedang hamil." Arga berat jika harus mengizinkan sang istri untuk kembali berkerja.
__ADS_1
"Aku harus melakukan sesuatu untuk melupakan kesedihan aku Ga!" Sahutnya membuat Arga terdiam, memikirkan apa yang dikatakan Lita. "Boleh ya! Saat weekend aku akan tetap libur untuk menemani kamu."lanjutnya memohon berharap Arga dapat mengizinkannya.
"Baiklah, tapi jangan jauh-jauh disini saja dan nggak boleh capek." Lita mengangguk kepalanya.