
Lita berjalan menghampiri Lisa yang tengah berbicara dengan beberapa tamu undangan.
"Lisa." Sapa gadis itu membuat, parah tamu undangan yang sedang berbicara dengan Lisa langsung pamit undur diri begitu Lita mendekati mereka.
"Hai kamu disini juga! Aku pikir kamu tidak akan datang." Ucap wanita itu saat melihat Lita sembari tersenyum penuh arti kepada Lita." Upss aku lupa, kamu kan budaknya Hani, pasti kamu akan menuruti semua yang di katakan wanita itu." Lanjutnya mengejek.
Membuat kening wanita itu berkerut, namun sesaat kemudian Lita langsung menarik kedua sudut bibirnya keatas menunjukkan seringainya." Terima kasih atas pujiannya, aku begitu tersanjung mendengarnya." Balas Lita dengan tenang.
Sementara Lisa yang mendengarnya, tertawa. Entah apa yang di tertawa-kan wanita itu." Aku tuh sebenarnya kasihan sama kamu! Bertahun-tahun ikuti Hani tapi hidup kamu begini-begini saja, tidak ada perkembangan sedikitpun, bahkan semua yang kamu gunakan masih milik Hani, Oh kasian sekali! Kenapa kamu tidak mengikuti jejak ibumu, sekali membuka paha kamu bisa jadi simpanan pengusaha atau politikus yang suka mengoleksi wanita muda seperti kamu ini." Wanita itu terus menghina Lita usai meredakan tawanya.
"Terima kasih, karena sudah mengasihani aku, tapi aku tidak butuh di kasihani orang seperti kamu." Balas Lita, gadis itu kemudian mengeluarkan selembar cek dari tasnya dan memberi cek itu kepada Lisa." Ini hadiah dari Hani." Ucapnya.
Lisa yang melihat nominal pada Cek itu berdecak tidak suka. " Gayanya saja yang elit tapi memberi Hadiah begitu pelit." Ucap Lisa.
__ADS_1
"Bukan pelit, Tapi menurut Hani, suami kamu itu sudah kaya dan dia rasa kamu tidak akan membutuhkan cek itu lagi." Sahut Lita yang tidak suka mendengar Sahabatnya di hina, bahkan jika Hani mau dia dapat mengubur Lisa dalam tumpukan uangnya, tapi sayangnya wanita itu tidak suka memamerkan apa yang dia punya.
"Baiklah, aku akan menerima uang ini! Walaupun hanya cukup untuk tiga kali makan." Ucap Lisa, membuat Lita ingin menghancurkan wajah sombong wanita di hadapannya itu.
Bagaimana tiga, uang dengan nominal 25 juta dibilang hanya cukup untuk dua kali makan. Apa namanya kalau bukan sombong, bahkan dia saja hanya perlu seratus ribu untuk tiga kali makan itu pun masih ada kembaliannya.
"Baiklah, aku rasa tidak ada yang perlu aku bicarakan lagi, sekali lagi selamat." Wanita itu kemudian berbalik untuk pergi dari sana tapi..
" Tunggu." Ucap Lisa menahan Lita untuk tidak pergi. " Kita bersulang terlebih dulu setelah itu kamu boleh pergi." Lanjutnya.
"Sebenarnya tidak, tapi dengan bersulang aku merasa kalian ikut berbahagia dengan ku." Jelas wanita itu tidak masuk akal.
" Dasar aneh." Gumam Lita mencibir, namun ia tetap menuruti keinginan wanita itu, agar dia cepat pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Sementara Lisa sendiri memanggil pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka, sembari membawa dua gelas minum bersama merah itu lalu menyuguhkan minum itu kepada Lisa dan Lita.
Tanpa perasaan curiga Lita mengambil minum itu lalu keduanya pun bersulang, kemudian meneguk minuman itu sedikit-demi sedikit hingga tak bersisa.
Setelah itu Lita pun pergi, saat dia ingin keluar dari ballroom itu dia bertemu dengan Abi, adik sepupu dari Hani itu, mengajaknya berbicara, keduanya sempat berbicara sebentar sebelum seseorang memanggil Abi dan pria itu pun meninggalkan Lita.
Begitu Abi pergi Lita pun bergegas untuk kembali ke hotel Haaniya dan ketika dia sudah berada di luar ballroom itu, Kepala Lita tiba-tiba pusing, wanita itu merasa tidak nyaman dengan tubuhnya, hingga membuat ia hampir terjatuh.
" Hai, kamu baik-baik saja." Tanya seorang sembari menahan tubuh Lita, agar tidak sampai terjatuh.
"Iya." Jawab Lita sembari menepis tangan orang itu dari punggung dan lengannya.
" Kamu yakin." Tanya orang itu lagi, Dia kembali menahan Lita saat wanita itu akan kembali terjatuh.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku! Aku baik-baik saja." Bentak Lita, tak suka ia pun mencoba berjalan menjauhi orang itu dengan tubuh sedikit sempoyongan.
"Kamu mau kemana, sebaiknya kamu menginap terlebih dulu disini, keadaanmu tidak baik-baik saja." Ucap orang itu lagi namun Lita tidak mendengarnya.