Takdir Anak Wanita Malam

Takdir Anak Wanita Malam
Kamu Hamil Tha?


__ADS_3

"Telpon dari siapa, Azzam?" Tanya Hani begitu Narendra meletakkan ponselnya ke tempat semula dan membaringkan disamping Hani dengan menjadikan paha wanita itu sebagai bantalnya.


Tangan Narendra melingkarkan pada pinggang Hani dengan sesekali mencium perutnya yang mulai terlihat membesar namun tidak sampai menekan perut wanita hamil itu.


"Dari kak Arga."Jawab Narendra tanpa menghentikan kegiatannya mencium perut Hani.


"Kak Arga bilang apa?" Tanya Hani lagi.


"Nggak bilang apa-apa! Dia cuma nanya aku ada di apartemen atau tidak, Mungkin dia mau kesini." Jelas Narendra


"Sama Lisa?"


Narendra mengeleng kepalanya, lalu beranjak untuk duduk." Nggak honey, aku udah pesan sama dia kalau mau kesini nggak boleh bawah Lisa." Hani mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


Namun sedetik kemudian wanita itu ingat jika dia tidak memiliki apapun di apartemen untuk menjamu Arga nantinya, karena dia dengan Narendra sudah selesai makan malam.


"Azzam, kak Arga mau kesini kita nggak punya cemilan atau cake! Mending kamu ke bawah beli sesuatu buat kak Arga." Usul Hani.


"Ngapain, nggak usah repot-repot, masih ada buah sama air mineral, suguhi saja itu." Sahutnya, karena ia malas untuk pergi kemanapun. Lagian yang datang hanya Arga, bukan tamu penting juga.


"Nggak bisa gitu Azzam, walau bagaimanapun kak Arga itu tamu." Hani langsung beranjak dari tempat duduknya, kemudian menarik tangan suaminya untuk berdiri.


"Honey_"

__ADS_1


"Nggak ada alasan, kamu harus membeli cake buah kak Arga, aku juga mau sate. Ayo cepat." Titahnya sembari mendorong tubuh Narendra hingga keluar kamar, tidak hanya sampai disitu.


Hani juga mengantar Narendra sampai ke depan pintu apartemen mereka dan siapa sangka Keduanya justru bertemu Arga di sana.


Bukan, bukan Arga yang baru datang! Tapi lebih tepatnya Arga baru keluar dari unit apartemen didepan apartemen mereka itu dan yang membuat Hani lebih terkejut wanita yang berdiri dibelakang Arga.


Hani menatap Narenda meminta penjelasan apa dia tahu sesuatu, mengingat Hani tidak pernah keluar dari apartemennya. Dan Narendra mengeleng kepalanya. Karena pria itu sama seperti Hani tidak mengetahui apapun. Keduanya kini menatap Arga dan wanita di belakangnya.


\=\=\=\=\=\=


Arga dan Lita yang berencana untuk pergi ke dokter itu, dengan sangat terpaksa membatalkan rencana mereka, ketika mereka keluar dari unit apartemen itu. Sialnya bertepatan dengan Hani dan Narendra juga keluar dari apartemen mereka.


Lita yang tahu tidak akan bisa menyembunyikan semua ini lebih lama lagi, hanya bisa pasrah saat Hani meminta mereka masuk ke apartemennya.


Belum lagi wajah tanpa ekspresi itu, membuat Lita semakin gugup dan tak sanggup walaupun hanya sekedar membalas tatapannya.


"Apa ini Lita? Kenapa kamu sama kak Arga? Kamu tahukan kalau kak Arga itu punya istri! Lalu kenapa kalian bisa berada di apartemen yang sama? Kamu menjadi selingkuhannya?"Tanya Hani berturut-turut dengan ekspresi yang masih sama. Datar.


" Han,kakak bisa jelaskan." Sahut Arga.


"Aku nggak tanya kak Arga, yang aku tanya itu Lita." Teriak Hani. Wanita itu takut jika apa yang dia pikirkan benar dan dia tidak ingin sahabatnya salah jalan dengan menjadi simpanan pria di hadapannya itu.


Bukan karena apa! Tapi Hani tidak akan membiarkan sahabatnya di hina, apalagi dia tahu seperti apa Lisa, wanita itu akan semakin jadi memanfaatkan posisi sahabatnya untuk menjatuhkannya dan Hani tidak ingin hal itu terjadi.

__ADS_1


Hani sangat menyayangi Lita, Lita bukan hanya sekedar sahabat untuk Hani, Lita itu sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri tentu dia tidak akan pernah rela jika sahabatnya di sakiti.


"Aku dan Arga telah menikah?" Satu kalimat dari lita namun cukup untuk menjawab semua pertanyaan Hani.


"Apa?" Tanya Narendra dan Hani kompak. Bukan karena mereka tidak mendengar jawaban Lita, jawaban itu sudah sangat jelas. Namun hanya terlalu terkejut mendengar jawaban Lita.


"Ya, aku dengan Lita telah menikah, sehari setelah pernikahan aku dan Lisa." Sahut Arga memperjelas semuanya.


" Gila, lalu bagaimana dengan Lisa?" Tanya Narendra. Sementara Hani hanya terdiam, karena kepalanya mendadak pusing mendengar kabar mengejutkan itu.


"Lisa juga masih istriku, Senin sampai Jumat aku pulang ke Lisa dan weekendnya aku sama Lita." Jawab Arga, membuat beban yang selama sebulan ini ia pikul perlahan berkurang.


"Pantas mama selalu bilang kalau weekend kamu nggak pernah pulang." Gumam Narendra, masih bisa di dengar oleh mereka yang ada disitu." Terus susu hamil yang kamu beli itu buat siapa? Lita atau Lisa." Tanya Narendra ingin tahu, membuat Hani menegakkan tubuhnya menanti jawaban kedua orang dihadapannya.


"Susu itu buat Lita." Jawab Arga.


"Kamu hamil Tha." Walaupun sudah mendapatkan jawaban dari Arga namun Hani belum juga puas sebelum mendapatkan jawaban itu langsung dari mulut sahabatnya.


"Ya aku hamil dan rencananya ki_"


PLAK.


Satu buah tamparan mendarat dengan cepat dan tepat di pipi kiri Arga, membuat Lita tidak dapat melanjutkan ucapannya. Lita menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Dia tahu seperti apa pergerakan Hani dan Lita sudah bisa menebak hal ini pasti akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2