Takdir Anak Wanita Malam

Takdir Anak Wanita Malam
Hamil duluan


__ADS_3

Ting... Tong...


Suara bel apartemen itu berbunyi disaat mereka tengah asyik bercerita setelah ketegangan yang menyelimuti mereka beberapa saat yang lalu.


"Siapa?" Tanya Arga, namun Narendra hanya menaikkan kedua bahunya tidak tahu. "Kamu pesan makanan?" Tanya Arga lagi dan seperti sebelumnya jawab Narendra juga sama, ia tidak memesan makan ataupun menunggu seseorang.


Ting.. tong...


Suara bel itu kembali terdengar diikuti suara Hani yang meminta suaminya untuk membukakan pintu." Azzam, buka pintunya! Paling itu sih Ela sama Kairan." Ucapnya.


Arga dan Narendra langsung menatap bingung wanita hamil itu,"kamu mengundang mereka? Kapan itu." Tanya Narendra, karena setahunya istrinya itu hanya duduk manis saja, ia bahkan tidak menelpon siapapun.


Tanpa menjawab ucapan suaminya itu Hani langsung menunjukkan ponselnya kepada Narendra.


Ponsel itu memperlihatkan pesan yang dia kirim kepada Ela, tak sampai dua puluh menit yang lalu. 'Datang sekarang ke apartemen aku, jangan lupa ajak suami kamu dan beli aku sate dua puluh tusuk, jangan lama, jangan buat keponakan-keponakan kamu menunggu.' Isi pesan Hani.


"Sudah kan, sebaiknya kamu buka pintu untuk mereka, sebelum mereka merusak bel itu." Titah Hani, ketika suara bel itu kembali terdengar semakin kencang dan tanpa jeda.


Dangan terpaksa narendra pun beranjak dari tempat duduknya untuk membukakan pintu itu itu sementara Arga dan Lita masih menatapnya.


"Kalian sungguh berjodoh, sehingga kalian begitu kompak menatap aku." Ucap Hani.


"Han, Kitakan udah sepakat, untuk sementara hanya kita yang tahu untuk sementara waktu sampai aku punya alasan untuk menceraikan Lisa karena kesalahannya." Ucap Arga mengingatkan kesepakatan mereka beberapa menit yang lalu.


Sebab Arga sudah berencana untuk lepas dari Lisa, namun pria itu harus tetap menepati janjinya untuk Lita jika dia tidak akan menjadi Lita sebagai alasan untuk perceraiannya dengan Lisa, walaupun pada kenyataannya dia ingin menceraikan Lisa karena sudah ada Lita.

__ADS_1


"Aku tahu, tapi kan kak Arga sendiri yang bilang kalau Kairan juga tahu, jadi nggak papa dong kalau Ela juga tahu, toh dia bisa jaga rahasia." Sahut Hani.


" Hhuuuffhh, terserah kalian saja." Ucap Arga pasrah.


"Han ini pesan kamu." Ucap Ela meletakkan kantung berisi sate pesanan Hani." Kak Arga, ngapain disini? Kamu juga tha Kapan datangnya." Tanya Ela kepada Arga dan Lita.


"Dia sudah satu bulan disini?" Jawab Hani.


" Haah, satu bulan! Kok kamu nggak kabarin kita." Tanya Ela lagi.


"Nggak usah kaget gitu El, dia nikah aja kita nggak diundang, jadi nggak usah sok penting." Sindir Hani.


"Haah, nikah! Kapan? Sama siapa?" Tanya Ela tidak dapat menutupi keterkejutannya.


"Ngapain tanya kita El, aku juga sama seperti kamu, kalau mau tanya itu sama suami kamu, kan dia saksinya." Jawab Hani.


Ela kini berbalik mengabaikan Hani yang sedang mengeluarkan sate dari dalam kantung itu, kemudian ia letakkan di atas piring yang baru saja diambil oleh oleh Narendra di dapur.


Sementara Lita sendiri, terus menggenggam tangan Agra. Mencoba mencari kekuatan dari genggaman tangan pria itu, karena Lita takut, Ela akan menampar Arga sama seperti yang dilakukan Hani.


"Bang Kai! Apa yang dikatakan Hani itu benar?" Tanya Ela, sembari menatap tajam suaminya. Kairan yang gugup pun hanya bisa mengangguk kepalanya p tak ingin membalas tatapan Ela."Dengan siapa?"


" Arga." Jawab Kairan.


Lita berbalik menatap kedua orang yang sejak tadi hanya diam saja, padahal karena merekalah suasana tegang ini terjadi.

__ADS_1


"Kak, Tha benar kalian sudah menikah?" Tanya Ela.


Wanita itu sama berekspresinya dengan Hani sehingga mereka tidak bisa menebak entah dia marah atau senang.


" Ya aku dan Lita sudah menikah sehari setelah aku menikahi, Lisa! Tapi kamu jangan salah paham ini tidak_"


"Selamat datang kakak ipar, akhirnya kamu dan Hani menjadi kakak ipar-ku." Belum selesai Arga berbicara Ela sudah lebih dulu memotongnya. Sungguh diluar ekspektasi, Arga yang berpikir jika adiknya juga akan marah kepada dirinya sama seperti Hani, justru menabrak dirinya kepada Lita, memeluk tubuh di wanita itu dengan begitu eratnya.


"El, pelan-pelan kamu Lita sedang hamil." Ucap Arga, melihat Ela memeluk Lita sembari menindih tubuhnya.


"Benarkah?" Lita mengangguk.


"Cih, menyebalkan aku yang duluan nikah tapi mengapa kamu yang hamil duluan." Tanya Ela tak suka, buka karena dia tidak suka akan memiliki keponakan lagi, tapi dia juga ingin hamil dan punya anak. "Kalian nggak asyik." Sambungnya. Sembari duduk di samping Hani dan ikut menikmati sate yang dia beli untuk wanita itu.


"Bukan kita yang nggak asyik, mungkin Kairan-nya yang lemah." Sahut Narendra. " Maaf ya bung, bukan bermaksud meragukan tapi kenyataannya kamu kalah start dengan Arga ." Ucap narendra lagi, membuat ia dan Arga tertawa, sementara Lita dengan Hani hanya tersenyum berbeda dengan Ela yang cemberut.


"Puas ketawanya, Sahabat macam apa kalian ini." Tanya Kairan setelah kedua sahabatnya itu meredakan tawanya.


"Sorry Kai, kita cuma bercanda Jangan di ambil hati." Ucap Arga sedikit merasa bersalah.


"Ngapain minta maaf! Mungkin saja benar, kalau dia itu lemah." Sela Ela, yang masih diliputi rasa kesalnya.


"Oke sayang, kita buktikan setelah pulang dari sini."sahut Kairan dengan seringai liciknya.


Uhhukk uhhukk.

__ADS_1


Mendengar ucapan Kairan Ela langsung tersedak, wanita itu merutuki kebodohannya yang sudah salah bicara.


__ADS_2