Takdir Anak Wanita Malam

Takdir Anak Wanita Malam
Baik-baik saja


__ADS_3

Setelah weekend, Setiap orang harus kembali pada kesibukan mereka masing-masing di hari Senin begitupun dengan Arga.


Pagi itu dia telah rapi dengan pakaian kerjanya, siap untuk berangkat kerja tapi sebelum itu, seperti biasa menemani sang istri sarapan terlebih dulu.


"Bagaimana perasaan kamu hari ini sayang?" Walaupun dia tahu jawabannya, tapi tak ada salahnya jika ingin berbasa-basi.


Dia tahu Lita memang tak banyak bicara, tapi menjadi pendiam dan selalu melamun membuat Arga tidak suka.


Ingin sekali dia memaksa Lita untuk cerita, agar dia mudah dalam bersikap tidak seperti sekarang ingin. Ingin mengatakan semuanya akan baik-baik saja sulit, sebab dia sedang berpura-pura tidak tahu.


"Hmm, aku baik-baik saja." Terdengar helaan napas berat dari Arga. Dia tahu arti kata itu.


"Kamu yakin!" Lita mengangguk sembari memaksa bibirnya untuk tersenyum.


Arga pun ikut tersenyum, ia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Lita." Sayang, Kalau ada masalah, jangan disimpan sendiri! Kamu bisa kok cerita sama aku. Aku suami kamu Sayang, kamu bisa mengandalkan aku dalam segala hal, jangan sungkan hanya karena kamu istri kedua atau apapun itu yang ada dipikiran kamu, jangan." Arga semakin mengeratkan genggaman tangannya. " Aku nggak bisa ninggalin kamu, kalau kamu terus murung dan melamun seperti ini." Bujuknya berharap Lita mau membuka isi hatinya untuk Arga.


Sayangnya Lita, tetaplah Lita! Selain kepada Hani yang sudah mengerti seperti apa dirinya begitu sebaliknya, dia tidak mudah percaya kepada orang lain terlebih kepada mereka yang berjenis laki-laki.


Sikapnya kepada Arga Selama ini, itu sebagai bentuk rasa hormatnya kepada Arga selaku suaminya. Tapi untuk percaya dan cinta, itu masih sangat jauh! Sebab Lita sudah terlalu lama membangun tembok besar dihatinya Arga tidak semua orang bisa seenaknya masuk dan menghancurkannya.


"Percayalah, aku baik-baik saja! Kamu nggak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku." Wanita itu berharap Arga percaya kepadanya, tapi dia sendiri tidak percaya kepada pria itu.


"Baiklah, aku percaya! Tapi kamu harus janji, jika terjadi sesuatu langsung hubungi aku, janji." Pinta Arga, walaupun ia sendiri tidak yakin Lita akan melakukan hal itu, mengingat dia sendiri saja tetap diam seperti ini.


"Hmm." Gumam Lita.

__ADS_1


"Ya sudah, habiskan sarapan kamu." Lita menganggukkan kepalanya setelah itu mereka kembali sarapan dalam Diam.


Begitu selesai sarapan, Lita mengantar Arga ke depan pintu apartemen mereka.."Kamu baik-baik ya disini, jangan lupa makan, istirahat dan jangan banyak pikiran. Ingat dia juga ingin tubuh dengan baik." Ucap Arga, pria itu menangkup wajah Lita, lalu mencium hampir di seluruh wajahnya dan terakhir di bibir.


"Udah Ga." Lita menahan wajah Arga yang ingin menciumnya lagi, begitu melihat pintu apartemen di depan mereka terbuka. " Sana kerja! Nanti kamu telah." Sambungnya seraya menarik menarik tangan Arga untuk mencium punggung tangannya dua kali, kemudian membalikkan telapak tangan dan kembali Lita cium satu kali.


Sungguh sebuah pemandangan yang enak untuk dilihat, lebih enak lagi, kalau Lita melakukannya pakai hati bukan hanya sekedar menghormati Arga saja.


"Baiklah, aku berangkat sekarang! Ingat_"


"Langsung telpon kamu jika terjadi sesuatu atau aku membutuhkan sesuatu." Sela Lita, membuat Arga gemas dengannya, ia menarik tubuh Lita memeluknya.


"Ekkhmm," Narendra sengaja batuk untuk menggoda Kakak dan kakak iparnya.


"Sudah Ga, peluk terus nggak bosan kamu." Sunggut Lita.


Arga yang tidak ingin membuat suasana hati istri-nya semakin buruk, langsung menuruti keinginan Lita, ia mencium kening wanita itu lalu pergi dari sana, bersama Narendra yang sudah seperti pengganggu karena terus mengejak mereka sejak ia keluar dari apartemennya dan Hani.


Diwaktu yang sama, Lisa yang sedang terlelap, harus merelakan tidurnya terusik sebab dering panjang dari ponselnya.


Wanita itu perlahan mengulurkan tangannya, tanpa membuka kedua matanya! Ia masih ingin tidur setelah ini.


"Hmm." Gumam Lisa, terdengar serak khas bangun tidur.


"Siang nanti kita ketemu, jangan terlambat! Aku akan mengirim alamat cafe-nya." Ucap seseorang dari seberang sana membuat kedua mata Lisa terbuka, semua rasa kantuknya hilang entah kemana.

__ADS_1


"Steve, Argghhh sial, selalu saja begini." Kesal Lisa, baru saja ia ingin berbicara dengan pria itu, Steve sudah lebih dulu mengakhiri panggilannya.


Entah sadar atau tidak dirinya di perlakukan layaknya jala-ng diluar sana.


Dicari hanya saat di butuhkan saja! Kenyataan Lisa hamil pun tidak membuat sikap Steve berubah, pria itu hanya akan menemuinya dan memanjakannya saat ingin saja! Begitu ia selesai dengan keinginannya, dia langsung menghilang entah kemana.


"Kalau bukan karena uang dan tubuh kamu, aku sudah membuangmu, si-alan." Umpat Lisa, sembari melempar ponselnya begitu saja.


Ia beranjak dari tempat tidurnya lalu melangkah masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai dengan semua ritualnya, barulah Lisa keluar kamar untuk sarapan. " Wow, sang nyonya baru bangun rupanya. Selamat pagi nyonya." Ucap Nino, pria itu baru kembali dari luar kota dan tidak bekerja hari ini.


"Apaan sih nggak lucu." Sahut Lisa.


"Emangnya yang ngelucu siapa?" Ujar Nino sembari menatap Lisa dari atas sampai kebawah.


"Terus maksud kamu ngomong gitu apa?" Tanya Lisa. "Mau cari masalah sama aku."lanjutnya menantang.


"Yang mau cari masalah sama kamu siap? Aku kan cuma nyapa! Salah aku nyapa ipar aku?" Balas Nino.


"Emang nggak salah, tapi maksud kamu apa, ngomong nyonya-nyonya gitu, Hmm." Tanya Lisa sembari melipat kedua tangannya di dada.


"Oh sadar juga ya, kalau kamu bukan nyonya di rumah ini! Kok bersikap layaknya nyonya, bangun jam segini! Sedangkan mama aku yang jelas-jelas ratu di rumah ini udah bangun sejak dari lima. Punya otak nggak, Entah apa yang dilihat Kak Arga dari kamu." Sahut Nino.


Pagi tadi adik bungsunya, cerita jika Lisa bersikap seperti nyonya, nggak pernah bantu-bantu mama, bangun aja udah jam 9 kadang jam 10, Udah gitu tinggal makan aja, karena menurut dia mamanya masak itu buat mereka, tapi mamanya nggak mungkin melarang Lisa untuk makan. Nino pikir ucap adiknya itu karena tidak suka dengan keberadaan Lisa di rumah ini dan ternyata yang di ucapkan adiknya benar.

__ADS_1


"Aku nikah sama Arga tuh buat jadi istrinya, bukan buat jadi babu kalian, suka-suka aku dong mau bangun jam berapa! Arga aja nggak pernah larang aku, kenapa kamu sok peduli." Balas Lisa dengan tidak tahu malunya." Sana minggir aku mau sarapan." Sambungnya lagi, kemudian berlalu dari hadapan Nino dengan sedikit menyenggol bahunya.


Nino geleng-geleng kepala melihat tingkah Lisa, Satu buruk sifat Nahla saja sudah membuat dia dan mamanya pusing, kini di tambah Lisa.


__ADS_2