
Setibanya di apartemen, Arga langsung mencari keberadaan istrinya dan ia mendapati Lita di dapur, wanitanya sedang memasak sesuatu untuk mengganjal perut.
"Sayang." Panggilnya sembari melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Lita. " Masak apa, hmm?" Tanya Arga, pria itu melihat apa yang di masak sang istri dari balik pundak Lita.
"Spaghetti." Jawabnya.
Ingin sekali Lita memaki dirinya sendiri, dia sangat ingin bersikap dingin dan mengabaikan Arga.
Tapi begitu Arga datang sikapnya langsung berubah, ia menyambut hangat pria itu dan bersikap baik kepadanya.
"Kenapa makan itu? udah makan nasi belum?" Tanya Arga lagi.
" Sudah tadi sama Hani, ini juga karena kepengen aja." Jawabnya." Kamu mau juga?" Lanjutnya menawari Arga.
"Boleh." Arga mencium pipi Lita, seperti biasa Lita tidak pernah menolak sentuhan Arga pada dirinya.
"Duduklah di sana! Nanti kita makan sama-sama." Ujar Lita, menunjuk bangku yang ada di pantry itu, sebab ia kesulitan bergerak dengan tangan Arga yang berada pada pinggangnya.
"Bisakah aku begini saja." Lita mendengkus karena jika pria itu sudah meminta seperti ini, dia bisa apa selain membiarkan.
Lita tidak tidak menyahuti ucapan Arga, wanita itu fokus untuk menyelesaikan masakannya dengan Arga yang berada di belakangnya.
Beberapa menit kemudian masakan kita sudah siap, ia menyajikan spaghetti itu di piring untuk mereka berdua.
"Duduk dan makanlah." Ujarnya sembari meletakkan piring berisi spaghetti milik Arga.
Lita menarik kursi di samping pria itu untuk ia duduki, kemudian menikmati spaghetti miliknya sendiri.
__ADS_1
Wanita itu makan dalam diam sementara Arga Menikmati spaghetti itu sembari melihat wajah Lita.
Kedua sudut bibir arahkan tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman ketika ia mengingat sesuatu.
Lita dari hal itu mengerutkan keningnya. "Kenapa?" Wanita itu bertanya.
"Nggak papa, cuman aku baru sadar selama kita menikah baru kali kamu masak buat aku." Pria itu menatap wajah istrinya dan Lita bisa menangkap rona kebahagiaan di wajah Arga.
" Maaf aku selalu merepotkan." Ucap Lita, dia juga baru sadar jika selama ini selalu Arga yang melayaninya, tapi bukannya mau Lita seperti itu.
"Kamu tidak perlu minta maaf, aku hanya senang karena bisa merasakan masakan kamu. Ini enak! Aku suka." Lanjutnya jujur dan hanya direspon Lita dengan sebuah senyuman yang dipaksakan.
"Kalau kamu suka, mulai sekarang aku yang akan masak untuk kita." Ucap Lita.
"Tidak sayang, aku memuji masakan kamu bukan berarti kamu harus memasak setiap hari buat aku. kita bisa melakukan itu bersama-sama." Sahut Arga.
"Kamu sudah masak! Biar aku yang cuci piringnya." Arga mengambil piring bekas makannya dan Lita, lalu membawanya ke wastafel untuk ia cuci begitu mendapatkan anggukan kepala dari sang istri.
Arga segera mencuci piring bekas makan mereka, setelah itu ia menyusul Lita yang sedang duduk di ruang Santai sembari menatap pemandangan kota dari balik kaca besar di hadapannya.
Saat Arga datang Lita tampak melamun sehingga ia tak menyadari jika Arga kini sudah duduk di sampingnya. " Sayang, Kamu lagi mikirin apa?" Tanya Arga. Pria itu duduk di samping Lita mengusap rambut wanitanya.
Lita mengeleng kepalanya." Sayang_"
"Bagaimana hubungan kamu dengannya?" Beberapa bulan mereka menikah dengan komitmen tidak membicarakan dia saat Arga bersama Lisa dan begitupun sebaliknya, untuk pertama kalinya Lita berani bertanya tentang Lisa padahal dia sendiri yang membuat komitmen itu untuk menghargai satu sama lain tapi pada akhirnya dialah yang melanggarnya.
"Baik." Jawab Arga tak yakin karena selama ini pria itu jarang pulang ke rumah orang tua angkatnya, dia lebih banyak menghabiskan waktu di kantor, menginap disana dan seringkali ke Singapura untuk menemani Anton tanpa sepengetahuan Lisa maupun Lita.
__ADS_1
"Dia juga lagi hamil kan?" Arga mengangguk kepalanya. "Ella yang cerita sama aku." Lanjutnya lagi menjelaskan karena tidak ingin Arga salah paham dengan dirinya.
"Ya usia kandungannya sama dengan kamu?" Lita kembali ke mode diam, Mendengar jawab Arga membuat ia semakin digerogoti perasaan bersalah.
Dia tidak ingin anaknya, bernasib sama sepertinya, lahir dan tumbuh besar tanpa seorang ayah! Tapi dia juga tidak tega membiarkan anak wanita lain berada di posisi itu.
Setiap kali Arga memanggilnya dengan sayang, mengutamakan perasaan cintanya, Lita merasa seperti di cambuk! Tidak enak rasanya berada diposisi ini, ingin menerima tapi orang lain tersakiti.
"Kalau aku minta kamu untuk memilih siapa yang akan kamu pilih?" Tanya Lita, ia mengubah posisi duduknya lalu berhadapan dengan Arga.
"Sayang kenapa kamu bertanya seperti itu, apa yang menganggu kamu." Alih-alih menjawab pertanyaan Lita, Arga justru balik bertanya. Pria itu tidak sadar jika jawabannya saat ini membuat keraguan di hati bisa semakin membesar.
"Aku cuma bertanya bukan meminta kamu untuk langsung memilih! Kamu hanya perlu menjawab saja, tapi kalau kamu tidak mau menjawab juga, nggak apa-apa." Ujar Lita.
"Aku akan memilih kamu." Ucap arka dengan yakin, akan tetapi Lita tidak yakin dengan ucapan Arga.
Tidak ingin bertanya lebih jauh yang mungkin hanya akan membuatnya semakin merasa bersalah, Lita memilih mengalihkan pembicaraan mereka.
"Besok kamu jadi ikut aku?" Tanya Lita.
" Hmm, aku ingin bertemu kakak ipar juga mertuaku, bukankah sudah seharusnya aku mengenal mereka." Lita mengangguk." Kenapa kamu tanya tentang Lita sayang, bukannya kamu yang melarang aku untuk membicarakan dia saat bersama kamu?" Lita pikir obrolan mereka tentang hubungan Arga dan dirinya telah berakhir.
"Aku hanya bertanya itu pun ada kalaunya. Tidak bermaksud apa-apa sungguh." Sahut Lita, terdengar helaan nafas berat dari Arga.
"Oke aku percaya dan aku harap kamu kamu juga percaya kepadaku. Dan suatu Hari nanti aku ingin kamu tidak merasa bersalah untuk apapun yang akan terjadi di antara kita bertiga, kamu cukup tahu apa yang aku lakukan nanti tidak ada hubungannya dengan kamu dan kamu tidak perlu merasa bersalah untuk itu." Lita tidak menyahuti ucapan Arga pria itu menatap kedalam manik hitam suaminya mencari sesuatu yang dapat ia artikan. Namun yang dia dapat justru perasaan cinta Arga untuknya.
"Jangan terlalu banyak berpikir, cukup kamu tahu aku cinta kamu." Arga menarik tubuh Lita lalu memeluk wanitanya, sesekali ia mencium puncak kepala Lita. " Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku, sayang! Aku tidak ingin kehilangan sebuah keluarga untuk kesekian kalinya." Ujarnya lagi, membuat Lita memejamkan matanya menikmati rasa sakit yang tiba-tiba menyentuh hatinya, namun wanita itu sekuat mungkin menepis rasa yang mungkin ada namun pikirannya menyalakan hal itu.
__ADS_1