
Setelah menempuh perjalanan kurang dari 20 menit akhirnya Lita dan Arga tiba di hotel milik Haaniya.
" Terima kasih kamu boleh membawa pergi mobil itu, besok aku akan menyuruh seseorang untuk mengambilnya ke hotel tempat kalian menginap." Ujar wanita itu kemudian beranjak turun dari dalam mobil lalu berjalan meninggalkan Arga begitu saja.
Wanita itu berjalan dengan tergesa-gesa walaupun beberapa kali dia hampir terjatuh namun dia kembali bangun dan terus berjalan menjauh dari mobilnya dimana Arga masih duduk di sana sambil melihatnya.
Setelah punggung Lita hilang dari pandangannya, Agar tidak langsung pergi, pria itu justru keluar dari mobil Lita kemudian berlari menyusul gadis itu, Entah mengapa Arga begitu khawatir dengan keadaan Lita dan ia penasaran apa yang terjadi dengan Lita sehingga gadis itu bisa seperti itu.
Arga menjulurkan tangannya ketika pintu lift yang dinaiki Lita hendak tertutup, membuat wanita itu mengerutkan keningnya bingung mengapa Arga terus mengikutinya harusnya lelaki itu kembali karena Lita yakin istrinya pasti sedang menunggunya saat ini.
"Kenapa kamu mengikuti aku lagi," tanya Lita sembari memandang tak suka pria di sampingnya dengan tangan kanan yang terus memijit kepalanya yang terasa begitu pusing, belum lagi rasa panas ditubuhnya, membuat Lita ingin melepaskan semua pakaiannya saat itu juga tapi bersyukurnya akal sehat wanita itu masih berkerja dengan baik saat ini, sehingga dia dapat menahan itu semua.
"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja! Lagian ini hotel, bagaimana kalau kamu salah masuk kamar dan membuat masalah." Lanjutnya terdengar masuk akal, walaupun Arga sendiri bingung kenapa dia begitu khawatir dengan wanita itu sampai meninggalkan istrinya sejauh ini.
Padahal mereka tidak begitu dekat sebelumnya, apa benar semua ini karena Ela sang adik atau karena alasan lain, Entahlah untuk saat ini Arga tidak mau banyak berpikir, dia hanya ingin mengikuti kata hatinya untuk menolong wanita itu, bukankah menolong seseorang adalah sifat yang mulia.
"Terserah kamu." Ucap Lita, tak peduli, lagian percuma menyuruh lelaki itu pergi, toh dia juga tidak akan pergi dan untuk keadaannya sekarang rasanya tak mungkin jika Lita harus mengunakan kekerasan untuk mengusir pria itu.
Ting...
__ADS_1
Bunyi pintu lift yang terbuka, Lita pun hendak melangkah keluar, namun rasa panas dan tidak nyaman di tubuhnya, membuat wanita itu terjatuh di depan lift.
Arga pun langsung menolongnya, ia mencoba membantu Lita, namun wanita itu terus memberontak dan menjauhi Arga, sehingga membuatnya semakin tersiksa, belum lagi setiap sentuhan Arga membuatnya semakin ingin di sentuh lagi dan lagi oleh pria itu.
"Sialan arrrhggghh." Teriak Lita sembari mengigit bibirnya sendiri agar ia tidak kehilangan kewarasannya.
"Hai kamu kenapa, jangan melakukan hal itu." Ucap Arga sembari menarik dagu Lita, agar wanita itu tidak menyakiti dirinya sendiri.
Plak.
Lita menampar tangan Arga, yang berani menyentuh dagunya. Dalam keadaan seperti ini wanita itu masih saja keras kepala dan tidak menerima sentuhan laki-laki.
" Aku tidak membutuhkan bantuanmu, pergi kamu." Sentak Lita sambil mendorong pria itu untuk menjauh darinya, membuat Arga semakin bingung namun ia tidak kunjung pergi dari sana, pria itu justru dengan berani menggendong Lita ala bridal style." Kamar kamu nomor berapa." Tanya Arga tanpa menurunkan Lita, sekalipun wanita itu terus memberontak tetapi Arga justru semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Lita.
Lita yang sudah semakin kalah dengan reaksi obat itu, hanya bisa menangis sembari memohon untuk Arga melepasnya, sebelum dia benar-benar kehilangan kendali atas dirinya.
" Aku akan meninggalkanmu begitu aku memastikan kamu sampai di kamarmu, aku janji." Ucap Arga menyakinkan, Lita pun terpaksa memberitahu nomor kamarnya.
Setibanya di kamar Lita, wanita itu meminta Arga untuk menurunkannya di kamar mandi dan menyuruh Arga untuk meninggalkannya.
__ADS_1
Arga pun menurutinya, pria itu kemudian meninggalkan kamar Lita. Sementara Lita sendiri langsung melepaskan seluruh pakaiannya lalu mengguyur tubuhnya di bahwa pancuran air shower.
Ia berharap dingin air itu dapat menghilangkan panas di tubuhnya, namun hal itu hanya sia-sia, karena ia hanya merasa nyaman sesaat dengan telapak tangan dan kaki yang mulai keriput karena kedinginan.
Lita beranjak dari bawah guyuran air shower itu, kemudian melilit handuk di tubuhnya! Karena ia harus ke rumah sakit, dia tidak bisa terus menahan gejolak di tubuhnya yang ingin di sentuh.
Saat keluar dari kamar mandi Lita mendapati Arga masih berada di kamarnya, karena pria itu baru saja mengantar ponsel Lita yang tertinggal di mobilnya.
Awalnya Arga ingin membiarkan karena dia sudah setengah perjalanan menuju hotel tempat dia menginap namun ponsel Lita terus berdering membuat Arga memutar balik mobilnya Lita untuk mengantar ponsel wanita itu dan disinilah dia saat ini.
Bertepatan dengan Lita yang sudah tidak bisa menahan dirinya, tanpa banyak bicara, wanita itu berjalan menghampiri Arga lalu menciumnya.
Sementara Arga begitu terkejut dengan apa yang dilakukan Lita hingga ia lupa caranya menolak. " Tolong bantu aku, aku janji ini akan menjadi rahasia kita." Bisik Lita.
Arga yang minim akhlak pun tidak dapat menolak permintaan itu, apalagi tubuh Lita yang hanya di Balut handuk itu, terlihat begitu menggiurkan dimatanya.
Pria itu langsung menyambut baik permintaan Lita dan lupa jika pagi tadi dia baru saja menikah.
Sungguh diluar dugaan, pagi tadi dia menikahi Lisa dan malam pertamanya sama Lita.
__ADS_1