
Hal yang paling menyakitkan itu, kenyataan yang tidak seindah ekspetasi, mungkin itulah yang dirasakan Lita saat ini.
Bagaimana tidak, disaat dia sudah sangat yakin untuk pergi dan semua telah berjalan lancar sejauh ini.
Dia justru ditampar kenyataan di detik terakhir dengan kehadiran pria itu di sana.
Lita yang seharusnya tengah duduk di kabin pesawat menikmati perjalanannya menuju tempat yang baru justru berakhir di kamarnya.
Rencana dan semua bantuan dari Dino, hanya sebuah kebodohan yang Lita lakukan untuk membuang-buang waktu karena pada akhirnya diketahui oleh Arga.
Keinginannya untuk terbebas dari rasa bersalah justru terhempas begitu saja. Arga yang terlihat tenang nyatanya sangat peka akan keadaan, dia pandai membaca situasi serta perubahan disekitarnya.
Jika tidak begitu mana mungkin dia bisa berada diposisi saat ini, walaupun terlahir berkecukupan tetap saja mereka harus punya kepintaran serta kepekaan untuk mengembangkan apa yang sudah ada untuk tetap bertahan dan semakin berkembang.
__ADS_1
"Sayang, mau sampai kapan kamu menangis seperti ini." Tanya Arga, pria itu duduk di lantai sembari bersandar pada nakas samping tempat tidur melihat istrinya yang menangisi tanpa tahu kapan akan berhenti.
Lita duduk pada pinggiran ranjang meletakkan kedua tangannya di atas ranjang lalu menenggelamkan wajahnya di sana.
"Huufftt, haaffft." Arga menarik dan menghembuskan nafasnya dengan perlahan ia mendekati Lita menarik lengan wanita-nya, lalu menangkup salah satu pipi Lita agar wanita itu tidak lagi menghindari tatapannya.
"Sayang lihat aku, kamu baik-baik saja-kan?" Tanya Arga sembari menatap wajah sembab Lita, hidung memerah, mata yang mulai mengecil karena terus menangis serta pipinya basah, walaupun dia yakin pertanyaan itu tidak tepat, mengingat Lita menangis seperti ini mana mungkin dia akan baik-baik saja." Sayang, katakan kepada aku, apa kata-kata aku saat mengajak kamu menikah waktu itu terdengar seperti sebuah ancaman, sampai kamu harus merasa se-tersiksa ini menjalani hubungan denganku. Jawab aku sayang, agar aku dapat menentukan sikap atas inginmu." Lanjutnya meminta kejujuran sang istri.
Arga mengerti tanpa perlu bait kata yang panjang untuk Lita menjelaskan semuanya.
"Sekarang, buka mata kamu! Lihat aku." Pinta Arga sembari nangkup kedua pipi Lita tanpa melepaskan pandangannya dari wanita itu.
Dan perlahan Lita pun membuka kedua matanya, melihat kedalam mata Arga seperti yang di inginkan pria itu."Janji kamu akan menjawab jujur kepada aku." Pintanya lagi penuh harap. Lita mengangguk kepalanya yakin, walaupun kedua sudut matanya terus saja mengeluarkan cairan bening.
__ADS_1
"Apa kamu merasa nyama di samping aku?" Tak butuh waktu lama, Lita dengan yakin mengangguk kepalanya, sebab kenyataannya memang seperti itu." Sayang sama calon anak kita?" Jawaban yang sama Lita berikan walaupun hanya berupa anggukan kepala.
"Apa kamu sayang sama aku?" Lagi, Arga bertanya.
Lita tidak munafik dia sayang kepada pria di hadapannya ini," Hmm." Itu saja sudah cukup untuk membuat seorang Arga terbang tinggi.
Pria itu langsung membenamkan bibirnya pada belahan bibir istrinya, melu-matnya dengan begitu lembut.
Arga melepaskan ciumannya begitu merasakan tubuh Lita yang semakin bergetar hebat, wanita itu menangis dalam diam tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Arga.
"I-iya, ak-ku sayang sama kamu! Tapi aku nggak kuat dengan perasaan bersalah itu, aku ingin menyerah untuk semua, mungkin hidupku memang tak pantas untuk diberi warna, ak_"
"Ssstthh, Jangan berbicara seperti itu sayang, aku sayang kamu! Kamu nggak boleh mengalah untuk perasaan bersalah itu. Aku dan kamu sudah melangkah jauh sampai di sini, bertahanlah dan lawan perasaan itu untuk aku dan calon anak kita jika kamu menyayangi kita berdua, kamu juga berhak menunjuk warna mana yang ingin menghiasi hidup mu, jangan mengukur kemampuan kamu dengan berpikir, ketahuilah kamu lebih kuat dari yang kamu tahu, perasaan bersalah kamu perlahan-lahan akan hilang dengan sendirinya dan ingat ada aku, aku mencintai kamu lebih dari yang kamu tahu, aku tidak akan membiarkan kamu kalah dengan perasaan kamu sendiri, kita lawan perasaan itu bersama-sama." Ucap Arga sembari mengusap pipi Lita lalu memeluk wanitanya.
__ADS_1