
"Dari mana kamu?" Tanya Arga, begitu Lisa masuk kedalam kamar Arga. Wanita itu terlihat seger dengan rambut yang sedikit basah.
"Aku dari rumah teman aku!" Jawab Lisa, tidak ada rasa gugup ataupun ketakutan sedikitpun.
Seakan apa yang dia ucapkan adalah sebuah kebenaran. "Teman yang mana? Teman atau ayah anak kamu." Tanya Arga lagi tepat sasaran.
"Arga jangan keterlaluan ya kamu." Teriak Lisa tidak terima, pria itu terus saja menuduhnya, walaupun tuduhan Arga sepenuhnya benar tapi Lisa tidak akan mengakuinya begitu saja. " Apa salah aku! Kenapa kamu berubah dan selalu menuduhku seperti ini." Lisa mulai mengeluarkan air matanya.
Berharap Arga akan luluh, tapi sepertinya dia salah, bukannya luluh Arga semakin kejam menuduhnya.
Pria itu menghampiri Lisa, mencengkram rambut Lisa dan menariknya dengan kuat hingga wanita itu mendongak menatap padanya."Hentikan air mata si-alan mu itu, aku tahu apa yang kamu lakukan diluar sana Lisa, jangan kira aku bodoh dan kamu pikir aku tidak tahu rencana busuk kamu menikahi aku! Kamu terlalu percaya diri." Ucapnya sembari mencengkram rahang Lisa mengunakan tangannya yang bebas.
Membuat wanita itu menitihkan air mata yang sesungguhnya, karena Arga tanpa belas kasih menyakiti dirinya.
"Breng-sek kamu, Ga! Lepas sakit." Jerit Lisa, namun Arga tidak memiliki belas kasihan sedikitpun. Pria itu seakan menjelma menjadi orang lain.
"Tahu sakit juga? Saat kamu nyakitin hati Hani, bahkan yang dia rasakan jauh lebih sakit dari ini, tapi apa kamu peduli?" Tanya Arga dengan senyum iblisnya.
"Argghhh, lepas sakit si-alan." Lisa memukul kuat tangan Arga, namun hal itu tidak membuat cengkraman tangannya lepas." Aku menyesal menikahi kami, kamu breng-sek." Teriak Lisa, semakin dia memberontak semakin dia merasakan sakit.
Dan inilah yang Arga mau, dia ingin memberikan penyesalan untuk wanita itu." Menyesal? Ingin cerai?" Tawar Arga.
"Nggak akan, mau kamu bunuh aku sekalipun aku tidak akan pernah mau cerai dari kamu." Balas Lisa. Dia tidak peduli Arga akan menyakitinya, yang dia tahu dia membutuhkan pria itu untuk status.
__ADS_1
"hahaha, terus-lah bertahan dan kamu akan lihat apa yang bisa aku lakukan untukmu." Pria itu semakin kuat mencengkram rahang Lisa, menancapkan kuku-kukunya disana, hingga ia meringis kesakitan.
Siapapun yang melihat Arga seperti ini, tidak akan percaya jika orang ini adalah Argani Aditya Sanjaya, pria yang terlihat baik menurut namun memiliki sisi lain yang kejam, jika sisi itu di tunjukkan kepada Luna, maka mama tirinya itu tahu dari mana datangnya sisi buruk itu.
"Argkkhh_"
Tok.. tok.... Tok..
"Mas Arga, mbak Lisa di tunggu ibu dan bapak, buat makan malam." Suara pelayan itu membuat Lisa terselamatkan.
"Kamu beruntung."Ucap Arga sembari menghempaskan tubuh wanita itu, ke lantai, lalu meninggalkannya begitu saja.
Arga turun untuk makan malam bersama orang tua angkatnya. Tak lama setelah itu Lisa pun ikut turun usai merapikan penampilannya serta menutup luka yang disebabkan Arga mengunakan foundation.
Ditempat lain Lita selalu di ajak Narendra dan Hani, untuk makan bersama, siang hari wanita itu akan berada di apartemen Hani seharian sampai narendra pulang, mereka akan makan malam bersama setelah itu barulah Lita akan pulang ke apartemennya.
Seperti sekarang ini, ketiganya tengah duduk menikmati makan malam mereka.
"Kakak ipar! Bahagia nggak hidup seperti ini?" Tanya Narendra setelah meneguk segelas air di depannya.
"Bahagia! Karena aku masih di beri kesempatan untuk bernafas dan berkumpul dengan sahabat aku." Jawab Lita yakin.
"Bukan itu yang aku maksud! Tapi hubunganmu dengan bang Arga." Sahut Narendra, sembari memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Kenapa kamu ingin tahu sekali?" Tanya Lita.
" Hanya ingin saja! Karena jika kamu tidak bahagia atau merasa terbeban, katakan itu. Karena aku dan Hani akan ada dibelakang kamu mendukung kamu untuk setiap langkah yang akan kamu ambil. Hani menganggap kamu lebih dari segalanya jika kamu tidak bahagia, istriku pun tidak akan bahagia." Jawab Narendra.
"Seandainya jika aku ingin pergi sejauh mungkin darinya, apa kalian akan membantu?" Tanya Lita membuat pasangan suami istri itu saling memandang.
"Tentu saja! Tapi ada syaratnya."
" Apa?"
"Jadi benar kamu akan pergi?" Tanya Hani.
"Ayolah Han, ini hanya seandainya." Sahut Lita.
"Aku harap juga begitu dan kamu nggak boleh menyembunyikan apapun dari aku, terkecuali urusan ranjang dan masalah dalam rumah tangga yang memang tidak boleh kamu ceritakan." Tegas Hani. Lita mengangguk kepalanya.
"Apa syaratnya."
" Kamu tetap harus mengabari aku dan Hani, dimana pun kamu berada."ujar Narendra.
"Hanya itu."
"Hmm, tapi ingat! Jika kamu berani melanggar aku akan memberinya jalan untuk menyeretmu pulang."
__ADS_1
"Cukup, pembicaraan kalian seakan semua ini bukan seandainya." Tegas Hani tidak suka. Membuat kedua orang itu langsung terdiam.