Takdir Anak Wanita Malam

Takdir Anak Wanita Malam
Khawatir


__ADS_3

Pagi harinya, wanita itu kembali mengeluarkan isi perutnya, yang sudah tidak ada apa-apa itu. Karena untuk minum saja, rasa begitu sulit untuk karena mual yang dia rasakan.


Membuat tubuh Lita lemas dan hanya bisa terduduk di lantai kamar mandi itu, Nur yang melihat keadaan Lita pun sangat kasihan dengan wanita itu.


"Mbak bangun, jangan duduk disini, lantainya dingin nanti mbak tambah sakit." Ucap Nur sembari membantu Lita untuk duduk.


"Sebentar saja biarkan aku seperti ini," pinta Lita karena wanita itu benar-benar merasakan pusing, bahkan penglihatannya pun mulai menggelap.


" Mbak, harus kuat! Kita pindah ke ranjang nanti habis itu mbak boleh istirahat di sana." Bujuk Nur.


Wanita itu tidak tega jika harus membiarkan Lita duduk di lantai kamar mandi itu.


"Mbak pusing, lemas itu karena mbak belum makan apa-apa! Harusnya mbak tetap makan walaupun mbak merasakan mual, biar mbak ada tetap kuat." Bujuk Nur. Wanita itu kemudian, membantu Lita untuk berdiri lalu mengantarnya menuju ranjang bahkan Lita sudah beberapa kali hampir terjatuh namun Nur menahannya dengan baik.


" Aku ambil makanannya mbak ya?" Tanya Nur, tapi dengan cepat Lita mengeleng kepalanya.


Sebab baru mendengar kata makanan saja dia sudah, perutnya serasa di aduk-aduk di dalam sana.


Paling nggak mbak harus minum air sedikit buat membasahi tenggorokan mbak.

__ADS_1


Sebenarnya Lita ingin menolak seperti tadi, tapi melihat usaha Nur untuk membantunya makan dan minum. Lita pun menerima gelas itu dari tangan Nur, lalu meneguknya dengan perlahan dan sedikit demi sedikit hingga segelas air putih yang sengaja dikasih sedikit perasan jeruk nipis dan madu itu, tersisa setengah.


"Mbak apa tidak sebaiknya kita ke dokter saja, untuk memeriksa kesehatan mbak." Usul Nur lagi, namun Lita menolak usulan itu karena tidak ingin semakin merepotkan gadis yang telah banyak membantu itu.


"Sebaiknya kamu pulang, mandi terus istirahat aku nggak papa kok sendiri. Sekali lagi terima kasih ya Nur." Ucap Lita.


Walaupun tidak tega namun pada akhirnya Nur pun meninggalkan Lita sendiri didalam kamar itu. Sesuai yang dia inginkan.


Begitu Nur pergi Lita kembali memejamkan matanya dan kembali terlelap.


\=\=\=\=\=\=\=\=


" Selamat datang pak Dino." Sang security dan beberapa pelayanan yang sedang berada di lobby itu langsung menunduk memberi hormat kepada kepada Dino, sekalipun pria itu sudah melarang mereka melakukan hal itu namun mereka tetap melakukannya.


"Bagaimana pekerjaan kalian? Apa ada kendala?" Tanya Dino.


" Semuanya berjalan lancar dan tidak ada masalah, pak." Jawab salah pelayan hotel mewakili mereka semua.


" Syukurlah kalau begitu?" Ujar Dino merasa lega.

__ADS_1


" Oh iya? Mbak Lita nya kemana? Apa dia di ruangan kerjanya?" Tanya Dino lagi.


" Mbak Lita tidak di ruangannya pak." Jawab sang pelayan itu lagi, " mbak Lita sepertinya masih di kamarnya, karena beliau sedang tidak enak badan beberapa hari ini." Lanjutnya menjelaskan. Dino pun mengangguk kepalanya paham.


" Terima kasih! Kalian boleh kembali berkerja sekarang." Ucap Dino, membubarkan mereka, setelah itu ia langsung menuju lift yang akan mengantarnya ke lantai atas dimana kamar lita berada.


Pria itu ingin langsung mengabari Hani jika saat ini Lita sedang sakit, namun ia mengurungkan hal itu dan memilih memastikan dulu Lita sakit apa.


Setibanya dilantai kamar yang Sama dengan Lita, Arga tidak langsung menuju kamar wanita itu, dia lebih dulu pergi ke ruangan kerja Hani untuk mengambil kunci cadangan untuk berjaga-jaga jika Lita tidak membukakan pintu untuknya, setelah mendapatkan apa yang dia cari.


Pria itu langsung menuju kamar Lita, menekan bel lalu menunggu lima menit, saat pintu itu tidak terbuka Dino kembali mengulang lagi sampai tiga kali.


Hingga ia memutuskan untuk membuka pintu itu dengan kunci di tangan. Saat pintu itu terbuka, Dino melangkah masuk kedalam, mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu mencari Lita.


Hingga ia menemukan wanita itu, terbaring tak sadarkan diri di depan pintu kamar mandi.


Tanpa banyak berpikir, Dino langsung mengangkat tubuh Lita, wanita yang sudah ia anggap layaknya adiknya sendiri itu. Kedalam gendongnya lalu membawanya ke rumah sakit karena dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Lita, melihat wajah wanita itu yang begitu pucat.


" Kamu kenapa? Semoga kamu baik-baik saja." Dino yang khawatir bibirnya terus melafalkan doa agar Lita baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2