Takdir Anak Wanita Malam

Takdir Anak Wanita Malam
Lita sini!


__ADS_3

Setelah diizinkan untuk bekerja lagi, Lita pun kembali ke hotel grand secret, membantu Dino di sana kehadiran Lita  sangat membantu Dino, mengingat banyak hal yang harus pria itu tangani seorang diri, sesekali dia dibantu Narendra juga karena Hani sudah Narendra minta untuk istirahat mengingat usia kandungannya yang sudah semakin besar.


Sekalipun dibantu Narendra, tetapi pria itu hanya dapat membantu sebisanya karena dia juga punya perusahaan yang tidak bisa selalu ia abaikan. Untuk itu Dino sangat bersyukur dengan kehadiran Lita kembali di hotel.


Walaupun begitu Lita tetap diringankan dalam urusan pekerjaan mengingat wanita itu juga sedang mengandung saat ini.


Selain Lita, Anton juga telah kembali ke Bali  menggantikan Lita yang seharusnya ada di sana sekaligus mengawasi pembangunan hotel baru mereka.


"Bagaimana perasaan kamu hari ini?" Tanya Dino, begitu keduanya keluar dari ruang meeting. Hampir tiap hari pria itu menanyakan perasaan Lita.


"Jauh lebih baik." Jawab Lita, Dino mengangguk.


"Capek nggak?" Lita mengeleng kepalanya." Syukurlah, kalau capek langsung istirahat aja, jangan dipaksakan." Lita mengangguk.


"Kak! Udah makan." Giliran Lita yang bertanya.


"Sudah tadi? Kamu sudah makan?" Lita senyum sembari mengeleng kepalanya. " Mau kakak temani makan siang di bawah?" Tawar Dino.


"Nggak usah, kak Dino sibukkan! Nanti Lita sendiri aja! Sekalian mau cari angin sejenak." Sahutnya.


"Kalau nggak mau ditemani, tadi Kenapa tanya."


"Kan cuman nanya."


"Terus tadi kalau kakak belum makan mau diajak gitu?"


"Nggak juga."


"Kamu ini." Dini mengacak-acak rambut Lita, gemes membuat wanita itu tertawa. " Gitu dong! Senyum kan cantik. Jangan sedih-sedih lagi. Mommy sudah bahagia di sana,oke. Kalau nanti butuh sesuatu jangan sungkan minta sama kakak."


"Iya kak, Lita ke bawah dulu." Lita langsung berbelok kearah lift begitu mendapat anggukan dari Dino.


Ting....


Pintu lift terbuka Lita langsung masuk kedalam Lift itu, ia akan turun ke restoran yang ada di lobby untuk makan siang.


Saat berada didalam lift ponselnya  yang sajak tadi ia genggam berdering panjang, menandakan ada panggilan masuk, ia pun langsung menjawabnya setelah melihat id penelepon dilayar ponselnya.


"Sayang, lagi apa? Udah makan belum." Tanya sang penelpon, siapa lagi kalau bukan Arga, pria selalu menghubungi Lita disaat ia memiliki waktu senggang dan menanyakan pertanyaan yang sama seperti sekarang ini.

__ADS_1


"Ga! Kamu nggak bosan ya! Pertanyaan selalu itu-itu aja! Sekali-kali diganti." Keluh Lita. Pria itu seakan tak ada lelahnya mengingatkan dia untuk makan.


"Kamu diingatkan aja sering abai sayang, apalagi nggak! Aku nggak mau anak dan istriku sampai melewati waktu makan mereka." Ujar Arga.


Pria itu selalu melimpahkan kasih sayangnya serta perhatiannya untuk Lita, namun hal itu belum juga cukup untuk menembus dinding pertahanan Lita, sebab wanita itu selalu bersikap biasa saja setiap Arga menunjukkan rasa sayangnya.


Ting...


Pintu lift itu kembali terbuka, Lita keluar dari lift itu lalu belok kanan menuju restoran sembari berbicara dengan Arga.


"Bukan mau aku kaya gitu! Tapi nggak selera gimana dong." Sahut Lita beralasan.


"Terus sekarang udah makan belum." Tanya Arga lagi.


"Ini aku udah di restoran mau makan."


"Baru mau makan?" Tanya Arga nada suaranya terdengar tidak suka." Sayang ini jam berapa?"


"Ga, aku baru ingin makan sekarang, kalau dipaksa ntar aku mual"Tutur Lita.


Terdengar helaan nafas berat dari seberang sana, wanita itu suaminya tengah berusaha untuk menahan kekesalannya.


"Hmm." Lita pun mengakhiri panggilan mereka bersamaan dengan seseorang yang memanggil namanya.


"Lita."


Lita menolehkan kepalanya kearah datangnya suara itu dan ia sedikit terkejut saat mendapati mertuanya-lah yang memanggilnya.


"Lita sini." Lita menghampiri mertuanya itu."


"Iya Tante!" Jawabannya sembari menghampiri  mertuanya lalu mencium punggung tangannya.


"Kamu mau makan juga kan?" Tanya sang mertua yang tidak lain adalah Luna.


"Iya Tante." Jawab Lita gugup.


"Makanya sama Tante ya, kebetulan Tante juga baru mau makan siang, karena seminarnya baru selesai." Lita mengangguk kepalanya ragu."Duduk sini sayang." Luna menarik kursi disampingnya itu untuk diduduki Lita.


Lita pun tidak bisa menolak ia, siang itu ia menemani Luna makan siang. Dan sengaja mengabaikan panggilan Arga. Pria itu kembali menghubunginya lagi untuk memastikan dia sudah makan atau belum, tapi Lita justru mengabaikan panggilannya membuat Arga yang berada di perusahaannya cemas.

__ADS_1


Sudah lebih dari sepuluh kali menghubungi Lita, namun panggilannya selalu dia abaikan.


"Kamu kerja di sini?" Tanya Luna. Sembari menyesap jus-nya yang baru diantarkan oleh pelayan, sementara Lita masih berdiam di tempatnya menunggu pesanan makannya.


"Iya Tante!" Jawabannya, sembari melirik ponselnya yang terus bergerak di atas pangkuannya.


Sebelum dia duduk bersama Luna, Lita sudah lebih dulu mematikan nada dering ponselnya.


"Kamu sudah lama berkerja di sini?" Tanya Luna lagi.


"Iya." Lita semakin gugup berlama-lama dengan Luna.


" Kenapa kamu gugup begitu! Nggak suka makan siang sama Tante?" Tanya Luna sembari menelisik wajah menantunya itu.


Lita mengeleng kepalanya!" Nggak kok Tante."


"Syukurlah. Jangan sungkan sama Tante, anggap aja Tante, ini mama kamu sama seperti Hani dan Ela." Lita tersenyum getir, ia seakan ditampar tangan tak kasat mata karena ucapan Luna.


Dalam hati ia terus bertanya-tanya, apa Luna akan Terus bersikap seperti ini setelah mengetahui siapa dia sebenarnya.


"Permisi, mbak Lita! Ini pesanannya." Seorang pelayan mengantar pesanan makanan Lita.


"Terima kasih." Ucap Lita sembari tersenyum hangat kepada pelayan itu.


"Sama-sama mbak. Silahkan dinikmati." Pelayan itu langsung pamit, meninggalkan meja Lita dan Luna.


Setelah pelayan itu pergi, keduanya menikmati makan siang mereka dalam diam.


Sementara itu ditempat lain Arga yang khawatir sang istri tidak dapat dihubungi. Meninggalkan ruang kerjanya dan menyusul Lita ke hotel tanpa sepengetahuan wanita itu.


Selama diperjalanan ia menghubungi Dino untuk menanyakan keberadaan istrinya.


Dino memastikan keberadaan Lita, melalui pegawai hotel yang berkerja di restoran setelah itu, ia memberitahukannya kepada Arga.


Pria itu seperti orang kesetanan mengendarai mobil dari kantor sampai ke tempat Lita berkerja dan tidak membutuhkan waktu lama ia pun telah berada di lobby hotel, melangkah dengan tergesa-gesa menuju restoran.


Setibanya di restoran itu, Arga langsung mencari keberadaan Lita, ia menajamkan pandangannya ke seluruh ruangan itu hingga mendapati Lita yang sedang duduk bersama seorang wanita.


Arga tidak menyadari wanita yang duduk bersama Lita, dengan langkah lebarnya, ia menghampiri Lita lalu mengecup pipinya. "Sayang, kamu membuat aku khawatir." Ucapnya, sembari tersenyum lega sementara Lita justru membeku ditempat dan tak bisa berkata-kata, rasanya Lita ingin menangis saat itu juga.

__ADS_1


Lain halnya dengan wanita yang sejak tadi menemani Lita, ia menatap keduanya penuh tanya dan Arga belum menyadari akan hal itu.


__ADS_2