
Seorang wanita duduk diruang tunggu sembari menatap tiket pesawat di tangannya. " Hani maafkan aku, aku tidak tahu kenapa aku menjadi seperti ini dan maaf karena aku tidak bisa menemani kamu."
Lita memejamkan matanya, menghirup banyak-banyak udara disekitarnya berharap hal itu dapat menghilangkan sesak di dadanya.
Wanita itu terlalu banyak berpikir, ia tidak sadar jika stress juga dapat mempengaruhi kehamilannya.
"Huufftt," ia menghembuskan nafasnya, lalu membuka kedua matanya." Haaah."Nafasnya langsung tercekat saat melihat seseorang duduk di depannya diikuti suara tangisannya, bahkan tiket yang sejak tadi dia pegang langsung terjatuh.
Sementara orang itu tidak melakukan apapun hanya duduk diam sembari menatapnya namun sukses membuat jantung Lita berpacu dengan begitu hebat dan menangis sejadi-jadinya.
Beranjak dari tempat duduknya, pria itu menghampiri Lita yang menangis sembari menutup wajahnya mengunakan kedua telapak tangan, ia berjongkok di hadapan Lita, seraya meletakkan kedua tangannya di atas paha sang wanita.
"Kamu mau kemana, Hmm." Tanya pria itu , tangannya bergerak mengusap paha wanitanya, berharap hal itu dapat meredakan tangisannya tapi sayangnya Lita Justru semakin terisak.
__ADS_1
Dia sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan wanita ini menangis dengan hanya melihatnya saja.
"Sayang! Apa aku memiliki salah? Apa aku pernah jahat sama kamu, aku merasa tidak pernah memaksa kamu tapi kenapa kamu menangis seperti ini dan ingin pergi sembari membawa hartaku yang paling berharga." Ingin sekali ia mengeratkan pelukannya pada tubuh kesayangannya tapi dia tidak melakukan hal itu karena memikirkan calon anaknya yang akan sesak didalam sana jika dia mengikuti keinginannya.
Ya pria yang sejak tadi berjongkok dihadapan Lita adalah Arga. Wanita yang menangis itu tidak tahu seberapa besar perasaan Arga untuknya hingga ia bisa menemukannya sebelum melangkah terlalu jauh.
Arga mungkin terlihat cuek dan membebaskan dirinya melakukan apa saja! Tapi tanpa Lita ketahui semua pusat perhatian Arga ada padanya.
Seperti dua jam yang lalu, disaat Lita berpikir pria itu tengah fokus menenangkan Adiknya ternyata kenyataannya tidak seperti itu.
Pamit sebentar kepada yang lain kemudian melangkah menyusul Lita dengan jarak yang lumayan jauh tapi masih bisa melihat arah pergi istrinya.
Saat Lita masuk kedalam taksi dan taksi itu mulai berlalu dari hadapannya, Arga berjalan dengan santai menuju mobilnya, ia langsung pulang ke apartemennya mengikuti kata hatinya.
__ADS_1
Setibanya di sana Arga melihat Lita yang keluar dari taksi namun taksi itu tidak langsung pergi membuat kening pria itu mengerut, ia mengurungkan niatnya untuk pergi, mencari posisi yang pas Arga mobilnya tidak di ketahui Lita dan dapat menyusul taksi itu tanpa kendala.
Entahlah, feeling-nya mengatakan jika wanita itu akan pergi lagi. Dan benar saja tak lama setelahnya Lita keluar sembari menenteng ransel yang selama ini ia simpan, Arga bukan tidak tahu akan keberadaan ransel itu dengan segala isinya dia tahu namun memilih diam.
Taksi itu keluar dari pelantaran gedung apartemen mereka dan Arga pun segera menyusul, hingga taksi itu berhenti di bandara.
Perasaan Arga bercampur, takut, marah, kecewa melihat Lita keluar dengan tergesa-gesa dari taksi yang dia tumpangi.
Pria itu memarkirkan mobilnya dengan asal lalu memberikan kunci mobilnya kepada security untuk di parkiran dengan benar. Ia berlari kecil mengikuti langkah Lisa.
Mengepalkan tangannya saat melihat wanitanya berbicara dengan pria yang dia tahu adalah bodyguard adik iparnya yang kebetulan juga dekat dengan sang istri.
Begitu pria itu pergi arga kembali mengikuti langkah Lita, walaupun dia sangat ingin memberi Bogeman mentah kepada bodyguard adik iparnya itu namun pria itu urungkan untuk nanti memilih fokus untuk Lita dan disinilah dia, dihadapan wanita itu.
__ADS_1
Tidak tega melihat istrinya menjadi pusat perhatian, Arga mengambil amplop yang sejak tadi dipegang Lita menyimpannya ke dalam tas lalu menyapirkan ransel itu punggungnya, lalu beranjak untuk berdiri, sedikit membungkuk kemudian mengangkat tubuh Lita ala bridal.
Arga melangkah pergi dari sana dengan Lita dalam gendongannya tanpa kendala sama sekali, ia bahkan tidak pedulikan tatapan orang-orang serta pertanyaannya yang tidak dijawab oleh Lita.