
"Han, El! Aku pengen makan steak ayam nih! Temani aku ya." Pinta Lita, usai acara tujuh bulanan-nya sejam yang lalu, bahkan masih ada beberapa tamu undangan di rumah mertuanya itu.
"Minta bibi yang buat aja! Aku nggak bisa ninggalin Arend dan Al, apalagi mama masih sibuk gitu." Sahut Hani sembari melirik mertuanya yang sedang berbicara dengan beberapa ibu majelis.
Bukannya bermaksud untuk menolak tapi keduanya putranya itu masih terlalu kecil dan dia belum pernah meninggalkan mereka selama ini.
"Tapi aku pengen makan di cafe depan rumah sakit itu loh." Entah mengapa hari ini dia begitu ingin makan steak di cafe yang pernah dia dan Hani makan beberapa bulan lalu.
Membayangkan saja sudah membuat Lita berulang-kali menelan saliva-nya. Dan dia begitu ingin makan bersama kedua sahabatnya ini.
"Ya udah sama aku aja yuk." Ela mengerti jika sahabat merangkak naik menjadi kakak iparnya itu pasti sedang ngidam saat ini.
"Tapi aku mau makan sama kalian berdua."Ujar Lita terdengar seperti rengekan membuat Hani mende-sah pendek.
__ADS_1
Wanita itu tahu seperti apa rasanya menginginkan sesuatu dan seberapa kecewanya saat keinginan itu tidak terpenuhi.
Jujur ia tidak ingin mengecewakan sahabatnya itu, tapi dia juga tidak tega meninggalkan kedua putra. Membawa mereka keluar tentu saja itu tidak akan terjadi, mengingat usia keduanya baru genap satu bulan."Tha_"
"Ya udah kalau nggak bisa nggak papa lain waktu aja." Lita memilih mengalah, ia juga tidak tega jika dua keponakannya itu ditinggal.
Walaupun tatapan wanita itu, sangat jelas mengisyaratkan kekecewaan. "Baiklah kita pergi, Aku titip Al dan Arend ke mama dulu." Tanpa menunggu sahutan Lita dan Ela.
Hani langsung beranjak dari tempat duduknya, menghampiri sang mertua yang kini sedang berbicara dengan salah satu ibu majelis kenalannya.
"Kalian boleh pergi, nanti biar mama yang jagain mereka berdua, tapi jangan lama ya." Ujar Luna kepada anak dan menantunya. "Kamu puas-puas makannya, jangan ditahan."lanjutnya memberi pesan pada Lita sembari mengusap perut menantunya itu.
Wanita itu sangat bahagia karena sebentar lagi ia akan mendapatkan tambahan cucu, rumahnya ini pasti akan sangat ramai jika mereka berkumpul nanti.
__ADS_1
Setelah mendapatkan izin dari Luna, mereka pun pergi tapi tidak hanya bertiga sebab begitu mereka meminta izin kepada pasangan masing-masing ketiga pria itu merengek ingin ikut.' Kita ikut atau tidak sama sekali.' Ucap Narendra tidak ingin dibantah.
Sungguh bucin, sudah punya anak dua aja masih intil-in kaya anak ayam yang ikut kemana induknya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Ditempat lain, Nasib Lisa kini sungguh memprihatinkan, bagaimana tidak, wanita itu sudah tidak tinggal lagi di rumah Jayden setelah insiden di acara tujuh bulanan Hani.
Selain diusir oleh Jayden ia juga diceraikan oleh Arga. Lita yang tidak punya pilihan, terpaksa kembali ke rumah kakek! Awalnya ia ingin mengambil uang yang dititipkannya kepada Ria ibunya, tapi sayang wanita harus menerima kenyataan pahit Ria sudah pergi entah kemana dengan membawa semua uang-uangnya.
Wanita tidak bertanggung jawab itu justru meninggalkan sang ayah yang tengah sakit-sakitan. Sehingga Lisa-lah yang merawat kakeknya.
Baru satu Minggu di rumah itu, Lisa justru harus menerima kenyataan pahit jika rumah yang mereka tempati saat ini sudah digadaikan ke rentenir dan setiap hari ia serta kakeknya harus berurusan dengan para penagih hutan itu.
__ADS_1
"Kenapa semua jadi seperti ini." Gumam Lisa mempertanyakan nasibnya yang terasa menyedihkan.
Ia harus memikirkan cara untuk makan, bayar tebusan rumah dan uang bersalin nanti, menyesal ya dia menyesal pernah percaya kepada wanita yang mengaku ibunya itu, Lisa tidak menyangka orang yang paling dia percaya justru memperlakukannya sekejam ini.