
"Kak, tolong jangan kasih tahu Hani dan yang lainnya, aku sendiri yang akan memberitahu mereka," pintanya penuh harap kepada pria yang selalu menjaganya dan Hani itu." Dan aku masih bisa bekerja kok, aku yakin keadaan ini nggak akan lama." Lanjutnya.
Namun Dino justru mengeleng kepalanya tidak setuju begitupun dengan Arga.
Dino melangkah mendekati ranjang Lihat, berdiri disisi sebelahnya dan berhadapan dengan Arga."Tidak Lita, kamu harus istirahat, sampai kondisi kamu benar-benar siap untuk berkerja lagi. Kamu itu sedang hamil dan ibu hamil itu nggak boleh banyak pikiran dan kecapean." Tegas Dina sambil mengusap kepala Lita.
"Soal Hani dan kabar kehamilan kamu, kakak nggak akan ikut campur dan menceritakannya, jadi kamu nggak perlu khawatir. Selamat untuk kehamilan kamu, kakak mendoakan yang terbaik itu kalian." Ucapnya lagi dengan senyum tulus dan Lita pun membalas senyuman itu.
"Terima kasih kak, boleh peluk?" Tanya Lita.
"Boleh dong sini." Dino langsung membuka lebar kedua tangannya dan membawa tubuh Lita kedalam pelukannya. " Sehat-sehat ya, ingat nggak boleh banyak pikiran, kalau butuh sesuatu jangan sungkan untuk minta sama kakak oke." Pesan Dino sembari menepuk pundak Lita.
Sementara Lita sendiri hanya tersenyum dan mengangguk dalam pelukan pria itu.
Berbeda dengan Arga, pria itu seakan terbakar api tak kasat mata. Ia tidak suka wanita yang berstatus istrinya itu lebih dekat dengan pria lain, apalagi sampai berpelukan didepan matanya.
Ingin rasanya dia berdiri lalu menonjok wajah pria itu, tapi Arga sadar akan situasi saat ini, dia tidak ingin hal ini membuat Lita marah yang mungkin menyebabkan sesuatu yang bisa membahayakan calon anak dan istrinya.
"Ya sudah kakak mau pergi dulu! Kakak harus ngurusin lahan pembangunan untuk hotel yang baru. Nanti kalau sudah selesai kakak akan menjenguk kamu begitu kembali ke Jakarta." Ucap Dino, menyadarkan Arga dari kemarahannya itu.
__ADS_1
"Kakak nggak akan kesini lagi?" Tanya Lita, sembari melepaskan pelukan mereka.
" Nggak, lagiankan ada suami kamu! Kalian juga pasti membutuhkan waktu untuk berduaan kan."Jawab Dino menggoda wanita itu. " Hati-hati ya pulangnya, sampai bertemu di Jakarta. Kakak pergi dulu." Ucap Dino lagi.
Setelah itu ia pun pamit pergi, setelah mendapat anggukan dari pasangan suami istri itu.
Dino tahu bahwa Arga telah menikah sebelum menikah dengan Lita karena dia juga mendapat undangan pernikahan Arga dan Lisa hanya saja kesibukannya membuat dia tidak sempat menghadiri pernikahan itu.
Pria itu juga tidak ingin mengurusi urusan pribadi mereka selain mereka yang memintanya, untuk saat ini dia hanya bisa berdoa semoga pernikahan mereka berjalan langgeng.
Setelah Dino pergi ruangan itu kembali hening, keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
Lita mengeleng kepalanya. " Nggak, aku sudah kenyang." Jawab Lita.
"Kamu baru makan tiga sendok bubur tha." Sahut Arga. Bagaimana dia bisa percaya seseorang yang sudah tidak menyentuh makanan selama beberapa hari ini bisa kenyang hanya dengan tiga sendok bubur.
Tapi itulah istimewa selera makan ibu hamil dan setiap ibu hamil mengalami situasi yang berbeda. Dari yang wajar sampai yang paling ekstrim dan itu hanya di alami oleh ibu hamil.
"Tapi aku benar-benar sudah kenyang, Ga." Sela-nya, menyakinkan suaminya itu.
__ADS_1
"Sesuap lagi ya!" Bujuk Arga, berharap wanita itu luluh dan mau membuka mulutnya, sayangnya Lita tetap mengeleng kepalanya.
Rasa mual membuatnya tidak berselera untuk makan, tadi pun dia mau makan karena Arga membujuknya. Setelah dokter berpesan untuk dia tetap makan dan minum dengan teratur.
"Apa kamu ingin makan sesuatu, katakan aku akan mencarinya untukmu." Ucap Arga lagi, tidak menghiraukan penolakan lihat sebelumnya.
" Tidak Ga, aku ngantuk! Aku mau tidur." Sahut Lita, lalu membaringkan tubuhnya. Diikuti helaan nafas berat dari Arga.
Pria itu sungguh sangat khawatir dengan wanita itu. Tapi untuk terus memaksanya rasanya tak akan melakukan hal itu.
Disisi lain, di saat Arga sedang menemani Lisa, jauh di sana, Lisa sedang mencak-mencak sembari berteriak frustasi, sesekali ia akan mengacak-acak rambutnya sendiri seperti orang yang telah kehilangan kewarasannya.
Dan semua itu bukan tanpa sebab. Selain karena dia sudah lama tidak menyalurkan keinginan bercintanya. Wanita itu juga tidak bisa menghubungi Arga sejak kemarin, berulang kali dia mencoba selalu mendapat balasan dari seorang wanita cantik yang dengan senang hati mengatakan jika suaminya itu sedang sibuk dengan istri barunya.
Lebih tepatnya suara operatorlah yang menjawab teleponnya." Si-alan kamu, entah apa yang kamu lakukan diluar sana sampai begitu sulit untuk di hubungi. " Umpat wanita itu pada ponsel yang ia letakkan pada telinganya saat suara wanita cantik itu kembali menyapa-nya dari seberang sana.
"Argghhh, Arga si-alan, breng-sek." Teriak Lita sembari melempar ponsel keatas tempat tidur.
Dia sungguh benar-benar marah dengan suaminya itu, walaupun dia hanya menikahi Arga karena uangnya tapi tetap saja Lisa tidak bisa terima jika diabaikan oleh pria itu.
__ADS_1