
Tidak hanya sehari, Arga meyakinkan Lita, pria itu selalu mengulang perkataannya untuk meyakinkan Lita, sebelum atau saat bangun tidur.
Komunikasi diantara mereka pun berjalan dengan baik setiap harinya dan Lita perlahan-lahan bisa mengabaikan rasa bersalah.
Sehingga dia pun dapat menjalani hari-harinya dengan tenang, seperti pagi ini. Ia bangun lebih awal, membuat sarapan untuknya dan Arga.
Begitu sarapan siap, Lita memanggil untuk sarapan, "Ga sini sarapannya sudah siap." Panggil Lita.
"Iya sayang sebentar." Jawab Arga. Namun langkah kaki pria itu tidak kunjung terdengar.
Lita yang sudah sangat lapar, memilih menyusul suami dan melihat apa yang dilakukan pria itu.
"Ga kamu sedang ngapain?" Tanya Lita begitu ia sudah berada di dalam kamar mereka.
"Kamu ngapain ke sini nanti capek lagi." Lita menggeleng kepalanya, suaminya ini sungguh sangat berlebihan dalam mengkhawatirkan dirinya.
"Ga jangan berlebihan, aku hanya melangkah dari dapur ke dalam kamar, nggak akan kecapean." Sungut Lita, wanita itu mendekat kepada suaminya lalu membantu pria itu memakainya dasi.
__ADS_1
"Tetap saja kamu kelelahan karena bergerak sambil membawa anak kita, aku sudah tidak sabar melihat hasil usaha kita sayang, apa dia juga akan semengemaskan Arend dan Al." Ucap Arga sembari mengusap perut istrinya.
"Tentu saja." Sahut Lita. Walaupun Lita belum melihat seperti apa wajah anaknya itu, namun ia yakin anaknya akan semengemaskan Arend dan Al.
"Oh iya sayang, mama berpesan! Hari ini kamu sudah harus pulang ke rumah mama, karena satu Minggu lagi acara syukuran tujuh bulanan kamu akan diadakan di rumah mama." Arga teringat pesan mamanya.
Pesan itu sudah Luna sampaikan dari tiga hari yang lalu, namun kesibukannya membuat ia lupa.
Arga memang tidak pernah terlambat pulang, namun begitu sampai di rumah pria itu kembali melanjutkan pekerjaan yang sengaja ia bawa pulang di rumah untuk ia selesai.
Dan dua hari ini, ia terlalu sibuk sampai ketiduran di ruang kerja dan lupa akan pesan mamanya.
Arga menunduk lalu mengecup bibir istrinya. " Maaf sayang aku lupa."
"Cih kebiasaan."
"Maaf, ayo kita sarapan." Pria itu merangkul pundak sang istri, setelah Lita selesai memakainya dasi lalu keduanya melangkah keluar kamar menuju ruang makan.
__ADS_1
Dan begitu selesai sarapan, Lita langsung bersiap-siap sebab Arga akan mengantarnya ke rumah mama Luna.
...\=\=\=\=\=\=...
Dilain tempat Steve tengah berjuang untuk mencari Lily, istrinya karena begitu Lily keluar dari rumah sakit begitu pun dengan putranya, setelah empat puluh hari bayi itu menjalani perawatan di ruang NICU, Lily langsung pergi dari rumah suaminya sembari membawa semua anak-anaknya saat Steve berangkat kerja.
Wanita itu sengaja pergi untuk menenangkan dirinya, karena setiap kali ia melihat Steve bayang-bayang perselingkuhan suaminya berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Sayang dengar kan ibu! Kamu jangan mau kalah sama wanita itu, jika kamu tidak kembali wanita itu akan merasa menang karena kamu telah mengaku kalah dengan pergi dari Steve." Ucap mamanya Lily, menasehati putrinya.
Karena sudah hampir tiga Minggu wanita itu berada di rumah mamanya, mengurung diri dan menangis.
Hati wanita mana yang tidak sakit mengetahui suaminya berselingkuh dibelakangnya apalagi sampai hamil.
Lily mungkin tidak akan merasa sesakit ini andai hubungannya dan Steve tidak baik-baik saja, tapi kenyataannya mereka begitu romantis dan harmonis.
"Lily memang sudah kalah mah, Lily bodoh! Semua kata-kata sayang Steve bohong mah, dia breng-sek Lily benci dia mah." Jeritnya sembari memukul dadanya sendiri, sakit memang itu yang dirasakan Lily.
__ADS_1
Wanita paruh bayah itu menangkup wajah putrinya. "Lihat mama sayang! Kamu harus kuat dan membalas semua rasa sakit kamu, kepada wanita itu juga beri pelajaran kepada Steve, sebab dengan menangis seperti ini hanya akan membuat kamu terlihat bodoh, tunjukkan kepada wanita itu dan suami kamu bahwa kamu bukan wanita lemah."Ucapnya kepada putri kesayangannya itu.