
Senin malam, seperti biasanya Arga pulang ke rumah orang tuanya, saat memasuki bangunan megah dan nyaman bagi setiap penghuni didalamnya.
Arga langsung disambut wanita yang sedang duduk memangku kakinya serta melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan menghunus tajam kearah.
Membuat Arga tanpa sadar menggaruk tengkuknya sendiri, pria itu terlihat seperti seorang remaja yang ketahuan ibunya pulang malam.
"Ma_"
"Dari mana kamu? Kenapa dia hari ini tidak bisa dihubungi!" Tanya Luna, sebelum pria itu selesai dengan ucapannya.
Arga menarik nafas dalam, mencoba mengatur mimik wajahnya, lalu menghampiri wanita paruh baya namun terlihat masih sangat cantik itu.
Bertingkah seperti anak lalu membaringkan tubuhnya disamping wanita itu dengan mengunakan kedua paha ibu tirinya itu sebagai bantalnya.
"Maaf mah! Aku sibuk banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan sehingga aku tidak sempat mengabari-nya. Apa dia mengadukan hal ini pada mama?" Jelasnya sembari memejamkan matanya, sekaligus ingin tahu alasan dibalik sikap mama tirinya.
"Mama lebih percaya, kamu berkata memiliki wanita simpanan ketimbang alasan-mu itu." Sahut Luna dan ucapan wanita itu tepat sasaran, mungkin karena sebuah tebakan berdasarkan pengalaman atau gerak-gerik Arga yang mudah dibaca. " Di tidak akan bisa mengadukanmu, karena sebelum dia melakukan hal itu mama sudah lebih dulu mengusirnya keluar dari rumah ini." Lanjutnya tanpa perasaan bersalah.
Sementara Arga pun hanya diam tanpa berekspresi apa-apa, pria itu terlalu cuek seakan Lisa bukanlah orang yang penting untuknya sementara Luna sudah menyiapkan nasihat dan penjelasan diujung lidahnya Arga putra sambungnya itu tidak salah paham kepadanya.
__ADS_1
"Kamu tidak marah?" Tanya Luna tidak percaya.
"Untuk apa?" Bukannya menjawab, Arga malah balik bertanya.
"Mama telah mengusir istrimu." Jelas Luna penuh penekanan. Melihat reaksi Arga Luna berpikir, anak tirinya tidak mendengar ucapannya dengan jelas.
"Terus apa mah." Respon yang tidak terduga yang ia dapatkan dari Arga. Apa dengan anak itu? Bahkan Luna masih ingat bagaimana Keukeh anak itu saat melawan untuk suami dan mertuanya beberapa bulan lalu, tapi mengapa sikap berubah secepat ini, walaupun bingung dan bertanya-tanya namun jauh di lubuk hatinya Luna berulang kali mengucapkan syukur.
Wanita itu sama seperti Dian, tidak menyukai Lisa, anak itu kecilnya saja manis tapi semakin sebesar sikap buruknya semakin terlihat jelas dan dia tidak ingin anaknya mendapatkan wanita seperti itu, walaupun anak sambungnya itu bukanlah orang yang suci tapi sebagai seorang ibu tentu saja ia menginginkan anaknya mendapatkan wanita yang baik.
"Paling tidak kamu, marah sama mama! Tanya Kenapa mama mengusir dia." Sahut wanita paruh bayah itu mengeleng kepalanya.
Sedangkan Arga hanya tersenyum menatap wajah bingung Luna, pria itu kini sedang memikirkan sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Lebih tepatnya semua jawaban yang tidak kunjung ia menemukan jawabannya selama ini.
"Aku percaya, mama pasti punya alasan, kenapa mama mengusirnya." Sahut Arga membuat Luna tanpa sadar meletakkan punggung tangannya di atas kening Arga. " Mama aku baik-baik saja." Ujarnya kesal.
"Hai anak muda, menyingkirlah dari sana, itu tempatku." Suara sang ayah yang baru turun dari tangga itu membuat Arga memutar bola matanya malas.
"CK, sudah tua masih saja cemburu dengan anak sendiri." Gumam Arga masih bisa didengar oleh Luna, hingga membuat tawa wanita itu pecah.
__ADS_1
"Anak kurang ngajar." Pria itu langsung menarik tubuh putranya untuk duduk dan mendaratkan bokongnya diantara mereka berdua.
Arga masih mengerutu sebal atas sikap papanya namun sedetik kemudian pria itu terdiam memikirkan sesuatu, berbeda dengan pasangan yang tidak tahu umur disampingnya itu.
"Pa." Panggil Arga membuat Reval dan Luna kompak menatap kepada, setelah cukup lama anak itu diam dalam lamunannya.
"Ya! Kamu ingin meminta libur lagi?" Tanya Reval menebak akan tetapi Arga mengeleng kepalanya sebagai jawaban.
"Aku ingin bertanya sesuatu, tapi aku ingin papa menjawabnya jujur, maaf bukan maksud apa-apa, aku hanya ingin tahu." Ucapnya sembari menatap penuh harap, pasang paruh baya itu secara bergantian.
" Apa yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Reval, gelagat Arga sungguh membuatnya penasaran apalagi putra sulungnya itu terus menatap Luna.
"Maaf, kenapa papa menceraikan mama! Bukankah papa dulu sangat mencintainya?" Tanya Arga sembari menatap penuh rasa bersalah kepada Luna." Maaf mah, aku hanya ingin tahu."
"Tak apa, kamu sudah besar! Mama yakin kamu akan mengerti." Sahut Luna menyakinkan anak sambungnya itu jika dia baik-baik saja.
" Sebaiknya kamu tidak mengetahuinya, ini akan lebih baik untuk kamu karena bagaimanapun pun dia adalah ibumu dan papa tidak ingin kamu membencinya terlepas dari baik dan buruknya sikap dia dimasa lalu."
"Pah, Arga mohon!" Pintanya penuh harap.
__ADS_1
Reval terdiam sesaat, pria itu menimbang-nimbang apa dia harus mengatakannya atau tidak. Hingga pada akhirnya dia memiliki mangatakan semuanya kepada Arga, agar putranya itu bisa belajar dari pengalaman.
"Dia mengkhianati papa! Dia tidak bisa menjaga kehormatan dia sebagai seorang istri dengan berkerja sebagai wanita penghangat ranjang, pria-pria yang datang ke tempat kerjanya." Arga memejamkan matanya, sungguh dia tidak percaya jika mamanya seperti itu, walaupun dia tahu mamanya jahat tapi kenyataan ini sungguh mengejutkan untuknya. " Jangan membencinya, biar bagaimanapun dia tetap ibu kamu. Dan karena alasan itu juga papa meragukan kamu nak, bukan membencimu yang terlahir dari wanita itu, tapi papa melihat sendiri pengkhianatnya." Lanjutnya.