
"Apa tinggal disini lagi? Tidak, masalah aku dengan putriku saja belum selesai karena kamu, kenapa juga aku harus mengizinkan kamu untuk tinggal disini." Sindir Melly, begitu Lisa datang ke rumahnya untuk tinggal lagi di sana setelah Luna mengusirnya.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini dan jangan pernah datang lagi ke rumah ini karena kamu bukanlah bagian dari keluarga ini." Dion yang baru saja pulang kerja, langsung mengusir wanita itu.
Pria paruh baya itu tidak ingin lagi berurusan dengan Lisa, bahkan wanita itu sudah Melly berhentikan dari yayasan mereka seminggu sebelum Lisa menikah dengan Arga. Membuatnya luntang-lantung seperti ini.
Tidak punya pekerjaan dan tidak punya tempat tinggal, sementara suami entah di mana. Setiap weekend selalu tak pernah pulang dan tidak bisa di hubungi.
Lagian salah Lisa sendiri, Selama masih berkerja dan memiliki penghasilan yang cukup ia terlalu royal kepada mamanya hingga tidak sempat membeli sebuah hunian nyaman untuk dirinya sendiri.
"Daddy_"
"Diam, aku bukan Daddy kamu dan aku. Sapto." Bentak Dion sembari berteriak memanggil security yang sedang berjaga.
"Iya tuan." Security itu sedikit membungkuk begitu ia tiba di samping Dion.
"Usir wanita ini dari sini dan jangan pernah biarkan dia masuk kesini lagi dengan alasan apapun." Ucap Dion, membuat Melly tersenyum puas. " Ayo honey, kita masuk biar Sapto yang mengurusnya." Dion melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Melly setelah itu keduanya pun melangkah masuk kedalam rumah sembari menulihkan telinga mereka dari suara teriakan-teriakan Lisa di luar sana.
Lisa di tarik security keluar dari kediaman Xavier Dan Aiden juga Hanya yang melihatnya dari balkon kamar Aiden tersenyum puas. Karena mereka sudah lama menunggu momen ini.
__ADS_1
Lisa tidak tahu harus kemana, ke rumah mamanya itu tidak mungkin, karena sudah di pastikan wanita itu tidak akan betah tinggal di sana, mengingat ia sejak kecil sudah terbiasa hidup di rumah mewah dengan fasilitas yang lengkap dan satu-satunya tempat tersisa adalah rumah ayah angkat suaminya. Jayden.
Dalam hati ia berdoa, semoga Dina tidak memperlakukannya sama seperti Melly dan Luna. Kedua wanita itu seakan sudah berencana menghempaskannya jauh-jauh dari kehidupan mereka. Sayang semua tidak semudah itu karena bagaimanapun Lisa akan tetap menjadi bagian mereka, mengingat dia adalah istrinya Arga suka tau tidak mereka harus menerimanya.
Selama perjalanan menuju rumah Arga, Lita terus mencoba menghubungi pria itu walaupun ia tahu weekend seperti ini Arga pasti akan menghilang entah kemana. Dan benar saja, berulang kali Lisa mencoba menghubungi Arga hasilnya tetap sama, nomor itu tidak dapat dihubungi hanya suara berisik operator yang terus menyambutnya.
Setibanya Lisa di rumah Jayden wanita itu disambut baik oleh Nahla, bahkan Nahla langsung mengantarnya ke kamar Arga tanpa menunggu persetujuan mamanya. Sungguh anak yang berbakti sekali.
Dina yang melihat mereka berdua tidak banyak berkomentar ia hanya bisa menunggu Jayden dan Arga pulang, karena saat Lisa datang Jayden belum pulang kerja.
\=\=\=\=\=\=\=
Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam namun Lita belum juga beranjak dari tempat duduknya, Lita takut jika ia keluar apartemen nanti akan langsung berpapasan dengan Hani.
"Bisa nggak, cek kandungannya nanti-nanti aja." Tawar Lita.
Arga mengusap wajahnya kasar mendengar tawaran Lita, bagaimana bisa begitu, sementara ini sudah kedua kalinya dia membuat janji dengan dokter, masa iya harus di cancel lagi.
"Nggak bisa dong sayang! Lagian aku yakin jam segini Hani dan Narendra sedang asyik berdua di dalam apartemen mereka." Sahut Arga. Pria itu terlihat sangat gusar.
__ADS_1
"Atau gini aja, kamu telpon Narendra terus tanya mereka ada di mana, setelah tahu mereka dimana baru aku keluar." Ucap Lita memberi saran. Arga pun menurutinya lalu mencoba menghubungi Narendra mengunakan ponselnya, karena pria itu tidak pernah menonaktifkan ponselnya ia hanya nomor Lisa saja yang sengaja ia alihkan, agar wanita itu tidak menganggu weekendnya.
"Hal_"
"Kamu dimana?" Tanya Arga tak ingin berbasa-basi dengan adiknya , begitu Narendra menjawab panggilannya.
"Aku lagi di apartemen bareng Hani, kenapa kak? Mau kesini." Jawab Narendra dari seberang sana.
"Hmmm, aku nggak akan kemana-mana kan?" Arga bergumam sembari memastikan jika Narendra tidak akan keluar apartemen mereka.
"Iya, aku nggak akan kemana-mana! Kakak Kalau mau kesini langsung kesini aja, tapi sendiri jangan bawah si Lisa." Ujar Narendra.
"Iya kamu nggak boleh keluar kemana pun sampai aku datang." Pinta Arga. Narendra pun mengiyakannya. Setibanya baik Arga dan Narendra sepakat mengakhiri panggilan mereka.
"Sudahkan sekarang kita pergi." Arga menyimpan ponsel kedalam saku celananya kemudian mengulurkan tangannya kepada Lita.
"Baiklah, ayo kita pergi." Jawab Lita menyambut uluran tangan suaminya lalu beranjak dari tempat duduknya.
Keduanya berjalan menuju pintu apartemen dan Arga-lah yang berada didepan, sementara Lita mengikuti langkah suami-nya seraya menggenggam tangan pria itu.
__ADS_1
Ceklek.
Begitu pintu terbuka, tubuh Lita langsung mematung di tempatnya, Lita gugup sekaligus takut, bagaimana tidak pintu apartemen mereka terbuka bersamaan dengan pintu unit apartemen yang berhadapan langsung dengan mereka ikut terbuka, Arga ingin menutup kembali namun sayangnya pria itu sudah lebih dulu terlihat oleh pemilik unit apartemen di hadapan mereka itu.