
"Kamu tahu dari mana jika kesedihan aku karena mommy?" Tanya Lita sembari menatap wajah sahabatnya itu.
Wanita itu tersenyum, namun senyum yang begitu rumit untuk Lita Artikan. Lita tahu mereka sudah tidak tinggal bersama, tapi dia tidak pernah salah menilai ekspresi wajah Hani, kecuali ini yang satu ini.
"Aku dan Narendra mengantar kamu ketempat Mommy dan setelah hari itu kamu tidak pulang, aku coba telepon kamu, ponsel kamu tidak dapat dihubungi. Begitu aku menelpon mommy! Panggil aku tidak di jawab. Padahal baik aku atau kamu tahu, mommy tidak pernah melewatkan panggil kita sampai berhari-hari. Apa yang coba ingin kamu tutupi Tha? Kalau aku mau aku bisa mencari tahu semuanya dan dalam sehari aku bisa tahu, kamu cukup tahu apa yang bisa aku lakukan, tapi aku tidak melakukannya, semua itu karena aku menghargai kamu dan mommy! Aku ingin mendengar semuanya dari mulut kalian." Jawab Hani dengan tenang. Ia membalas tatapan Lita dengan senyum yang masih sama rumit untuk di mengerti.
Lita menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya, ia tahu tidak biasa yang bisa di tutupi dari Hani, karena cepat atau lambat wanita itu akan mengetahuinya.
"Mommy kenapa?" Tanya Hani sekali lagi.
"Mommy sakit kanker serviks stadium 3." Jawab Lita, membuat Hani terdiam dengan senyum yang manis tergambar jelas diwajahnya. Namun setetes cairan bening langsung jatuh dari kelopak mata wanita semakin lama cairan itu semakin tidak bisa berhenti.
Wanita itu berbeda dari Lita! Lita sudah terbiasa mengekspresikan perasaannya namun Hani tidak bisa begitu, ia terlatih untuk tetap tersenyum dan bersikap baik-baik saja, namum air matanya, selalu menjadi satu-satunya jawaban atas kesediaannya.
Ia sama seperti Lita, sedih dan berita ini cukup menyayat hati mereka. "Mommy minta kita nggak boleh sedih Han." Ucap Lita sembari memeluk tubuh sahabatnya.
__ADS_1
" Kak Anton tahu?" Tanya Hani.
Lita mengeleng kepalanya."Nggak! mommy sengaja ingin menutup semua ini dari kita semua." Jawabnya.
"Kamu udah kasih tahu kak Arga?" Tanya Hani lagi, sembari mengusap air mata dipipinya, walaupun cairan itu tetap saja menetes membasahi pipinya. Sekali lagi Lita mengeleng kepalanya. " Kenapa?"
"Kamu tahu alasannya Han. Mommy aku mantan wanita malam, aku nggak mau Agra malu dengan kebenaran itu, kita berdua terlalu berbeda jauh, dia dari keluarga baik-baik, sementara aku hanya anak wanita malam yang nggak tahu ayahnya siapa! Terkadang aku bersyukur ada baiknya aku terkurung di tempat itu, karena aku tidak perlu mendengar ejek-ejekan yang menyakitkan diluar sana." Jelas Lita sembari tersenyum getir.
Perbedaannya dengan Arga sangat jauh, jika bukan karena anak dalam kandungannya ia tidak ingin menjadi istri pria itu, cukup pernikahan siri itu saja.
"Itu karena dia belum tahu latar belakang aku seperti apa?" Sela Lita.
"Sudahlah lupakan, hari Senin nanti kita akan kunjungi mommy bersama." Hani yang tahu seberapa keras kepala sahabatnya itu, memilih mengalihkan pembicaraan mereka. "Aku akan meminta narendra untuk mengecek rumah sakit terbaik diluar negeri untuk pengobatan mommy dan aku juga akan meminta kak Anton untuk balik. Biar bagaimanapun juga dia harus tahu." Lanjutnya lagi.
"Aku takut mommy nggak akan mau, Han." Sahut Lita.
__ADS_1
"Kita anak-anaknya, mau tidak mau, mommy harus menuruti keinginan anak-anaknya bukan! Kalau pun mommy tetep bersikeras tidak mau, maka kita akan memaksanya." Ucap Hani.
Setelah berbicara dengan Lita ia merasa sedikit lega, seakan beban dipundak sedikit berkurang.
"Buburnya datang." Ucap Arga sembari membawa dua mangkuk bubur dan dua gelas air putih di atas nampan yang ia bawa untuk Lita dan Hani.
"Wow, kak Arga yang the baik! Tahu aja kalau kita sudah sangat lapar." Hani kemudian mengambil mangkuk bubur milik, kemudian ia mulai menikmatinya.
Begitu pun dengan Lita. " Makanlah sayang aku akan menghubungi dokter dan meminta di buatkan resep yang aman untuk kamu minum, agar demam kamu cepat turun." Ucap Arga sembari mengusap kepala istrinya dengan sayang.
Lita mengangguk kepalanya, setelah itu Arga pun meninggalkan kedua wanita itu.
"Aku bisa melihat cinta di matanya untuk kamu Tha." Ucap Hani setelah meneguk sedikit air putih dari gelasnya.
"Diih, giliran orang aja! Pintar banget dia ngomong." Sindir Lita membuat Hani tersenyum namun tidak membalas ucapan Sahabatnya itu. " Udah habisin bubur kamu, nggak usah sok ngomong cinta-cintaan." Walaupun keduanya saling bergurau, tapi pikiran mereka kompak tertuju pada mommy Mayang.
__ADS_1