
Malam semakin larut, namun Lita tak kunjung memejamkan matanya, wanita itu terus bergerak gelisah di atas ranjang.
Sudah lebih dari dua jam dia berada di posisi ini, setelah Hani di jemput Narendra.
Dia terus kepikiran dengan ucapan Hani. Sahabatnya ingin dia mengatakan semuanya kepada termasuk dia anak mantan wanita malam, karena bagaimanapun Arga adalah suaminya, sudah seharusnya mereka mengenal satu sama lain, termasuk keadaan mommy-nya. Namun Lita masih bimbang.
"Kenapa belum tidur? Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?" Tanya Arga, sekembalinya ia dari ruang kerjanya dan mendapati Lita sedang melamun.
"Tidak ada! Aku hanya Belum mengantuk saja." Jawab lita sembari menghindari tatapan mata Arga.
Arga yang mengerti jika sang istri belum ingin cerita kepadanya, mengangguk sambil tersenyum.
Dia pun menghampiri Lita, duduk di samping wanita itu sembari bersandar pada kepala ranjang.
"Sini sayang aku peluk! Siapa tahu dengan begitu bisa membantu kamu untuk tidur nyenyak malam ini." Ujar Arga. Memeluk tubuh Lita dengan sedikit menarik tubuh wanita itu hingga berbaring di dada bidangnya.
Tangan arga dengan telaten naik turun, mengusap punggung lita membuat kedua matanya perlahan-lahan mulai terberat dan tidak membutuh waktu lama ia pun terlelap dengan nafas yang mulai teratur.
Arga sedikit membungkuk kepalanya, ia mencium puncak kepala istrinya berkali-kali, tidak sempai membuat tidur Lita terusik.
"Harusnya kamu tidak perlu malu kepadaku sayang, karena aku tidak lebih baik dari kamu." Bisiknya di telinga Lita. Sayangnya Lita tidak dapat mendengar hal itu, karena ia sudah sangat lelap.
Agar sebenarnya tahu, apa yang terjadi dengan mertuanya dan apa yang dirisaukan istrinya.
Jika dia tanya kenapa bisa, jawabannya karena dia tidak sengaja mendengar obrolan mereka siang tadi dia bahkan telah bertanya kepada Dino tentang mommy Mayang, walaupun Dino sempat enggan untuk bercerita tapi pada akhirnya ia menceritakan perjalanan hidup Lita dan mommy-nya sebelum bertemu dengan Hani.
Bahkan dia juga baru tahu, jika Hani membuat kesepakatan dengan kakeknya untuk kebebasan mereka yang berkerja di rumah bordil itu.
"Aku akan menunggu sampai kamu siap mengatakan semuanya sayang." Ucap Arga lagi.
__ADS_1
Ia membenarkan tidur Lita agar istrinya nyaman setelah itu dia pun ikut tidur di samping Lita.
\=\=\=\=\=\=
Ditempat lain, Lisa kini sedang duduk bersama Dina di ruangan keluarga, menunggu Arga pulang! Walaupun dia sudah tahu jika weekend seperti ini Arga tidak akan pulang, Lisa tetap melakukan hal yang mebuang-buang waktunya itu.
Bukan tanpa sebab dia melakukan itu semua, wanita terpaksa melakukannya karena ingin di nilai baik oleh kedua mertuanya dia tidak ingin berakhir di usir kembali dari rumah ini.
Sekalipun hanya rasa sakit yang di terima saat pria itu berada di rumah, namun sebisa mungkin dia akan tetap bertahan demi kemewahan yang selama ini dia rasakan.
"Arga tidak pulang lagi?" Tanya Dina, wanita itu kasihan melihat Lisa yang selalu duduk menunggu Arga disaat weekend seperti ini.
"Nggak tahu mah! Ponsel dia nggak bisa di hubungi." Jawab Lisa sembari memasang wajah sedihnya.
"Kamu tahu alasannya?" Tanya Dina lagi.
Lisa mengeleng kepalanya." Nggak mah, dia cuma bilang ada kerjaan yang mengharuskan dia tetap berkerja disaat weekend dan tidak akan pulang. "Jelasnya, berharap Dina mempercayai ucapnya, karena apa yang dikatakan Lisa itu hanya karangannya saja.
"Lisa tahu kok mah, tapi Lisa masih ingin disini! Siapa tahu malam ini kak Arga-nya pulang." Sahut Lisa, membuat Dina semakin iba kepadanya.
Wanita parah bayah itu tidak sadar jika saat ini dia sedang di perdaya. Hingga berjanji pada dirinya sendiri dia akan menasehati putra angkatnya itu.
Sebagai seorang wanita juga seorang ibu, Dina sungguh prihatin dengan nasib Lisa disaat ia sedang hamil seperti ini Arga justru meninggalkannya.
"Ayo nak! Jangan kamu tungguin dia! Biarkan saja, kamu harus istirahat. Nanti kalau dia sudah pulang mama akan marahin dia." Ujar Dina, wanita itu beranjak dari tempat duduknya, mengulurkan tangannya kepada Lisa.
"Nggak papa kok mah! Lisa disini aja dulu nanti kalau Lisa udah ngantuk Lisa akan langsung ke kamar." Tolaknya dengan halus. Sembari tersenyum penuh arti.
Lisa merasa saat ini dirinya telah berada di atas angin karena berhasil memperdaya Dina.
__ADS_1
"Baiklah, tapi kamu harus janji, nggak boleh sampai larut malam." Pinta Dina. Lisa mengangguk setuju." Ya sudah, kalau begitu mama ke kamar dulu."
" Iya mah."
Dina pun meninggalkan Lisa sendiri duduk di suara keluarga, ia kasihan kepada Lisa, tapi karena dia begitu lelah hari ini Dina memutuskan untuk istirahat lebih dulu.
Begitu Pintu kamarnya tertutup, Nahla yang sudah sejak tadi menunggu Dina masuk kamar. Langsung bergegas membuka pintu kamarnya dan turun ke bawah sembari menjinjing heelsnya.
"Na mau kemana?" Tanya Lisa, membuat Nahla yang sedang mengendap-endap seperti orang pencurian, terkejut dengan keberadaan Lisa disana.
"Cih kamu, bikin kagat saja." Ujar Nahla sembari mengelus dadanya tanpa menjawab pertanyaan Lisa.
"Kamu mau kemana?" Lisa kembali mengulangi pertanyaannya, wanita itu begitu ingin tahu padahal tanpa dijawab pun, Dia sudah bisa menebak akan pergi kemana Nahla malam-malam begini dengan penampilan yang bisa mengundang gairah lawan jenis.
Dress yang sedikit ketat hingga membentuk lekukan tubuhnya, panjang dress itupun hanya setengah pahanya.
"Biasalah mau ke club." Jawab Nahla tanpa beban sembari mendaratkan bokongnya tepat di samping Lisa, setelah itu ia mulai memasang heelsnya.
Dia tidak takut jika wanita itu akan mengadukan kepergiannya, satu-satunya alasan dia menunggu Dina tidur terlebih dulu, karena dia tidak ingin berdebat dengan Dina.
"Aku boleh ikut? " Tanya Lisa. Dia bosan terus berada di rumah tanpa melakukan apa-apa, Dia bosan menunggu Steve menghubunginya.
"Jangan gila kamu Sa! Kamu tuh lagi hamil." Nahla mengingatkan Lisa.
" Terus kalau Hamil kenapa? Aku cuma ingin bersenang-senang, bukan mau melenyapkannya. Lagian aku juga bosan Sa." Sahut Lisa dengan santainya.
Wanita itu bahkan tidak perduli akan keadaan anaknya. "Nggak -nggak! Aku nggak mau, kalau kamu mau pergi, pergi aja sendiri jangan sama aku, aku nggak mau berurusan sama Arga ataupun mama." Tolak Nahla, setelah itu ia pun meninggalkan wanita itu tanpa menunggu Lisa menyahutinya.
"Diih menyebalkan! Lagian kenapa juga ini anak harus ada. Halangi kebebasan aja." Ucapnya sambil menunjuk perutnya sendiri.
__ADS_1
Tidak ingin mati bosan sendirian, Lisa memilih untuk masuk kedalam kamarnya.