Takdir Anak Wanita Malam

Takdir Anak Wanita Malam
Aku nggak mau!


__ADS_3

Setelah Luna mengetahui pernikahan Lita dan Arga, pria itu seakan lupa jika dia tidak hanya memiliki Lita sebagai istrinya.


Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk menemani Lita, apalagi semenjak Hani kembali ke rumah keluarga Xavier, sebab mereka akan melakukan  syukuran tujuh bulanan Hani.


"Ga istri kamu bukan cuma aku, kalau kamu lupa." Entah sudah berapa kali wanita itu mengingatkan suaminya itu, tapi setiap ucapannya hanya dianggap angin lalu.


Pagi hari pria itu berangkat kerja dari tempat lita malam ia pulang lagu ke apartemen Lita, setiap hari selalu begitu, tidak ada waktu libur kerja maupun weekend seperti dulu.


Membuat Lita kehabisan cara untuk mengusir pria itu pulang kepada istri pertamanya.


"Tapi aku nyaman sama kamu! Gimana dong."


"Terserah kamu." Lita sudah malas mengurusi urusan rumah tangga suaminya.


"Sayang nggak boleh gitu dosa loh, usir suami sendiri." Lita memutar bola matanya malas.


"Ga, tuh kaca! Ngaca gih nggak sadar diri sendiri lebih berdosa menelantarkan istri." Arga tahu apa yang dikatakan Lita hanya untuk membuatnya pergi tapi ia tidak akan terpancing dengan ucapan istrinya begitu saja.


"Tahu dari mana, kan dia dijaga sama mama Dina, ada nahla dan yang lain juga! Nggak terlantar-lah." Sahut Arga. Lita menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan.


Rasanya percuma menyuruh pria itu pergi dia tidak akan pergi begitu saja." Sayang kenapa diam? Udah kehabisan cara ya?" Tanya Arga dengan nada mengejek.


Namun Lita tidak menyahutinya wanita itu beranjak dari tempat duduknya lalu masuk kedalam kamarnya.


Beberapa saat kemudian ia kembali keluar dengan stelan kerjanya." Sayang kamu mau kerja? Bukannya tadi kamu bilang udah izinkan?" Tanya Arga.

__ADS_1


"Ia tapi tadi ada pesan dari kak Dino, ada sedikit masalah dan dia butuh bantuan aku sekarang." Jawab Lita.


Saat ia masuk kedalam kamar dan mengecek ponselnya ternyata ada pesan dari Dino, pria itu bertanya dia bisa ke hotel tidak, ada yang mau Dino bahas sama dia.


Tanpa membalas pesan Dino, Lita langsung bersiap-siap." Terus aku sama siapa disini? Kalau kamu-nya nggak ada. Aku ikut ya!"


Lita menolak keinginan Arga dengan menggeleng kepalanya." Jangan sok jadi pengangguran ya Ga! Kamu bisa ke Perusahaan, kerjakan apa yang bisa kamu kerjakan, jangan kaya anak kecil yang cuma tahu merengek dan mengikuti seperti ekor." Ujar Lita dengan judesnya." Ya udah kalau begitu, aku  antar kamu." Lita mengangguk, setelahnya Arga langsung beranjak dari tempat duduknya masuk kedalam kamar untuk menganti pakaiannya karena dia juga akan pergi ke perusahaan setelah mengantar Lita nanti.


Begitu ke-dua selesai bersiap-siap, keduanya langsung meninggalkan apartemen. Arga mengantar Lita terlebih dulu, setelah itu dia pergi ke perusahaan.


Setibanya di perusahaan, Arga langsung menuju ruangannya." Arga." Panggil Kevin, sebelum pria itu sempat untuk membuka pintu ruangan kerjanya. " Syukurlah, kamu sudah datang, Tante Dina dan Lisa sudah nungguin kamu tuh dari tadi, didalam?" Ucap Kevin.


"Hah, kenapa kamu biarin?" Tanya Arga.


"Aku juga udah bilang kamu lagi ada kerjaan diluar dan nggak akan balik lagi ke kantor, tapi mereka nggak percaya, mereka ingin menunggu kamu. Aku bisa apa, nggak mungkinkan aku ngusir mereka." Arga memijit pelipisnya yang tiba-tiba pusing, suasana hati yang tadinya baik, tiba-tiba memburuk saat mendengar nama Lisa.


Pria itu tidak punya pilihan selain menemui mama angkatnya sekaligus istri yang tidak ingin dia temui.


"Sayang." Lisa langsung berhamburan ke pelukan Arga.


"Apa-apaan kamu, lepas." Arga mendorong tubuh Lisa hingga membuat pelukan wanita itu terlepas darinya.


"Arga." Teriak Dina, wanita itu dengan sigap menahan tubuh Lisa, jika sedikit saja dia terlambat, entah apa yang akan terjadi kepada Lisa. "Kenapa kamu memperlakukan istri kamu seperti itu? Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian! Kamu tidak pernah pulang, sengaja menelantarkan istri dan calon anak kamu begitu saja, sekarang kamu justru bersikap seperti ini. Mam tidak habis pikir dengan kalian berdua, jika punya masalah duduk dan selesaikan jangan menghindar." Ucap Dina panjang kali lebar, dia tidak bisa terus diam melihat hubungan anak dan menantunya.


Dihadapkan pada situasi seperti ini, Arga tidak bisa lagi untuk diam, dia tidak ingin setiap hari selalu diusir oleh Lita hanya karena diam.

__ADS_1


"Aku memperlakukan dia seperti itu, karena dia sudah berani mengkhianati Aku mah dan satu yang mama harus tahu, anak yang dia kandung saat ini bukan anak Arga." Dina begitu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Arga.


Ia bingung harus percaya atau tidak, sementara Lisa sudah meraung, menangis karena tidak terima apa yang dikatakan Arga.


"Kamu yang mempunyai wanita lain, kenapa aku yang harus disalahkan."Ucap Lisa membuat Arga terdiam dalam hatinya ia bertanya-tanya apa, Lisa sudah mengetahui semuanya. " Kamu pikir aku bodoh, bahkan aku bisa mencium bau parfum wanita mura-han itu di kemeja kamu."


PLAK.


Arga yang tidak suka Lisa mengatai Lita dan tanpa pikir panjang di langsung menamparnya."Oh, jadi benar dugaan aku." Arga mengepal tangannya bisa-bisanya ia terjebak oleh wanita ular ini.


"Mah, lihat mah! Dia yang berselingkuh tapi Lisa yang dituduh." Lisa menghampiri Dina, merengek pada wanita itu, karena hanya dia yang ingin membelanya saat ini.


"Cukup Lisa, aku sudah muak dengan semua tipuan kamu, aku akan menceraikan kamu." Sahut Arga.


"Apa? Nggak bisa, kamu nggak bisa ceraikan aku, aku sedang hamil anak kamu dan aku nggak ingin cerai dari kamu."Lita menghampiri Arga mencoba untuk merangkul lengan Arga namun pria itu terus menepisnya.


Sementara Dina hanya bisa diam melihat pertengkaran mereka, wanita itu pusing, harus membela siapa dan mempercayai yang mana.


Dia ingin membantu Lisa dan percaya kepadanya tapi dia kenal betul Arga, anak itu tumbuh dalam pengawasannya jadi rasanya  tidak mungkin Arga  akan membohonginya.


Tapi melihat Lisa menangis seperti ini, Dina tidak tega, sungguh dia berada dalam dilema rumah tangga anak-anaknya.


"Kenapa tidak bisa, aku punya bukti perselingkuhan kamu dan aku akan melakukan tes DNA untuk membuktikan kebenaran, bahwa anak itu bukanlah anak aku."


"Bohong, kamu pikir aku percaya, aku nggak akan percaya dan aku tidak mau melakukan tes DNA juga cerai dari kamu." Sahut Lisa sembari menangis tersedu-sedu. "Kenapa kamu berubah dulu kamu tidak pernah memperlakukan aku seperti ini kenapa Arga! Kenapa kamu jahat apa salah aku." Arga memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Simpan semua, air mata kamu untuk nanti, aku berharap kamu bisa bertanya seperti ini begitu semuanya terbukti, sekarang kamu keluar dari ruangan aku." Arga menarik tangan Lisa dengan kasar lalu menyeretnya keluar dari ruangan kerjanya diikuti Dina dibelakangnya, wanita paruh baya itu mencoba menghentikan Arga namun pria itu tidak mendengarnya.


__ADS_2