
Malam harinya Hani dan Narendra tiba di rumah sakit dan langsung masuk kedalam ruang ICU.
Sama seperti Lita, Hani juga sedih melihat keadaan mommy ini. " Kamu disini dulu, aku akan menemui dokter." Ucap Narendra.
"Aku ikut." Pinta Hani, dia juga ingin mendengar kondisi mommy-nya.
"Honey kamu sudah janji untuk beristirahat, kamu_"
"Iya-iya." Sahut Hani sebelum Narendra menyelesaikan ucapannya, karena sebelum mereka datang, Hani sudah berjanji untuk beristirahat dan tidak banyak bergerak.
Narendra pun meninggalkan ruang itu, dia ingin mendengar keadaan mommy dari dokter yang menanganinya.
Sementara diluar sana, Anton, Lita, Arga dan Ela masih setia menunggu keajaiban mommy bisa bangun lagi.
Setelah berbicara dengan dokter Narendra kembali, pria itu terlihat lesu dan tidak bersemangat seperti sebelumnya.
"Bagaimana? Apa kata dokter?" Tanya Ela ingin tahu.
Narendra mengeleng kepalanya," Keadaan mommy semakin memburuk! Kanker semakin menyebar dokter sudah mencoba menaikkan dosis obat namun hasilnya tetap sama." Jelas Narendra.
"Apa tidak bisa dengan operasi?" Tanya Ela lagi.
"Bisa tapi resikonya terlalu tinggi, kemungkinan berhasil sangat-sangat kecil dan dokter tidak ingin mengambil kemungkinan itu, ibarat kata dia sudah tahu operasi tidak akan berhasil namun memaksa bukankah itu sangat fatal." Narendra menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
__ADS_1
"Lalu kita akan membiarkan mommy begitu saja?" Tanya Ela. Namun untuk kali ini Narendra tidak menjawabnya, ia melirik kepada Lita yang sudah menangis sesenggukan dalam pelukan Arga.
Sementara Anton masih nampak tenang, bukan karena dia tidak takut kehilangan mommy-nya, dia juga Sama takutnya dengan Lita tapi dia lebih berpikir realistis dan menerima kenyataan yang ada.
"Jika kalian sayang sama mommy maka kalian harus mengikhlaskannya."
"Apa maksud kamu?" Tanya Arga tidak paham.
Anton beranjak dari tempat duduknya, ia membuka pintu ruang ICU itu setelah meminta izin kepada perawat lalu memanggil Hani untuk keluar sebentar.
Hani yang bingung menatap mereka secara bergantian meminta penjelasan. mereka yang ditatap Hani juga sama bingungnya, kecuali Anton.
"El, Han, Lita. Dengarkan kakak! Kita berempat sangat dekat dengan mommy, bahkan mommy sudah menganggap kalian berdua seperti anak kandungnya sendiri." Anton melihat Ela kemudian Hani. "Tolong, ikhlaskan mommy jangan membuatnya tersiksa hanya karena kalian mengatakan sayang untuk kebahagiaan kalian namun mommy tersiksa diruang ini." Lanjutnya membuat mereka semua terdiam.
"Silahkan, siapa yang ingin duluan." Hani berbalik lalu masuk kedalam ruangan itu, walaupun berat namun dia tetap harus melakukan jika dia sayang sama mommy Mayang.
Hani seperti membungkuk ia mencium kening mommy Mayang lalu berbisik di telinga kanannya." Mom, Hani sayang sama mommy, sayang banget! Hani masih mau mommy temani Hani, tegur Hani kalau salah dan marahin Hani seperti dulu. Tapi Hani nggak mau egois! Kalau mommy udah nggak kuat untuk bertahan nggak papa Mommy boleh beristirahat, Hani ikhlas." Sebisanya ia menahan tangisnya lalu kembali mencium kening wanita paruh baya itu sebelum melangkah keluar ruangan dan menangis sejadi-jadinya.
Begitu Hani keluar Anton menatap Ela. Ela mengeleng tidak mau melakukannya, ia sama keras kepalanya dengan Lita, sehingga Anton lah yang masuk melalukan hal yang sama seperti yang Hani lakukan.
Begitu gilirannya selesai, ia keluar lalu meminta Arga untuk masuk."Ga, tolong katakan sesuatu yang bisa kamu pertanggung jawabkan." Pinta Anton. Arga mengangguk lalu masuk kedalam ruang itu dokter dan perawat sudah ada di sana mereka akan melepaskan alat-alat penunjang hidup mommy Mayang begitu mereka selesai berbicara.
"Mom, ini Arga! Mom Arga mau ngucapin terima kasih buat mommy. Sekarang mommy tidak pernah mengkhawatirkan Lita, karena Arga akan menjaga dan mencintainya sampai nafas terakhir Arga begitu pun dengan calon cucu mommy nanti." Ucapannya lalu mengecup punggung tangan mommy Mayang.
__ADS_1
Begitu Arga selesai Ela pun masuk melakukan hal yang sama setelah itu Anton bertanya kepada Narendra, pria itu mengeleng kepalanya dan mempersilahkan Lita.
Namun Lita masih keras kepala, ia menolak melakukan apa yang di minta mereka.
"Aku akan melakukan tapi kakak harus janji nggak boleh melepaskan alat-alat penunjang kehidupan mommy." Pinta Lita.
"Oke."ucapnya kemudian menyuruh para dokter dan perawat itu pergi.
Lita di dampingi Arga masuk kedalam ruangan itu. Ia mengusap kepala mommy-nya dengan penuh kasih sayang lalu mengecup dahinya." Mommy, mommy dengar Lita kan? Mommy nggak capek tidur terus." Tanya Lita sembari terisak kecil. "Lita belum ingin mommy pergi Lita sayang sama mommy! Tapi jika kepergian mommy dapat membuat mommy tidak merasakan sakit lagi. Nggak papa mommy boleh pergi, Lita ikhlas melepaskan mommy."
Seakan kata-kata itu telah ditunggu oleh sang mommy, Karena begitu Lita selesai mengatakannya, mesin Ekg langsung menunjuk grafik garis lurus yang menandakan tidak ada aktivitas jantung yang bisa direkam dalam arti pasien telah meninggal.
Saat itu tubuh Lita langsung lemas dan jatuh tak sadarkan diri, bersyukur Arga bersamanya sehingga ia bisa menahan tubuh istrinya agar tidak sampai terjatuh kelantai.
Arga mengangkat tubuh Lita, membawanya keluar dan membiarkan dokter untuk mengurus jasad Mommy Mayang.
Dalam keadaan berduka mereka tetap tegar dan melakukan apa yang harus mereka lakukan. Tepat pukul dua dini hari mereka semua terbang kembali ke tanah air dengan membawa jasad sang mommy untuk nantinya di makamkan.
Rumah yang sengaja disiapkan agar untuk Lita begitu anak mereka lahir nanti, menjadi tempat disemayamkan jasad mommy sebelum di makam.
Semua pegawai club' Hani datang untuk melayat, begitupun dengan orang tua mereka.
Siang harinya, jasad Mommy Mayang di makamkan dan Lita dan Hani tidak dibolehkan ikut. Sebab Hani tampak begitu kelelahan dan Lita sudah beberapa kali pingsan. Walaupun ia mengatakan ikhlas namun tetap saja kehilangan seorang ibu sangatlah menyakitkan dan meninggalkan duka mendalam untuk orang yang ditinggalkan.
__ADS_1