
Arga masuk kedalam apartemennya dengan terburu-buru, membuat Lita yang sedang menunggunya, menatap pria itu bingung. " Kenapa?" Tanya Lita.
"Tadi aku ketemu Narendra dibawah." Jawab Arga, sedikit ngos-ngosan sembari meletakkan kantung belanjaannya begitu saja.
"Loh kenapa kalau ketemu Narendra?" Tanya Lita lagi. Bukankah itu merupakan sesuatu yang wajar saat mereka bertemu, mengingat mereka menempati gedung apartemen yang sama dengan unit yang saling berhadapan jadi rasanya tak aneh jika mereka bertemu.
"Masalahnya dia itu banyak tanya sayang! Memangnya kamu mau dia tahu kalau kita tinggal bersama." Sahut Arga.
" Narendra nggak akan tahu kalau kamu nggak kasih tahu. Kalau pun dia tanya tinggal di jawab aja." Ucap Lita lagi membuat Arga mengelus dadanya sabar.
Wanita ini yang mengajaknya main petak umpet, seperti ini dia pun dengan santainya meminta Arga bersikap santai,' ya tahun, untung sayang.' gumam Arga.
"Loh kenapa kamu lihatin aku gitu! Emangnya, omong aku salah ya?" Tanya Lita.
"Sayang mau berapa kali aku bilang kamu itu nggak akan pernah salah." Jawabnya.
" Ga aku tuh lagi serius." Kesal Lita.
" Ya aku juga ngomong serius sayang, di mata aku, istri aku yang cantik ini memang nggak ada salahnya." Sahut Arga tak mau kalah. Pembahasan awal mereka tentang Narendra kini jadi melebar kemana-mana.
__ADS_1
"Oh, iya sebentar malam kita cek kandungan kamu ke dokter ya! Aku udah buat janji dengan dokternya." Ucap Arga saat teringat akan jadwal pemeriksaan kandungan Lita.
Lita mengangguk kepalanya, " Iya, tapi agak larut ya." Ucapnya.
"Kenapa? Takut ketemu Hani?" Lita mengangguk.
"Sayang mau sampai kapan kita kaya gini? Emangnya kamu nggak bosan di apartemen terus. Ini sudah satu bulan loh dan kamu nggak pernah kemana-mana." Ucap Arga.
"Nggak kok, aku nyaman disini, lagian aku juga masih butuh waktu buat kasih tahu mereka." Ujar Lita, jika wanita itu sudah berkata seperti ini, Arga bisa apa selain mengikuti keinginan wanita-nya itu.
"Sampai kapan." Tanya Arga. Namun Lita hanya merespon dengan menaikkan kedua bahunya, sembari beranjak dari tempat duduknya dengan membawa kantong belanjaan yang diletakkan Arga.
\=\=\=\=\=\=\=
Waktu menunjukkan pukul delapan malam saat Lisa kembali pulang ke rumah dan disana Luna sudah menunggu wanita itu di ruang tamu.
Bagaimana tidak, selama sebulan ini wanita itu mulai bersikap seenaknya dengan pergi kapan saja dan pulang sesukanya. Sungguh tidak tahu aturan sekali di tambah Arga yang setiap weekend tidak pernah pulang dan entah menginap di mana, lengkap sudah kekasalan Luna kepada anak dan menantunya itu.
Memangnya mereka pikir rumahnya apa? Tempat persinggahan datang dan pergi sesukanya. " Dari mana kamu?" Tanya Luna, begitu Lisa melangkah masuk kedalam rumah itu.
__ADS_1
"Aku habis ketemu sama Nahla, iya aku habis ketemu Nahla tadi." Jawabnya gugup.
" Kamu jangan bohong ya Lisa! Nahla dan Tante Dina baru aja pulang. mereka sudah dari siang disini." Sahut Luna membuat Lisa terdiam karena ketahuan berbohong.
"Maaf mah_"
"Mau alasan apa lagi kamu hmm. Pokoknya mama nggak mau tahu, detik ini juga kamu telpon Arga dan angkat kaki dari rumah ini terserah dia mau bawah kamu tinggal dimana pun mama nggak peduli, silahkan cari tempat tinggal Agar kalian bebas mau pulang atau tidak itu urusan kalian." Usir Luna.
Rasanya wanita itu sudah cukup memberikan mereka kesempatan dan terus berbaik hati kepada anak dan menantunya itu.
"Sayang_"
"Apa kamu juga mau ikut mereka?" Potong Luna dengan cepat sebelum Reval sempat membela mereka mereka. Membuat pria itu terdiam dan tidak dapat melanjutkan ucapannya." Bibi." Panggil Luna.
Sang pelayan pun segera menghampiri majikannya itu. " Iya nyonya." Jawabnya pelayan sedikit membungkuk.
"Bereskan semua barang-barangnya dia dan letakkan di luar! Sayang tidak ingin ada pembohong diri ini. Cepat." Titahnya dan sang pelayan pun dengan cepat menuju kamar Lisa untuk membereskan barang-barang Lisa.
Sementara wanita itu mencoba untuk membujuk Luna agar dia di berikan kesempatan untuk tinggal lagi di rumah itu dan tidak diusir.
__ADS_1