
Pagi itu Lita terlihat sudah sangat rapi, dia akan menemui mommy Mayang tanpa mengabarinya terlebih dulu, sudah lama wanita itu merindukan ibunya dan ini waktu yang tepat untuk dia mengunjungi wanita itu.
Dia ingin memberi kejutan dengan berita kehamilannya. Dulu saat menikah di memberitahu mommy Mayang, tapi begitu dia hamil dia lupa, bukan lupa sih, lebih tepatnya dia ingin memberi kejutan dengan mengatakannya secara langsung.
Setelah memastikan penampilannya di cermin, Lita meraih tasnya lalu melangkah keluar apartemen itu. Bersamaan dengan Hani dan Narendra yang akan pergi entah kemana?
"Mau kemana, Han?"
"Tha Kamu mau kemana?"
Keduanya kompak menanyakan hal yang sama dan sama-sama tertawa, sementara narendra hanya tersenyum melihat kepedulian kedua wanita itu untuk satu sama lain.
"Kamu dulu yang jawab." Ujar Lita.
"Kamu ini. Huufftt, aku mau ke dokter biasa check up." Lita tersenyum sembari mengangguk kepalanya paham. "Kalau kamu mau kemana?" Lanjut Hani bertanya.
"Aku mau ketempat mommy, sekaligus mau buat kejutan, ini." Jawab Lita, sambil mengusap perutnya.
"Kata kamu mommy udah tahu!" Ucapnya bingung.
"Belum Han, mommy itu cuma tahunya aku udah nikah siri sama Arga." Sahut Lita.
"Ya udah aku ikut kamu aja, aku juga kangen sama mommy, semenjak keluar mommy udah jarang di temui! Kan aku kangen." Apa yang di katakan Hani memang benar, karena semenjak wanita paruh baya itu keluar dari club Hani dan memutuskan untuk menjadi wanita biasa, mommy Mayang sudah jarang sekali ketemu mereka, kalau mau ketemu pun mereka yang harus ke sana itupun harus ngabarin mommy Mayang dulu sebelum datang.
"Honey, kita udah buat janji sama dokter, lagi besok kamu dan Lita masih bisa pergi ke sana." Protes Narendra." Sayang ayolah, vitamin kamu udah habis aku ingin anak aku selalu sehat dan tidak terlewat asupan vitaminnya." Sambungnya, sebelum Hani sempat untuk menolak.
"Iya Han, kamu ke dokter aja! Nanti kita buat janji sama Ela di waktu liburnya, sekalian aja ingin mengajak Arga juga buat ketemu mommy." Bujuk Lita.
"Baiklah, tapi kamu nggak boleh nolak! Tawaran Aku dan Azzam untuk mengantar kamu ke sana."
Lita mende-sah pendek, sahabatnya ini memang sangat sulit untuk ia tolak."Terserah kamu saja Han."
"Gitu dong, Ayo." Hani melepaskan rangkulan Narendra kemudian memeluk lengan Lita, keduanya berjalan terlebih dulu meninggalkan narendra yang hanya bisa mengikuti langkah keduanya.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan kurang dari setengah jam, akhirnya mobil Narendra berhenti di alamat yang ingin Lita kunjungi.
Wanita itu pun keluar dari mobilnya Narendra." Terima kasih ya Han, Ren." Narendra mengangguk.
"Nggak usah berterima kasih, aku juga senang nganterin kamu. Nanti titip salam, kangen, sayang dan semua- semuanya untuk mommy aku." Sahut Hani sembari memberikan kiss jauh untuk Lita.
"Iya-iya bawel, sana pergi aku mau masuk dulu, bye."Ucapnya seraya melambaikan tangannya dengan gaya mengusir, sepasang suami istri itu, setelahnya ia pun berbalik untuk berbicara dengan security tujuan kedatangannya.
Sementara dibelakang sana Narendra kembali melanjutkan mobilnya menuju rumah sakit.
"Permisi pak." Ucap Lita, begitu salah satu security yang sedang berjaga menghampirinya.
"Iya neng, mau ketemu siapa ya?" Tanya sang security.
"Saya mau ketemu Bu Mayang, apa beliau ada." Jawab Lita.
"Bu Mayang nggak tinggal disini lagi neng! Kan beliau sudah lama dirawat di rumah sakit." Ucap Sang security. Membuat Lita amat sangat terkejut, bagaimana bisa mommy-nya masuk rumah sakit dia tidak tahu.
'Ada apa ini? Ya Tuhan kenapa aku tiba-tiba merasa takut.'
"Apa pak, rumah sakit?" Tanya Lita lagi, berharap yang dia salah.
"Rumah sakit mana, pak?" Tanya Lita.
"Sebentar neng." Sang security pun masuk kedalam pos-nya. Tak berapa lama ia pung keluar dengan membawa kertas bertuliskan alamat rumah sakit tempat mommy-nya dirawat.
"Terima kasih, pak." Lita mengambil kertas itu lalu, pergi dari sana. Wanita itu tidak ingin menangis sebelum memastikan semua kebenaran itu, tapi hatinya terlalu takut, hingga tanpa sadar air mata itu jatuh dengan sendirinya.
Sementara itu dari balkon rumah yang di datangi Lita, seorang pria paruh baya berdiri di belakang pilar, melihat kepergian Lita."Sudah seharusnya kamu tahu ini, nak! Lebih baik terlambat dari pada kamu kehilangan kesempatan."Ucap sembari melihat kepergian Lita yang semakin menjauh.
\=\=\=\=\=\=
Lita langsung berlari ke bagian informasi, begitu untuk menanyakan letak kamar pasien atas nama Mayang.
"Pasien dirawat diruang VVIP, nomor 3." Jawab wanita yang berkerja di bagian informasi itu.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, pasien sakit apa?"Tanya Lita, sembari mencengkram kuat ujung bajunya, ia melakukan hal itu untuk menguatkan dirinya mendengar jawaban itu.
"Pasien atas nama Mayang, menderita kanker serviks stadium 3." Jawaban itu membuat nafas Lita langsung tercekat, ia seakan kesulitan untuk bernafas dan hampir terjatuh.
"Anda baik-baik saja?" Lita mengangguk, namun tangisan tidak dapat ia bendung, dia ingin menjerit tapi tidak bisa, hatinya terlalu sakit menerima kenyataan itu.
Lita melangkah keluar ruangan informasi itu, ia mendudukkan tubuhnya pada salah satu bangku yang tersedia di lobby, mengusap air mata dipipinya.
Setelah itu ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, menyalakan layar ponsel itu kemudian mencari nama sang mommy pada riwayat panggilnya.
"Hai sayang! Apa kabar?" Suara sang mommy terdengar begitu lembut dari seberang sana, masih sama seperti biasanya.
"Kabar Lita baik mom, mom sendiri gimana? Udah makan belum?" Tanya Lita, wanita itu mencoba menyembunyikan tangisnya.
"Kabar mama juga baik, mommy udah makan tadi sama papi kamu? Kamu gimana! Masih di Bali?" Jawab sang mommy lagi, membuat Lita tersenyum kecut, sedikit kecewa karena mommy-nya tetap menyembunyikan keadaannya. Walaupun Lita sendiri masih berharap, Pasien atas nama Mayang itu hanya memiliki nama yang sama dengan mommy-nya.
"Nggak mom, Lita udah di Jakarta! Lita kangen sama mommy, mommy mau nggak ketemu Lita, kalau nggak bisa kesini, Lita aja yang ke situ, kita ketemu di cafe dekat rumah mommy, mau ya mom! Lita kangen banget sama mommy." Bujuknya.
"Oke baiklah kita ketemu! Tapi jangan di sana! Di cafe dekat rumah sakit xxx aja ya! Kebetulan mommy ada urusan di sekitar situ." Ucap sang mommy.
Dari tempat Lita duduk, wanita itu dapat melihat cafe yang berada di seberang jalan itu.
Air matanya kembali menetes, rasa takut itu kembali ia rasakan." Baik mom, lima belas menit dari sekarang ya." Sahut Lita.
"Iya sayang sampai ketemu di sana ya."
"Iya mom." Dan Lita pun mengakhiri panggilan itu.
Ia kembali menangis, ingin menepis kenyataan itu tapi rasa takutnya membuat Lita tidak dapat berhenti untuk menangis.
Selama hampir lima belas menit ia duduk menangis di lobby itu, membuat pengunjung dan pegawai rumah sakit itu iba kepadanya, mereka sudah mendekat untuk membujuk wanita itu, sayang Lita tidak bisa berhenti menangis.
Hingga Lita melihat wanita yang ia kenali berjalan keluar dari koridor rumah sakit menuju lobby. Dia tidak menyadari kehadiran Lita di sana.
Lita pun memilih bersembunyi dari wanita itu, ia baru keluar dari persembunyiannya setelah wanita itu menyebrang jalan menuju cafe tempat mereka membuat janji bertemu.
__ADS_1
"Mommy kenapa sembunyikan semua ini dari Lita." Ucapnya dan kembali menangis.
Harusnya hari ini dia yang memberikan kejutan untuk mommy-nya, bukan sebaliknya.