Takdir Anak Wanita Malam

Takdir Anak Wanita Malam
Sama siapa?


__ADS_3

Lisa mencoba meraih amplop berwarna coklat itu, sayangnya Arga sudah lebih dulu menyingkirkannya hingga membuat wanita itu tidak bisa meraihnya.


"Arga berikan." Bentak Lisa, ia tidak menyerah untuk merebut amplop dari tangan Arga, namun hasilnya nihil dengan tubuhnya Arga menahan pergerakan Lisa, lalu membuka amplop di tangan.


Kening Arga berkerut bingung saat melihat foto hasil USG di tangannya, dia bukan tidak tahu apa itu, dia sangat tahu karena di selalu memperhatikan perkembangan janin dalam kandungan Lita dan membaca tulisan-tulisan kecil yang tertera di sana.


"Apa ini? Sembilan Minggu!" Tanya Arga sembari membaca satu satu tulisan kecil yang tertera pada hasil USG di tangannya.


"Itu hasil USG_"


"Aku tahu Lisa, aku tidak bodoh." Bentak Arga sembari melempar hasil USG itu ke wajah Lisa.


"Apa-apaan kamu! Kenapa kamu membentak aku, kamu tahu aku sedang hamil." Ingin rasanya Arga tertawa, lebih tepatnya menertawakan kebodohannya sendiri karena masih mau terus berurusan dengan Lisa. Tapi bagaimana lagi obsesi wanita ini untuk adiknya.


"Hamil? Sama siapa?" Tanya Arga, dia mungkin bisa berpura-pura mencintai Lisa tapi dia tidak akan pernah mau menanggung benih yang orang lain tanamkan.


Ya, mungkin yang orang lain Lihat dan berpikir dia sangat mencintai Lisa . Arga pun tidak berusaha untuk menepisnya karena dia menginginkan semua berjalan seperti itu, walaupun awalnya risih namun lambat-laun dia pun terbiasa dan tidak ingin kembali namun kejadian malam mengubah arus yang telah dia ikuti selama ini.

__ADS_1


Dia ingin lepas dari wanita dihadapannya ini dan mengikuti garis takdir yang baru ia mulai.


"Kamu menuduh aku! Kamu suamiku dan sebelum menikah kita bukankah kita sudah sering melakukannya, jangan mencoba untuk lari dari tanggung jawab kamu." Ucap Lisa dengan bibir gemetar menahan tangisnya, dia ingin menunjukkan kepada Arga bahwa dia amat sangat terluka dengan ucapan suaminya.


"Aku tidak menuduhmu, kamu cukup jawab pertanyaan aku apa susahnya." Sahut Arga, bahkan tangisan Lisa tidak membuatnya iba sama sekali.


"Kamu bilang tidak menuduhku, lalu pertanyaan kamu ini apa haah?" Teriak Lisa, ia memukul dada bidang Arga, memainkan peran wanita tersakiti dengan baik.


Andai saja Arga tidak mengenali seperti apa Lisa, dia sudah pasti akan merasa bersalah, melihat wanita ini hancur seperti ini.


"Kamu lupa atau pura-pura lupa? Setelah perdebatan aku dengan kakek Sanjaya malam itu, kita tidak pernah lagi melakukannya dan itu terhitung hampir sebulan." Ucap Arga dengan begitu dinginnya, bahkan Lisa sampai tidak mengenali sosok Suaminya. Pria itu sangat jauh berubah.


'ini semua karena pria tua itu, harunya dia sudah mati menyusul istrinya, dasar tua Bangka! Sudah bau tanah tapi masih saja merepotkan.' Lisa mengeluarkan sumpah segala makian dan sumpah serapahnya untuk orang lain, padahal sudah jelas semua ini karena sifat jal-angnya.


"Kenapa diam? Sudah merasa salah? Bahkan aku masih ingat bahwa aku juga belum menyentuh kamu setelah kita sah menjadi suami istri." Lanjutnya lagi, membuat Lisa semakin mengepalkan tangannya.


Dia yang sedang bingung semakin di buat frustasi dengan kata-kata Arga yang sayangnya sangat benar itu.

__ADS_1


"Dan kalau pun itu anak aku, harusnya bukan sembilan Minggu. Tiga atau empat belas minggu jika ingin menuduhku." Lanjutnya lagi, semakin memojokkan Lisa.


"Breng-sek kamu Arga. Sialan kamu." Lisa langsung menyerang Arga dengan membabi-buta sembari berteriak seperti orang gila." Kamu tidak akan bisa lari dari tanggung jawab kamu, anak ini anak kamu, Arga" Teriaknya.


Arga yang sudah tidak tahan dengan sikap Lisa, langsung menahan kedua tangan Lisa yang terus memukul dada serta pundaknya, ia kemudian mendorongnya dengan perlahan untuk menyingkir Lisa dari hadapannya, setelah itu dia meninggalkannya begitu saja. Dia butuh Lita untuk menenangkan dirinya saat ini.


"Tidak, aku tidak boleh seperti ini aku! Aku harus melakukan sesuatu agar Arga tidak sampai menceraikan aku, iya harus." Ucapnya pada diri sendiri.


Malam itu Arga kembali tidak pulang, dia pergi ketempat istri mudanya untuk menenangkan dirinya walaupun Lita sempat menolak keberadaannya karena ini bukan saat Arga mengunjungi, namun wanita itu juga tidak bisa mengusir pria itu dengan bersikap kejam kepadanya setelah melihat wajah lelah suaminya. Dan Lita tahu caranya membuat Arga nyaman berada disisinya.


Keesokan paginya, Lisa tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia langsung mengatakan kepada Dina, perihal kehamilannya.


Dina yang tidak masalah anak-anaknya pun dengan senang hati menyambut kehamilan Lisa dia pun ikut berbahagia untuk wanita itu dan tak lupa untuk membagikan kebahagiaan itu dengan Luna dan yang lainnya.


"Selamat ya Lun, akhirnya kamu akan memiliki tiga orang cucu sekaligus." Ucap Melly wanita itu langsung mengunjungi Luna setelah membaca pesan yang dikirim Dina. Apalagi kalau bukan berita kehamilan Lisa.


"Cih, menyebalkan dasar anak bodoh, Kenapa juga sampai harus membuat wanita itu hamil." Umpat Luna tidak suka dengan kabar bahagia itu." Jangan tertawa, dia juga anak angkatmu sudah pasti anak dia cucu kamu juga." Lanjutnya. Luna yang sudah kesal semakin kesal melihat senyum Melly, yang seolah mengejeknya.

__ADS_1


"Salah sendiri kenapa kamu menyarankan dia untuk aku asuh, sekarang dia justru menempel seperti lintah." Sahut Melly seraya menyesap teh yang disajikan Luna. Dan Luna pun tidak menepis hal itu, sebab apa yang di katakan Melly benar adanya.


__ADS_2