
"Keluarga Nyonya Lita." Panggil seorang perawat didepan ruang UGD itu, membuat Dino yang sedang menunggu dengan perasaan cemas langsung beranjak dari duduknya, lalu menghampiri perawat itu.
" Ya, Saya kakaknya! Apa yang terjadi dengan adik saya? Dia baik-baik saja-kan?" Karena terlalu khawatir dengan keadaan Lita Dino, jadi banyak bertanya.
Ya, wajar jika Dino khawatir dengan Lita, karena sejak dulu ia selalu menjaga Lita dan Hani. Selalu mengikuti kemana perginya mereka.
Dan dia tiba-tiba mendapati Lita dalam keadaan seperti itu, bagaimana tidak khawatir.
"Silahkan pak! Dokter ingin berbicara dengan Anda." Ucap perawat sembari memiringkan tubuhnya memberi ruang untuk mempersilahkan pria itu kedalam ruangan unit gawat darurat itu.
Setelahnya ia mengikuti langkah Dino dari belakang. Pria itu melangkah mendekati salah satu ranjang di sana, dimana Lita sedang terbang dengan infus yang sudah terpasang dipergelangan tangannya. Wanita itu belum juga tersadar.
Dino melihat wajah, pucat Lita kemudian berpaling pada sang dokter yang menghampirinya.
Dokter yang dia tahu bername tag Helin, mulai membuka suaranya." Apa Anda suaminya?" Tanya sang dokter yang usianya mungkin tidak berbeda jauh dengan Dino itu.
Mendengar pertanyaan seperti itu, kening Dino mengerut! Bingung dengan pertanyaan dokter! Apa wajah Lita setua itu sampai wanita di hadapannya ini berpikir jika Lita sudah menikah. Entahlah, Alih-alih menyuarakan protesnya atas pertanyaan sang dokter.
Dino justru memiliki menjawab pertanyaan wanita itu agar ia segera menemukan jawaban dari kekhawatirannya saat ini."Bukan dok! Saya kakaknya." Jawab Dino, sang dokter pun tersenyum samar karena telah salah menebak." Adik saya sakit apa dok? Dia baik-baik saja kan?" Lanjutnya lagi. Pria itu sungguh sudah tidak sabar mengetahui keadaan Lita.
"Pasian baik-baik saja, Dia hanya mengalami Hiperemesis gravidarum_"
__ADS_1
"Hiperemesis gravidarum, Dok?" Tanya Dino sengaja memotong ucapan wanita itu.
" Ya, itu biasa terjadi pada wanita hamil, Hiperemesis gravidarum merupakan mual dan muntah parah yang dialami ibu hamil, hingga membuatnya mengalami dehidrasi dan_"
" Tunggu dok, apa tadi? Hamil?" Lagi-lagi Dino kembali memotong penjelasan dokter.
"Ya, Adik anda saat ini tengah hamil, usia kandungannya baru tiga Minggu." Jawab sang dokter. Membuat Dino kembali menatap tak percaya kepada Lita, yang masih nyaman memejamkan matanya itu. Dengan banyak pertanyaan yang kini sedang berputar dikepala.
"Dia hamil, dengan siapa?"
" Kenapa bisa! Bukannya Lita tidak dekat dengan siapapun?"
"Apa dilanggar ucap mommy Apa Hani tahu? Bagaimana kalau mommy sampai tahu!" Dan masih banyak pertanyaan lagi, hingga Dino tidak mendengar lagi penjelasan dokter itu, karena pikirannya saat ini tengah menuntut jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Ditempat lain, Arga mulai tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Bayangan akan pahatan wajah istri keduanya itu terus menganggu pikirannya, hingga pria itu tidak punya pilihan selain memohon bantuan sang papa.
"Pa ayolah! Hanya dua hari setelah itu papa boleh kembali beristirahat di rumah." Rengek Arga untuk pertama kalinya kepada Reval.
Pria itu sebelum-sebelumnya tidak pernah merengek seperti ini, bahkan untuk berbicara dengan Reval pun bisa di hitung jari karena hubungan keduanya tidak begitu dekat, sekeras apapun Reval berusaha untuk mendekatkan dirinya dengan putra dari istri pertamanya itu. Tetap ada lubang yang besar yang telah lama tercipta dari keegoisan Reval, hanya karena kekesalannya terhadap mantan istrinya itu.
__ADS_1
Bukankah sudah menjadi sebuah realita jika percaya kedua orang tua anaklah yang menjadi korban.
Dan entah apa alasannya pria itu kini berlutut dihadapan ayahnya itu hanya untuk meminta bantuannya, sesuatu yang tidak akan pernah Arga lakukan dalam keadaan apapun. Jika terdesak pun dia lebih memilih mendatangi kepada Jayden, bukan Reval.
Tapi lihat, hanya demi seorang Lita dia sampai harus memohon bantuan papanya."Berikan papa satu alasan kenapa kamu begitu ingin pergi keluar kota? Sementara istrimu ada disini, kalau urusan pekerjaan. Rasanya belum sekarang jadwal?" Tanya Reval meminta jawaban.
"Aku punya urusan yang mendesak dan aku tidak bisa mengatakan itu sekarang pa! Ma pleasa bantu aku untuk meyakinkan papa, hanya untuk kali ini saja, aku janji nggak akan lebih dari dua hari." Pintanya dengan raut wajah frustasi, sembari memohon bantuan Luna.
"Sayang_" Panggil Luna, satu kata tapi cukup untuk membuat seorang Reval mengalah dan mengiyakan keinginan putra sulungnya tapi, sebelum itu ia harus memastikan sesuatu, mengingat anaknya menurunkan egonya hanya untuk urusannya itu.
" Apa urusan kamu itu begitu penting?" Dengan cepat Arga mengangguk kepalanya." Lebih penting mana urusan mu itu atau Lisa dan perusahaan, yang ada disini." Tanya Reval lagi, sengaja! begitu menangkap sosok Lisa yang berada di ujung tangan mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Urusanku lebih penting dari semua yang ada di sini, termasuk Lisa. sangat-sangat penting, Pa." Reval tersenyum puas begitu pun dengan Luna. Setidaknya masih ada yang lebih penting di mata putra mereka itu, selain ular peliharaan sahabat mereka itu.
"Baiklah kami boleh pergi, tapi ingat hanya dua hari, begitu urusan kamu selesai kamu sudah harus kembali dan papa tidak menerima alasan apapun." Tagas Reval.
Arga pun tersenyum senang, pria itu tanpa sandar langsung memeluk Luna bergantian dengan Reval.
"Terima kasih, Pa."
'Akhirnya aku punya waktu untuk bertemu dengan, Tha. Tahukah kamu menahan rindu seperti ini begitu menyiksa.'Gumam Arga dengan bibir yang terus saja tersenyum.
__ADS_1
Bahkan Luna yang melihat hal itu sampai bingung, pasalnya sikap putra sambungnya itu seperti orang kasmaran yang tidak sabar untuk bertemu dengan kekasihnya, yang sudah lama tidak bertemu.