Tali Perjodohan

Tali Perjodohan
Satu


__ADS_3

Usia kandungan Jennie memasuki trimester ketiga. Di mana jenis kelamin bayi sudah dapat di lihat melalui USG. Selama mengandung, Jennie juga terus merawat baby Vino. Jennie sangat telaten, bahkan beberapa kali ia membawa baby Vino tidur bersamanya. Jennie benar-benar berubah setelah melewati masa nyidamnya. Aura keibuanya sudah sangat terlihat disetiap gerak-geriknya.


"Sayang ... aku udah ngga sabar pengin tahu jenis kelamin bayi kita." Reyno mengggandeng Jennie menuju ruang OBGYN untuk memeriksakan kandungan istrinya.


"Kamu udah berapa kali ngomong hal ini? aku capek dengernya, deh. Aku yang ngandung, tapi kamu yang heboh. Dasar nyebelin." Jennie mengusak pucuk kepala suaminya gemas.


Sampailah mereka di ruang OBGYN. Karena sudah membuat Janji dengan dokter Siska, mereka tidak perlu mengantri lagi.


"Selamat siang Nona Jennie." Sapaan halus itu langsung terdengar begitu keduanya membuka knop pintu.


"Selamat siang juga Dokter Siska." Reyno yang menjawab. Jennie melotot kesal saat suaminya tersenyum manis pada dokter siska. "Jangan genit-genit,"bisik Jennie pada suaminya. Namun masih terdengar jelas di telinga dokter Siska. Abaikan. Anggap tidak mendengar apa-apa. Ucap Siska dalam hatinya.


"Silahkan berbaring di sini." Dokter siska mempersilahkan Jennie berbaring. Cewek itu langsung mengikuti intruksi, bahkan membuka dress hamilnya sebelum di perintahkan.


Dokter siska segera menutupi paha Jennie dengan kain yang sudah di sediakan. Kemudian ia mulai mengoleskan gel di perut Jennie dengan hati-hati. Dokter siska meletakan alat sonogram pada perut Jennie, lalu menggesernya sampai terdengar detak jantung bayinya. " Ini detak jantungnya ya, dengar ?"


Jennie dan Reyno mengangguk senang. Keduanya tersenyum. "Dia sangat sehat dan aktif. Lihatlah ke arah monitor. Dia terus bergerak di perut ibunya. Mulai sering-sering mengajaknya mengobrol dan bernyanyi, terutama ayahnya. Harus melakukan itu setiap hari."


"Selalu, Dok." Reyno langsung gercep menjawabnya.


"Tapi wajahnya kok belum jelas ya, Dok. Bukanya itu alat ultrasonografi 4D," tanya Jennie penasaran.


"Memang tidak bisa sejelas seperti di kamera. Nanti anda bisa melihatnya langsung dengan jelas saat dia lahir. Pasti cantik seperti ibunya."


"Cantik?" Jennie tersentak saat mendengar kata itu. Reyno segera menyela pembicaraan. "Jadi anak kita perempuan?" Reyno sangat antusias.


"Benar, anak kalian perempuan. Selamat, ya." Dokter siska tak henti-hentinya tersenyum. Wanita itu terus bersikap ramah, takut-takut istri Reyno yang sensitif itu marah.

__ADS_1


"Tuh,kan. Kamu langsung senang pas denger anak kita cewek. Pasti kamu akan lebih sayang sama dia, trus kamu lupain aku." Jennie berdecak kesal. Kalau sudah begini, dokter Siska memilih untuk undur diri. Biarkan mereka berdebat di ruanganya.


"Saya akan menyiapkan resep sebentar. Tunggu di sini saja." Alasan. Kemudiam ia segera pergi ke ruangan lain.


"Kamu kok, mikirnya gitu,sih? kamu itu istri aku, dia anak kita. Harusnya kamu senang kalau aku sayang sama anak kita. Aku tetap milik kamu, kok. Jangan khawatir, walaupun kasih sayang aku mulai terbagi, tapi jatah ranjang kamu gak akan aku kurangin," kelakarnya. Ada pukulan yang mendarat di dada Reyno setelahnya.


"Kamu itu ngga bisa diajak serius. Awas aja, kalau sampai kamu ngga peduli lagi sama aku. Kamu harus adil, antara anak dan istri harus seimbang." Jennie menatap Reyno kesal.


"Iya sayang. Aku pasti adil. Aku pasti sayang sama kalian berdua. Aku akan berusaha jadi ayah dan suami yang baik untuk kalian." Reyno memeluk Jennie erat. Tak lupa juga menghujani banyak kecupan diwajah Sang Istri.


***


Sementara di sisi lainya. Ada seseorang yang sudah terlanjur betah menetap di kota A. William sudah tiga bulan tidak pulang ke Amerika, Papahnya terus menelepon karena perusahaan butuh tanggung jawabnya. Cowok itu meninggalkan kewajibanya demi seorang wanita. Tere. Gadis yang ia renggut keperawananya di usia sembilan belas tahun.


"Aku harus segera pulang ke Amerika. Pekerjaanku sudah terlalu menumpuk, Ayah sudah marah-marah karena kewalahan." William mengecup dada indah itu dengan lembut.


"Kamu bohong, pasti kamu mau ketemu pacar kamu yang lainya, kan?" Gadis itu terisak. Setelah melalui pergulatan panjang di atas ranjang. William malah mengatakan sebuah kalimat yang mengecewakan untuk pada Tere.


"Kamu itu playboy, Aku tau hubungan kita memang hanya sekedar have fun diatas ranjang. Tapi semakin lama, aku ngga bisa lepas sama kamu. Aku benar-benar sudah terjerat pesonamu. Aku akan bunuh diri jika kamu sampai meninggalkanku."


"Hei, jangan bicara seperti itu." William mendaratkan sebuah ciuman panas di bibir Tere, me lumatnya secara lembut penuh kasih sayang. "Suatu saat kamu pasti akan bosan, aku bukanlah lelaki yang cocok untukmu. Kamu hanyalah gadis kecil yang belum mengerti apa-apa. Carilah lelaki baik seperti Reyno."


"Tidak!" Tere semakin terisak. Kalimat itu terdengar menyakitkan untuk diresapi. "Sampai kapanpun aku ngga akan mencari pria lain, aku sangat mencintaimu. Aku rela menyerahkan apapun tentang hidupku. Tolong jangan tinggalkan aku"


"Aku tidak mungkin bisa menjalani sebuah komitmen seperti adiku. Kamu pasti akan kecewa, Re. Dari awal aku sudah bilang, hubungan kita hanya sebatas bersenang-senang saja. Semuanya sudah ku jelaskan agar kamu tidak kecewa nantinya."


"NO ..... ! BIG NOOOOO ..." Tere menjerit, lalu duduk menjauh dari William, dengan balutan selimut yang melilit tubuhnya, gadis itu mencoba berjalan ke arah jendela. " Aku akan mati sekarang juga, tidak ada gunanya juga aku hidup.

__ADS_1


"Jangan mengancamku." William langsung memeluk tubuh Tere sekuat tenaganya. Gadis itu meronta. "Aku tidak sedang mengancam. Ini keputusanku. Aku ngga akan sanggup menjalani hidup tanpa kamu. Aku bisa gila kalau begini caranya. Pergilah ...! pergi jika itu maumu. Aku tidak butuh belas kasihan darimu."


William menggendong tubuh Tere, lalu membantingnya diatas ranjang. Ia mengunci tubuh kecil itu dengan badan kekarnya. "Maafkan aku ... maaf ... maaf..." Hanya kata itu yang terucap dari bibir William.


"Untuk apa minta maaf, kamu tidak mencintaiku. Kamu tidak perlu merasa bersalah. Bersenanglah dengan gadis-gadis lain. Habiskan semua wanita di bumi ini. Pergilah ... pergi!" William langsung mendaratkan ciuman di bibir Tere agar ia mau diam. Memang hanya itu satu-satunya cara membuat wanitanya diam. Cukup lama mereka berciuman. Saling membelit dan bertukar saliva seakan itu adalah sebuah perpisahan. Sampai akhirnya mereka mulai kebahisan oksigen, lalu mengakhiri ciuman itu


dengan


terpaksa.


"Ayo kita menikah." Tere langsung terbelalak saat mendengar kalimat itu terlontar dari bibir William. Getar bibir itu sangat terlihat ketika William mengatakanya. "Ayo kita menikah ..."


"Ma - ma- maksud kamu apa?" Percalah, Tere langsung bergetar lemas saat mendengar kalimat tabu itu terdengar dari mulut kekasihnya.


"Aku akan membawa kamu ke Amerika, mengenalkanmu ke orangtuaku, kita akan menikah secepatnya." William mengatakanya dengan lantang dan penuh keyakinan.


"Ka-ka-kamu serius? ini hanyalah akal-akalan kamu agar aku tidak jadi bunuh diri, kan? Kamu lagi bohongin aku." Tere menarik badan William kedalam pelukanya. Gadis itu tidak berani menatap kekasihnya sama sekali.


"Aku serius. Aku sangat takut saat mendengar kamu akan bunuh diri. Mungkin aku akan ikut mati jika kamu sampai melakukan hal itu. Detik itu juga aku merasakan ada yang berbeda dalam hatiku. Aku jatuh cinta. Jatuh cinta pada bocah dihadapanku ini. Aku cinta kamu Tere."


"Serius?" Tere kehabisan kata-kata. Bahkan bernafaspun sangat sulit baginya.


"Serius ... duarius ... tigarius. William cinta Tere, Tere ananda." Willam mengeratkan pelukanya seakan tidak ingin terpisahkan sedetikpun. Sungguh ia tidak menyangka, gadis yang usianya terpaut sembilan tahun denganya telah merubah segala pemikiranya.


"Terima kasih ... Terima kasih banyak. Aku cinta kamu William. Cinta kamu selamanya."


Air mata bahagia menggenang di pelupuk mata mereka berdua. Ancaman Tere sukses membangunkan pikiran William dari tidur panjangnya. Kini cowok itu percaya, bahwa komitmen tidak semengerikan yang ia bayangkan. Malah ia akan sangat menyesal jika sampai kehilangan gadis kesayanganya. Enam bulan hidup bersama Tere, tidak ada rasa bosan sama sekali. Perasaan itu semakin tumbuh. Nama Tere tertanam kokoh dihatinya.

__ADS_1


***


Kebut banget. Sejam doang aku ngetik. Maaf kalo ada salah dan typo. Aku mau pindah ke novel satunya lagi. Cerita Tere dan William akan aku lanjutin di novel satunya.


__ADS_2