
Satu minggu berlalu
ππππ
Sejak Jennie mengusir Reyno dari rumah sakit, Reyno tidak pernah datang lagi menjenguk keadaan Jennie.
Melihat sifat Jennie yang seperti itu, jika Reyno muncul dihadapanya akan membuat Jennie semakin terpuruk. Maka dari itu Reyno lebih memilih untuk menahan rasa rindunya sampai keadaan Jennie lebih tenang.
Setelah satu minggu, keadaan Jennie sudah mulai membaik, dia juga sudah dapat menerima keadaanya yang sekarang.Hanya saja ia tidak mengizinkan siapapun untuk menjenguknya. Termasuk Reyno atau sahabat nya sendiri.
"Mom aku mau tinggal di Amerika boleh ngga?" Matanya mulai berkaca-kaca saat mengatakan hal itu. Tidak ada sedikit pun aura semangat di wajah gadis itu.
"Terus kuliah kamu gimana? Bukanya dulu kamu yang ingin sekali kuliah di sini ?"
"Aku ngga mau kuliah lagi, semua orang pasti bakalan ngehina aku kalo sampai mereka tau aku cacat kaya gini." Air matanya mulai tumpah perlahan, sampai akhirnya menetes deras membasahi pipinya. Kesedihan terukir jelas di wajah putri Lynda saat ini.
"Sayang, kaki kamu masih bisa disembuhin, kamu jangan pesimis gitu!
mamah akan cari dokter spesialis yang hebat untuk menyembuhkan kaki kamu. Pokoknya kamu harus kuliah oke," bujuk Lynda mencoba menyemangati anak gadisnya. Melihat anak gadisnya yang sedang terisak membuatnya tidak tega. Sebisa mungkin Lynda menahan air matanya untuk tidak ikut jatuh. Ia tidak ingin menambah kesedihan putrinya dengan ikut menangis. Hati ibu mana yang tidak hancur melihat keadaan anaknya yang miris seperti ini.
"Mom kapan aku boleh pulang? Aku ngga betah disini." Jennie mengalihkan pembicaraan ketika melihat mata mamahnya mulai berkaca-kaca.
"Besok kamu sudah boleh pulang, tapi harus tetap rutin ke rumah sakit ." Mamah Jennie mengelus puncak rambut putrinya. Mencium lembut lalu mereka berpelukan.
"Thank you, Mom," lirihnya.
ππππ
Esok hari kemudian Jennie akhirnya pulang dari rumah sakit bersama kedua orang tuanya. Terpaksa ia harus pulang kerumah karena keadaan dirumah sakit benar benar membuanya sangat Jenuh. Walaupun sebenarnya ia tak ingin melihat Reyno di rumah. Tapi mau bagaimana lagi? Rumah adalah tempat ternyaman untuknya saat ini.
Kedatangan Jennie disambut hangat oleh seluruh isi rumah kecuali Reyno yang tidak ada di tempat. Kemana sebenarnya Reyno? Apa sudah tidak peduli lagi terhadapnya. Atau mungkin enggan melihat keadaan Jennie yang sudah berbeda sekarang. Entahlah, sejuta pertanyaan melintas di benak gadis itu.
Tanpa sadar hatinya menuntun bibir Jennie untuk berbicara. "Mom Reyno mana ?" Matanya masih berkeliling mencoba mencari cari sosok pria itu.
"Kamu kangen ya? Baru pulang langsung nanyain Reyno," goda mamah Jennie saat memergoki anaknya celingak-celinguk mencari Reyno.
"Apaan sih Mom! Jennie cuma nanya doang kok."Jennie langsung menunjukan wajah tak senang ketika Lynda berusaha menggodanya.
"Sudah ... sudah. Sebenernya ada yang mau Momy kenalin ke kamu."
"Siapa Mom ?"
Tak lama kemudian, muncul sosok wanita cantik dari balik pintu.
"Hai Non Jennie!" sapa Wanita itu sambil mengulurkan tanganya ke arah Jennie. Yang disambut hangat Jennie, ia langsung menyalami tangan wanita itu dengan sedikit senyum sampul.
"Sayang kenalin ini Vina, mulai sekarang dia yang akan bantuin kamu dalam segala hal. Momy harap kamu bisa berteman akrab dengan Vina, karena dia seumuran sama kamu," terang momynya.
"Iya Mom!" Jennie memperhatikan Vina sebelum ia mulai menyapanya. "Hay Vina!
Bisa tolong antar aku ke kamar? Aku mau istirahat," ucapnya. Ia tidak mau berbasa-basi lagi dengan siapa pun.
Untuk saat ini, ia hanya ingin menenangkan diri. Bagaimanapun juga Hatinya masih terasa hancur.
"Baik Non." Vina gercap langsung memegang kendali kursi roda majikanya.
"Oh ya! Untuk sementara kamu tidur di ruang tamu dulu ya Sayang. Soalnya kalau kamu tidur di atas, aktifitas kamu akan susah," terang Lynda hati-hati. Jangan sampai ia salah bicara dan melukai perasaan anaknya.
"Iya Mom, Jennie paham kok maksud Momy. Vina ayo buruan antar aku ke ke kamar!"
Jennie menghela pelan. Entah mengapa, mendengar setiap orang yang mengucapkan kata-kata semangat untuknya, semakin membuat hatinya menjadi hancur. Maka dari itu ia beralasan ingin beristirahat di kamarnya. Untuk menyendiri tentunya.
Vina langsung bergegas melangkahkan kaki dan mendorong kursi roda Jennie menuju kamarnya.
"Tolong tinggalin aku sendiri!" ucap Jennie sesaat baru masuk ke dalam kamarnya.
"Tapi Nonβ"
"PERGI!" potongnya dengan nada yang sedikit membentak. Karena tidak mau mengganggu majikanya, Vina akhirnya pergi meninggalkan Jennie di kamarnya seorang diri.
Sekitar jam 8 malam, akhirnya Reyno pulang dari kampus dengan wajah yang sangat lelah. Reyno pulang terlambat karena harus mampir dulu ke hotel pusat untuk menandatangi beberapa dokumen.
"Malam Om Tante, bagaimana keadaanya Jennie sekarang?" sapa Reyno. Tanpa basa-basi ia langsung bertanya tentang Jennie.
"Ya seperti itu lah Reyn! Dia masih mengurung diri dikamarnya sejak tadi siang. Oh ya! Jennie ada di kamar tamu, kamu langsung masuk aja! Tadi dia nanyain kamu loh!"
__ADS_1
"Iya Tante."
"Reyn kami titip tolong jagain Jennie ya, soalnya kami mau keluar kota malam ini juga. Kami mau konsultasi dengan dokter yang akan membantu terapi Jennie," terang ayah Jennie pada Reyno.
"Iya Om Tante, hati-hati ya."
"Makasih Sayang, kita jalan dulu ya." Mamah Jennie tersenyum manis sambil menepuk pundak Reyno.
Setelah kedua orang tua Jennie pergi, Reyno langsung bergegas menuju kamar Jennie . Ia tidak langsung masuk menemui Jennie. Ia hanya membuka sedikit pintu kamar Jennie untuk melihat apa yang sedang dilakukan gadis itu didalam kamar seharian.
Jennie sedang duduk di atas kursi rodanya.
Matanya terus memandangi kakinya yang sebelah kirinya.
Sepertinya ia sedang mencoba berdiri dari kursi rodanya. Beberapa kali ia mengatur tenaganya untuk mengangkat tubuhnya bangun dari kursi roda.
"Aku pasti bisa!" Jennie mencoba bangkit dari kursi rodanya kembali.Ia terlihat memiliki semangat saat mengatakanya.
BRAKK!!
Jennie terjatuh dan tersungkur dari kursi rodanya, namun ia masih bangkit dan merangkak mencoba untuk berdiri.
Jennie sudah jatuh terpuruk dilantai, kursi rodanya sudah bergerak cukup jauh dari jangkauanya. Ia mencoba bangkit kembali, perlahan ia merangkak sampai ke samping ranjangnya. Tanganya berusaha menarik kayu penyangga bagian ranjang sampai beberapa kali ia mencoba. Namun akhirnya jatuh kembali dan tersungkur.
Hanya naik ke atas ranjang ?
Bahkan ia tidak mampu melakukan hal semacam itu. Bukan hanya tubuhnya yang tersungkur di lantai, tapi hatinya juga ikut terpuruk tak berdaya.
Dengan kepala yang tertunduk kebawah, Jennie menangis putus asa. Kedua tanganya meremas kuat piyama yang ia kenakan. Air matanya menetes deras membasahi baju tidurnya.
Reyno yang tak tega melihat kejadian itu, akhirnya memutuskan untuk datang menghampiri Jennie.
"Hei apa yang kamu lakuin ?" tanya Reyno memegang kedua pipi Jennie yang masih terduduk di lantai kamarnya. Ia mengangkat perlahan wajah gadis itu sampai mereka dapat saling menatap satu sama lain.
"Reyn, sekarang kamu udah liat keadaan aku kaya gimana? Jadi aku minta kamu pergi! Aku ngga butuh rasa kasihan kamu! Aku ngga butuh simpati dari kamu."Jennie terisak saat mengatakanya. Jelas itu hanyalah bualan dari sebagian hatinya. Reyno adalah orang yang sangat ia butuhkan saat ini.
"Aku udah bilang, apa pun yang terjadi aku ngga akan ninggalin kamu." Reyno mencoba meyakinkan Jennie sebisa mungkin.
Ia ingin menjadi orang pertama yang selalu berada di sisi gadis itu. Bersama Reyno, Jennie harus bangkit kembali dari keterpurukanya.
"Cukup Je! Sekalipun kamu suruh aku pergi ribuan kali, itu ngga akan merubah tekad aku buat terus berada disisih kamu. Tatap mata aku. Apa kamu ngga liat tulusnya perasaan aku ke kamu? Andai kamu tau betapa tersiksanya aku ngga bisa ketemu kamu selama seminggu ini? Tolong jangan kaya gini."
Reyno memohon seraya tanganya merengkuh pundak gadis itu. Tangis Jennie semakin pecah di dalam dekapan erat Reyno. Hangat dan nyaman, itulah yang Jennie rasakan ketika berada di dalam pelukan Reyno.
"Je tolong berhenti lakuin itu. Aku benar-benar engga kuat kalo harus jauh dari kamu, apa pun yang terjadi aku hanya mau di sisi kamu." Reyno mencoba meyakinkan kekasihnya sekali lagi.
Reyno lalu menyelipkan tangan kananya di kaki Jennie, sementara tangan kirinya merengkuh pinggang gadis itu.Dengan pelan ia mengangkat tubuh Jennie ke atas ranjangnya.
Reyno membaringkan gadis itu di atas ranjang, dirinya juga ikut berbaring dengan tangan kanan dijadikan bantalan kepala gadis itu.
"Reyn aku udah ngga ada semangat untuk menjalani hidup lagi. Aku udah coba buat terima keadaan aku, tapi aku ngga tau gimana caranya ngadepin semua ini."
"Aku selalu ada di samping kamu Je! Aku ngga akan tinggal diam. Aku akan melakukan cara apa pun supaya kamu bisa sembuh. Kamu harus janji sama aku kalo kamu masih punya semangat untuk sembuh."
Ia meraih tengkuh gadis itu untuk merekatkan dekapan, sampai kepala gadis diletakan tepat di dadanya.
"Makasih Reyn, kata kata kamu bikin aku lebih tenang. Aku janji aku akan semangat ."
Jennie semakin mengeratkan pelukanya.
Berada di pelukan Reyno terasa sangat nyaman dan hangat . Jennie pun enggan melepaskan pelukanya. Sampai tak lama kemudian mereka berdua tertidur lelap sekali. Malam itu, lagi-lagi mereka tidur di atas ranjang yang sama sampai esok harinya.
β€β€β€
***
Pagi harinya Jennie bangun terlebih dahulu, kepalanya menelusup masuk kedalam dekapan Reyno. Ia memperhatikan wajah Reyno dengan seksama. Laki-laki itu terlihat semakin tampan dalam keadaan tidur.
"Reyn Aku mencintai mu," lirih Jennie, ia membelai lembut wajah Reyno.
Reyno yang sebenarnya sudah terbangun sedari tadi segera menjawab Perkataan Jennie.
"Aku juga cinta sama kamu, Sayang," balasnya, ia semakin mempererat rangkulanya, diahkiri dengan mencium lembut puncak rambut kekasihnya.
Kedua mata mereka saling bertemu dan memandang satu sama lain, gemericik air hujan di pagi hari semakin menambah suasa malas untuk bangun dari tidurnya. Mereka hanya ingin berada di titik ini. Andai waktu dapat berhenti sejenak.
__ADS_1
Lagi-lagi Reyno mengecup lembut hidung mungil kekasihnya dengan gemas, membuat Jennie memikirkan hal licik di pagi hari.
Tanpa basa basi akhirnya Jennie langsung menarik tengkuk Reyno lebih dekat ,Ia mencium dan menghisap bibir Reyno dengan penuh gairah. Reyno tersentak kaget mendapat perlakuakan seperti itu. Entah kerasukan setan apa Jennie saat ini, atau mungkin karena cuaca hujan yang semakin mendukung kegiatan mereka berdua di pagi hari.
Tangan Jennie yang nakal mencoba menggerayangi bagian dada bidang Reyno . tentu saja hal itu membuat Jantung Reyno berdetak sangat kencang. Nafasnya memburu, nafsunya semakin membara mendapat perlakuan yang tak biasa. Reyno pun tak mau kalah ,ia membalas ciuman Jennie lebih intim lagi .Ia melahap habis bibir jennie dengan rakusnya, menyesap perlahan seperti sedang menikmati sebuah es krim.
Reyno sudah tak dapat mengendalikan dirinya lagi. Ciuman Reyno yang awalnya begitu lembut sekejap berubah menjadi ciuman panas penuh gairah.
Baru pertama kalinya Reyno mendapat perlakuan seperti itu dari Jennie .Perlakuan Jennie di pagi hari benar-benar membuat pertahanan Reyno hancur .Reyno sudah tak tahan dan hilang kendali ingin segera menyatu dengan Jennie.
Tak terasa ciuman Reyno semakin menjalar sampai ke daun telinga. Badan Reyno juga sudah berpindah di atas, menindih tubuh gadis itu tanpa sadar. Jennie semakin mempererat dekapanya seakan ingin menenggelamkan tubuh Reyno ke dalam pelukanya.
"Eummpp," desah Jennie ketika Reyno menggulai lembut telinganya.
Tubuh Jennie menggeliat menahan perasaan geli untuk pertama kalinya . Dari telinga ciuma Reyno semakin turun menyapu tengkuknya. Ia menghisap dan menyapu bersih leher Jennie dengan lidahnya. Bahkan tanpa sadar ia telah meninggalkan tanda kissmark di leher Jennie.
Tangan Reyno semakin nakal turun kebawah, menyentuh bagian sensitif milik Jennie yang masih terbungkus bra dan bajunya.
"Ahk Reyn cukup! Yang ini belum saatnya."Jennie mencoba menyadarkan Reyno kembali. Jennie hanya memancing gairah kekasihnya, ia tidak ingin melakukan hal terlarang seperti itu.
Reyno langsung menghentikan aksinya, ia segera bangun dari atas tubuh Jennie . Ada sedikit perasaan kecewa di raut wajahnya.
"Maafin aku Je."
Reyno lalu meninggalkan Jennie ke kamar mandi. Dengan wajah frustrasi, ia menyalakan shower dan menengadakan kepalanya di bawah siraman air hangat untuk meredakan gairahnya.
"Sial! Apakah aku harus menuntaskan gairahku di sini," ucap Reyno frustrasi sambil terus menahan birahinya.
"Anda kamu tau Je. Apa yang kamu lakukan tadi benar-benar sangat menggodaku. Kamu hampir saja membuat aku kehilangan harga diri dan menjadi gila," gumam Reyno dalam hati.
Hampir saja Reyno melakuan hubungan terlarang bersama Jennie. Sekitar 30 menit kemudian Reyno akhirnya keluar dari kamar mandi.
"Reyn maafin aku ." Jennie melirih tanpa dosa.
"Iya, aku juga minta maaf atas perbuatanku tadi ke kamu, aku hilang kendali."
"Ini bukan salah kamu kok! Kalo aku ngga mancing kamu duluan, kamu juga ngga akan ngelakuin semua itu." Jennie merasa bersalah. Tak menyangka efek becandanya akan seberbahaya itu.
"Je, laki-laki itu sangat berbahaya. Jangan pernah memancing gairahku. Karena aku jauh lebih liar dan berbahaya dari yang kamu bayangkan. Meskipun aku udah janji sama diri aku buat ngga nyentuh wanita sebelum dia menjadi istriku, tapi perlakuan kamu tadi hampir membuat aku kehilangan moral dan melanggar peraturan yang aku buat sendiri."
"Maafin aku Reyn, aku ngga bermaksud sejauh itu, aku cuma niat isengin kamu aja," ucap Jennie.
"Lupakanlah ... anggap semua ini ngga pernah terjadi." Reyno mengelus kepala Jennie lembut
Tok ... tok ... tok.
terdengar suara pintu yang diketuk. Reyno langsung membuka pintu kamar untuk melihat siapa yang mengetuk.
"Kamu siapa?" tanya Reyno ketika melihat wanita asing di depanya.
"Maaf, saya adalah perawat yang akan merawat Nona Jennie, dan saya mau mengantarkan sarapan untuk Nona Jennie," ucap Vina. ia1 tersenyum manis seperti sedang memikat Reyno.
"Sini masuk Vin, tolong taruh makanannya di meja yah ." Jennie merapikan bajunya yang acak acakan tadi.
Vina segera meletakan makanan untuk Jennie di meja, dan berlalu pergi.
"Dari mana kamu dapat perawat itu ?" tanya Reyno setelah Vina pergi.
"Itu Momy yang cariin, dia baik kok," jawab Jennie sembari mengikat rambut panjangnya.
Reyno tampak tidak senang. "Aku masih bisa kok rawat kamu. Kenapa harus cari perawat lain?" Reyno langsung tak suka ketika melihat kehadiran perawat muda itu.
"Reyn, aku 'kan butuh temen kalo kamu kuliah. Aku bete di sini sendirian. Lagian dia seumuran sama aku jadi Momy sengaja nyuruh Vina buat ngerawat aku, biar aku ada temen di rumah."
Reyno pun hanya diam menggangguk tak memberikan pendapat apa pun tentang perkataan Jennie.
ππ
Vina keluar dari kamar Jennie dengan perasaan yang sangat kesal. Ia sangat tidak suka melihat Reyno dan Jennie berduaan di dalam kamar. Terlebih ia tahu bahwa Reyno dan Jennie tidur bersama semalaman.
"Kurang ajar! Beraninya si cacat itu menggoda calon suamiku, kita liat saja! Cepat atau lambat Reyno pasti bakalan ninggalin kamu dasar wanita cacat tidak berguna," gumam Vina dalam hati.
Vina adalah salah satu dari wanita di kampus yang tergila-gila terhadap Reyno. Tujuanya melamar menjadi perawat Jennie sudah sangat Jelas, hanya agar dapat lebih mudah untuk mendekati Reyno. Maka dari itu ia sangat kesal melihat Reyno dan Jennie yang akrab seperti sepasang kekasih .
Nextβ’β’β’β’>>>>
__ADS_1