
Yuhuuuuuuuu....merciee datang lagi.
Selamat membaca...
•
•
•
•
🍁🍁🍁
Jennie berjalan menapaki lorong dengan menenteng dua kantong keresek besar berisi camilan dan beberapa bir kaleng yang ia beli di jalan tadi.Karena kesal dengan sikap Reyno,cewek itu memutuskan untuk pergi bersenang-senang dengan sahabatnya.
Setelah menghubungi Lisa untuk berkumpul,Jennie segera bergegas menuju apartemen Tere.Jennie sengaja tidak memberitahu karena ingin mengejutkan Tere dengan kedatanganya.
Tap..tap..tap..
Jennie mencoba memecahkan kata sandi apartemen Tere dengan sisa ingatanya.Detik kemudian cewek itu langsung mengembangkan senyumanya.Pintu apartemen Tere terbuka,ternyata anak itu tidak pernah mengganti kata sandinya.Dasar bodoh!
Jennie mulai masuk dan mencopot sepatu kerjanya.Lantas ia letakan di rak sepatu.Kemudian cewek itu berjalan ke ruang tamu untuk menaruh bawaanya diatas meja.
Sepi sekali,dimana anak itu berada ?batin Jennie dalam hati.
"Ahh! honey please.....i will come now...."
Terdengar de sahan dan racauan tidak jelas dari arah kamar Tere.Jennie pun segera menolehkan pandanganya pada pintu yang setengah terbuka.Pintu kamar Tere.
Awalnya Jennie mengira itu hanyalah suara tv yang sedang menyala.Namun lama-kelamaan racauan itu terdengar semakin nyata.Suaranya persis seperti suara Tere.Jennie mencoba memberanikan diri untuk melangkah semakin dekat kearah sumber suara.Otak penasaranya memaksa kaki itu melangkah semakin dekat.Saat sudah mencapai diambang pintu.Jennie segera menggebrak pintu kamar Tere tanpa ampun.
"KALIAN...?" Jennie teriak histeris.Tanganya segera membekap mulut yang melongo lebar sekali.
Dilihatnya Tere sedang duduk polos diatas tubuh seorang pria.Sosok pria yang sudah tidak asing lagi dimata Jennie.Siapa lagi kalau bukan William.
Tere segera turun dari tubuh William.Ia langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.Sementara William menatap Jennie dengan raut wajah kesal.Pria itu marah karena kesenanganya terhenti begitu saja.
Hampir saja ia mencapai puncak nirwananya,kalau saja ia tidak kedatangan moster yang lepas dari kandangnya.Adik ipar menyebalkan itu,mau apa sebenarnya ia kemari ?
"Kaka...apa yang kaka lakuin.Kaka apain sahabat aku?" Jennie mendekat kearah mereka.Ia mengambil bantal lalu memukulkanya ke arah William.
__ADS_1
"Dasar kaka ipar brengsekk, gila!...tega-teganya kaka ngelakuin hal itu sama sahabat aku sendiri.Kaka jahat! Jennie benci kaka." Cewek itu terus memukuli William tanpa ampun.
"Jennie stop!" bentak Tere lantang."Kita ngelakuin ini atas dasar suka sama suka.Ini bukan salah William,ini salah aku juga."Tere menjelaskan apa adanya.
Entah angin apa yang membawa hubungan mereka sampai ketitik mengerikan seperti itu.Yang jelas Tere dan William melakukan itu tanpa adanya paksaan.Mereka memang tidak saling cinta,hanya saling membutuhkan.Jujur Tere tidak dapat menolak pesona dan keindahan tubuh William.Cewek itu terbuai dan menyerahkan tubuhnya secara suka rela pada William.Dan ia menikmati itu semua.
"Maaf Jennie,maafin aku." Tere mulai terisak.Sementara William hanya jadi pembatas canggung diantara kedua wanita itu.
"Kalian saling mencintai?" tanya Jennie polos.
Duh...duh...duh...untuk apa berbicara masalah cinta dengan William? jelas yang mereka lakukan hanyalah kebutuh biologis diatas ranjang,tidak ada cinta didalamnya.
"Iya...iya..."jawab William bohong.Matanya melirik kearah Tere sebagi isyarat."I-i-ya,kami saling mencintai Jennie." Tere sedikit terbata saat mengatakanya.
Bagaimanapun juga adik iparnya termasuk dalam kategori wanita berbahaya.William tidak mau sampia Jennie salah paham lalu mengadu pada orang tuanya.Mamah Dina sangat galak,ia tidak mau ibu kandungnya sampai tahu tentang kelakuanya diluar rumah.Bisa gawat,mungkin William akan segera dinikahkan.Hiiii...ia tidak mau nasibnya berakhir pada pernikahan seperti Reyno.
"Ya sudah,anggap aku tidak pernah melihat kejadian ini kaka.Aku tunggu kalian diruang tamu.Aku butuh kalian" ucapnya lemah.Jennie segera berbalik lalu menghilang dibalik pintu kamar Tere.
Meskipun mereka ada sahabat dan kaka iparnya,tapi Jennie tidak mau ikut campur dengan hubungan mereka berdua.Biarlah tetap menjadi urusan mereka,memikirkan masalahnya sendiri saja sudah sangat memusingkan.Apa lagi jika harus ikut campur dengan urusan percintaan kaka iparnya.
Jennie tidak sangggup.
"Bagaimana kabar rumah tangga kalain?".tanya William.ia membuka tutu kaleng bir lalu meminumnya.
"Sangat kacau.Waktu di Amerika Reyno pernah dijebak oleh Tania.Mereka berdua tidur bersama dalam satu ranjang.Lalu sekarang Tania datang dalam keadaan hamil lima bulan.Ia bilang kalau itu adalah anak Reyno." Jennie meminum bir kaleng untuk ketiga kalinya.Cewek itu sudah menenggak dua bir dengan kadar alkohol dua puluh persen.
"Hah.. ko bisa ?" Tere teriak kaget.Cewek itu segera menghentikan kegiatan mengeringkan rambutnya.
Tere baru saja selesai mandi.Kemudian ia mendengar pernyataan Jennie yang mengejutkan.Tere langsung berlari kecil menghampiri William dan Jennie yang sedang asik meminum bir berdua saja.
Sementara William masih tenang menanti kabar buruk selanjutnya.
"Berita itu sudah tidak penting.Sekarang Reyno sudah menikah dengan Tania.Kita tinggal dalam satu atap yang sama."tutur Jennie enteng.Seperti tidak ada beban saat mengatakanya.Mungkin karena pengaruh alkohol,atau mungkin juga karena hatinya sudah didesain kuat seperti baja.
"Menikah?"
Sontak william tak mampu berkata apa-apa.Banyak sekali kalimat yang ada diotaknya mendadak tidak bisa ia keluarkan.Hebat sekali cucunguk yang satu itu.Baru ditinggal tanpa kabar lima hari sudah memiliki dua istri.
"Jangan gila Jennie,bagaiman bisa kamu membiarkan suami kamu menikah dengan wanita lain.Apa kamu tidak melarang Reyno?"William mendadak geram pada adik iparnya.Sejak kapan Jennie menjadi bodoh seperti ini?
"Biarlah kak,dengan menikah Tania akan berhenti berulah.Biarlah dia merasakan rasanya hadir yang tidak dianggap.Reyno sudah tidak cinta lagi pada Tania,jadi aku tidak perlu repot-repot menguras hati karena cemburu."tutur Jennie.
__ADS_1
"Gue ngga habis pikir sama otak lo Jennie.Entah ngarahnya kemana.Ya sudahlah.Kalau lo setuju berbagi suami,ya silahkan."
"Tuh,kamu ngomong pakai bahasa teman lagi.Mulai sekarang aku itu adik ipar kamu.Jadi yang sopan ngomongnya." ucap Jennie pura-pura marah.
Sebenarnya ia hanya ingin mengalihkan pembicaraan ini.Bosan sekali membicarajan pernihakan Tania dan Reyno.Sengaja ia datang kesini untuk menenangkan diri,bukan membahas kegilaan rumah tangganya.
"Arhhgggg...!" Jennie menjerit kesakitan.Bir yang ada ditanganya langsung jatuh kelantai."Arghhh!...sakit.." teriak Jennie lebih histeris.
"Kenapa...kenapa..?"tanya William panik.Ia mendekati Jennie untuk menenangkanya.Sebenarnya ia sendiri yang tidak tenang.
Untuk pertama kalinya.Jennie merasakan sakit yang amat luar biasa pada inti rahimnya.Seperti ada sesuatu yang me remas bagian perutnya.
"Kak sakit banget." rintihnya lemah.Suaranya mulai hilang.Cewek itu tidak berdaya untu berteriak lagi.Ia hanya mencengkeram bahu William setiap kali sakit itu datang.
"Tere cepat panggil ambulan." Teriak William panik.William mengelus-elus perut Jennie agar anak itu sedikit tenang.Sejujurnya ia tidak tahu harus melakukan pertolongan pertama yang seperti apa.Cowok itu hanya dapat memeluk Jennie agar ia tenang.
"Kak sakit...." lirihnya lemah.Matanya terpejam menahan sakit.Tanganya terus mencengkeram bahu William sekuat Tenaga.
Jennie mendapati pandanganya mulai kabur.Tubuhnya seperti melayang tidak dapat merasakan apa-apa.Perlahan cengkeramanya mulai kendur dan terlepas.Ada darah yang mulai turun dari pangkal pahanya.
"Tere tidak ada waktu.Cepat berangkat menggunakan mobil saja."
William semakin panik dan frustasi.Ada apa dengan wanita ini,menga sakit perut sampai mengeluarkan darah?
•
•
•
•
•
Aku tuh ngga tahu kaya apa rasanya orang hamil kalau minum alkohol.Jadi aku cuma ngasal aja,kira-kira rasanya seperti itu..Maaf kalau misal ada kesalahan ya...
betewe aku mau main uler lagi....
❤❤
Terima kasih.
__ADS_1