
"Sayang..." Sesuatu yang lembut berbisik di telinga Reyno saat ia sedang terlelap dalam tidurnya. Jennie menyusup ke dalam kamar Reyno, membelai lembut permukaan leher jenjangnya dengan sapuan bibir manisnya.
"Je...?" Reyno sedikit tersentak, ternyata yang ia rasakan tadi bukanlah mimpi. Jennie benar-benar mendatangi kamarnya malam ini. "Aku kangen kamu sayang." Reyno langsung menghujani ribuan kecupan di wajah sang istri, melakukannya dengan agresif dan brutal.
"Hentikan!" Jennie sedikit teriak. "Kamu menakutkan sekali, sih! " protes Jennie karena merasa tidak nyaman mendapat perlakuan Reyno yang sedikit kasar.
"Maaf, aku terlalu bersemangat dengan kedatanganmu." Reyno langsung mengontrol dirinya kembali. Memcoba menormalkan sesuatu yang meronta-ronta di dalam sana. "Tumben kamu kesini?" tanya Reyno. Nafasnya masih naik turun tidak jelas sepertinya.
Maklum, semenjak Jennie hamil delapan bulan hingga kelahiran Baby Luna sudah tiga bulan kini, Reyno memang tidak pernah menyentuh istrinya sama sekali. Makannya dia langsung bersikap seperti itu ketika melihat Jennie datang tanpa diundang.
"Aku ngga bisa tidur, kepikiran kamu terus, Reyn. Sudah lama kan, kita ngga ngobrol-ngobrol beruda di kamar."
Tentu saja lama sekali, bahkan Reyno sudah hampir lupa momen-momen indah yang biasa mereka lakukan sebelum tidur. Menahan hal seperti ini bagi Reyno adalah penyiksaan terberat dalam hidupnya. Begini kalau mempunyai ibu kandung yang posessif seperti Mamah Dina. Ia tidak mau Jennie sampai kenapa-napa, makannya Nyonya Dina membuat peraturan seperti itu. Dan akan berlaku juga untuk anak pertamanya nanti. William.
Dibandingkan dengan anak kandungnya sendiri, Mamah Dina jauh mencintai menantu dan cucu-cucunya. Keutamaan Jennie dan Tere sangat penting bagi Mamah Dina. Sebut saja mamah Dina adalah dutanya para menantu-menantunya.
"Apa lagi aku. Setiap hari selalu tidur sendiri. Mungkin yang di bawah sana tidak akan berfungsi lagi kalau diperlakukan kejam terus- menerus begini," gerutu Reyno sambil manyu- manyun.
"Benarkah? Apa enoki kecilmu sudah mendahului mati duluan dari pemiliknya. Hahaha," kelakar Jennie sambil tergelak.
"Jika kau tidak mengeceknya sekarang. Mungkin kau tidak akan bisa teriak sepanjang malam lagi di hari-hari berikutnya," goda Reyno sambil menaruh tangan Jennie di atas mahkota berharganya.
"Kasian sekali dia..." Meremat benda itu agak kasar.
"Apa yang kamu lakukan?" Reyno kesal sendiri. "Kau mau membuat dia benar-benar mati ya?"
__ADS_1
"Maaf sayang, aku akan memberikan hadiah terbaik untuknya setelah ini." Jennie mendaratkan sebuah kecupan termanis di bibir Reyno, pria itu mebalas dengan gerakkan menuntut. Cukup lama mereka bergelut dan saling menukar saliva, hingga akhirnya mereka melepasnya kerena tubuhnya sudah kehabisan pasokan udara.
"Aku ingin mencicipi ini...," izin Reyno sambil menaruh kedua tangannya dia atas dua mahkota kembar istrinya.
"Itu milik Luna Sayang, kamu ambil yang lain saja." Jennie mulai melepas satu-persatu kain penghalang milik suaminya, juuga miliknya sendiri.
"Tidak mau, aku akan menghabiskannya malam ini," ucap Reyno merajuk-rajuk seperti bayi.
"Kalau begitu kamu harus tanggung jawab untuk mengisi ulang besok pagi," tukas Jennie, gadis itu mulai naik di atas tubuh suaminya. Reyno hanya pasrah dengan perasaan bahagia yang tiada duanya. Ini adalah penantian terbesarnya. Akhirnya waktu ini tiba juga.
"Aku akan memasakkan makanan bergizi untukmu besok."
"Berhenti mengobrol, aku sudah tidak tahan lagi." Reyno menarik Jennie ke dalam pelukkannya.
Pertarungan malam mereka di mulai kembali. Rasanya seperti melakukan malam pertama. Indah, manis, ditambahi bumbu-bumbu rindu yang sudah tidak terbendung lagi. Kedua insan itu bersemangat, saling berlomba-lomba menuntut pencapaiannya. Tanpa sadar waktu sudah hampir pagi. Mungkin sudah empat jam lebih mereka melakukannya tanpa jeda.
"Aku masih punya banyak tenaga, jangan khawatir." Reyno semakin semangat memacu kegiatan malamnya. Ah, Lupa. Ini sudah bukan malam lagi. Sebentar lagi matahari akan bangun dari tidur lelapnya.
"Lakukanlah, aku akan pasrah demi suamiku yang sangat perkasa ini," goda Jennie dengan suara nakalnya.
Mereka melanjutkan pergulatan malamnya hingga keduanya tidak bertenaga lagi. Lalu sama-sama terlelap dibawah selimut hingga matahari mulai berada di puncaknya.
"Reyn .... Anak sialan kamu, ya. Cepat keluarkan istrimu yang kau sembunyikan!"
Gedoran di pintu semakin jadi. Nyonya Dina murka, sepertinya ia juga sedang menggendong Luna karena suara sampai terdengar ke kamar.
__ADS_1
"Sayang bangun, gawat! Mamah tahu kalau kamu tidur di kamarku." Reyno langsung bangun dan memunguti semua baju-baju yang berserakan di lantai. Ia juga memakaikan baju untuk Jennie. Setelah itu barulah Reno membukakan pintu kamar untuk mamah Dina.
"Dasar anak gak ada ahlak!" bentak Mamah Dina sambil berjalan melewati Reyno.
"Luna sudah menangis dari tadi Sayang. Cepat susui anakmu." Memberikannya pada Jennie. Jennie segera membuka baju dan menyusui Baby Luna. Namun bukannya menyusu, Luna malah menangis sambil mendenga-nendang kakinya ke udara.
Eak ... Eaak ... Eakk ...
"Mah, sepertinya air susu aku habis," lirih Jennie takut-takut.
Mamah Dina langsung mengepalkan tanggannya emosi. Matilah Reyno kali ini. Ya, pasti dia akan kena batunya. Dan untuk pertama kalinya, ingin rasanya Reyno berubah wujud menjadi benda mati saja, atau berpindah tempat menggunakan pintu ajaib doraemon.
"Jennie! Kemarikan ponselmu!" bentak Mamah Dina. Gadis itu meraih ponselnya di atas nakas, lalu memberikannya pada Mamah Dina. Nyonya tua itu terlihat menelpon seseorang. Jennie dan Reyno hanya pandang memandang dengan perasaan bingung.
"Farhan! Cepat pesankan satu tiket ke Amerika untuk satu kecoa pengganggu di rumah ini.
Reyno langsung berlari memeluk mamanya.
"Mah ... ampun, Mah. Reyno tidak akan mengulangi perbuatan ini lagi."
"Lepas!" bentak mamahnya jengkel.
"Tidak mau, sebelum mamah membatalkan pemesanan tiket itu.
Reyno tahu mamahnya tidak pernah bermain-main kalau sudah murka begini. Maka memohon ampunan dan terus menempel pada mamahnya adalah cara terbaik untuk bertahan hidup di era sulit ini.
__ADS_1
***
Udah ya, sampai sini bonus chapternya. Atau mau gimana? Ini.