Tali Perjodohan

Tali Perjodohan
Enam


__ADS_3

Tere menatap sayu gerbang di rumahnya dari jendela kamar. Gadis yang sedang hamil muda itu terus mengedarkan pandanganya ke luar rumah. Mencari-cari sosok yang biasanya terus berdiri di depan gerbang rumahnya.


Kemana si brengseek itu? Gumam Tere dalam hatinya.


Sudah tiga hari ini William terus bolak-balik di depan rumah Tere, hendak menemui gadis yang paling di cintainya. Namun Tere sudah terlanjur sakit hati, nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada gunanya juga William mencarinya sampai ke negeri Kincir ini. Tere tidak mau berharap lebih dan berunjung sakit pada akhirnya. Mau di bolak-balik seperti apapun hubunganya dengan William memang tidak seindah yang di bayangkan.


Cih! Ternyata usahamu untuk berdamai denganku hanya segitu. Ternyata aku yang berlebihan ... Aku pikir dia akan menungguku di depan gerbang sampai aku mau menemuinya. Ternyata dugaanku salah ... Dia sudah menyerah dan memilih pergi.


Tere memutuskan untuk pergi keluar kamar. Tidak ada gunanya lagi menatap dari Jendela kamarnya. Orang yang paling ingin dia lihat sudah pergi entah kemana. Gadis itu berjalan sambil menggerutu dalam hati.


Mengapa William tidak ada? Apa dia sakit? Biasanya cowok itu selalu duduk di depan gerbang. Ahhh, dia pasti sudah pulang. Mana mungkin pria seperti William mau repot-repot menungguku. Memangnya aku siapa? Tidak tahu diri kamu Tere.


Akhirnya Tere keluar dari kamarnya. Menuruni anak tangga dengan langkah kaki malas. Wajah senangnya perlahan memudar, berganti sendu seperti semula. Awalnya Tere sangat bahagia ketika mendapati Willam mendatangi rumahnya. Gadis itu berfikir bahwa William akan terus menunggu sampai hati Tere luluh. Menyebalkan! Ternyata Tere tidak se sepesial itu di hidup William.


"Kamu?" Tere tersentak ketika melihat seorang laki-laki sedang mengobrol akrab dengan neneknya. Tanganya gemetar, ia terpana dengan pemandangan yang baru saja di lihatnya.


William. Pria gila itu ternyata sudah berhasil masuk ke dalam rumah. Dia sedang mengobrol akrab dengan nenek Tere di ruang tamu. Gadis itu mendekat ke arahnya.


"Mau apa kamu kesini?" Jutek saat bertanya. William hanya senyum ke arahnya.


"Kalau begitu kalian lanjut ngobrol berdua. Nenek mau ke kamar dulu." Nenek beranjang dan melangkah pergi. Beliau menepuk bahu Tere lembut. "Nenek suka dia... Pria yang baik." Tersenyum.


Cih! Bahkan Nenek ku saja kau goda William. Dasar pria gila ...


Jangan Tanya kenapa Nenek Tere bisa langsung suka terhadap William. Hanya pria itulah yang membunyai ilmu sehebat itu. Kepintaranya mengambil hati wanita sudah sudah tidak perlu diragukan lagi. Bahkan seorang nenek sekalipun.

__ADS_1


"Mau apa kamu kesini?" Tere duduk di hadapan William. Melipat kedua tangannya di depan dada, sambil memalingkan wajahnya ke samping.


"Mau menjemput calon istriku," ucap William tidak tahu diri. Di mana detik selanjutnya Tere langsung berdecih jijik. "Aku serius, kali ini aku tidak main-main."


"Jangan mimpi! Aku sudah tidak tertarik dengan semua kata-kata manis darimu ... Kau pikir aku wanita bodoh, yang selalu termakan oleh rayuan buaya sepertimu." Memutar bola matanya sebal.


"Aku akan menikahimu secepatnya."


Cih! Dia mengatakan hal seperti itu ... Kali ini aku tidak akan tertipu lagi. Heh.


"Aku tidak sudi menikah denganmu." Semakin meninggikan nada suaranya. Tere ingin secepatnya meninggalkan ruang tamu, sebelum ia dibuat luluh oleh si Gila William.


"Kamu tidak bisa menolakku dengan alasan apapun, Re. Ada anakku di sana." Menunjuk perut datar Tere. Wajahnya menyeringai jenaka.


"Percaya diri sekali kamu Wiiliam! Ini bukan anakmu, aku selingkuh dengan lelaki lain." tegasnya datar.Lihatlah, kali ini kamu pasti akan marah dan pergi.


"Tidak masalah ... Aku akan bertanggung jawab." William bangun, menuju sofa yang di duduki Tere, pria itu duduk di samping calon Istrinya. "Aku merindukanmu, Re." Meraih jemari Tere dengan kedua tangannya.


Sial ... Aku bisa cepat luluh kalau begini caranya.


"Sebenarnya apa tujuanmu datang kemari? Apa masih belum puas menyakitiku berkali-kali. Apa kamu lupa, kenapa aku bisa berada di sini?" Mulai mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam hati.


"Maafkan aku ... Aku memang bodoh." William memeluk tubuh Tere dengan eratnya. Gadisi itu sedikit meronta, namun akhirnya luluh juga. "Menikahlah dengan, Re. Aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik. Aku akan berusaha bagaimanapun caranya."


Apa kamu akan mengajakku terbang tinggi, lalu menghempaskanku ke bumi. Aku bisa mati kalau terus mendapatkan perlakuan seperti itu darimu.

__ADS_1


"Aku akan mempertimbangkanya," jawab Tere datar.


"Terlambat!" ucap William ketika pelukan itu terlepas. Tere menatap William dengan air muka bingung. "Apanya yang terlambat?"


"Pertimbangan kamu sudah terlambat. Mamah dan Papahku sedang dalam perjalanan kesini." Kalimat William nyaris membuat Tere melompat dari duduknya.


"Mau apa mereka ke sini?"


"Tentu saja melamarmu bodoh. Aku sudah bilang, kali ini aku tidak main-main."


"Rere sayangggggg ..." Terdengar suara dari luar.


"Itu Mommy ku, mau apa Mommy datang ke sini?" Nyaris mati terkejut.


"Tentu saja datang, dasar gadis bodoh!" Mencubit hidung calon istrinya. "Keluarga kita perlu bertemu untuk mengadakan acara lamaran ini."


"Jadi kamu serius?" Kelu mendadak. Susah sekali mau berkata hal lainnya.


"Biarlah waktu yang akan menjawabnya."


Singkat cerita, akhirnya William dan Tere bertunangan saat itu juga. orangtua William datang beberapa saat setelah kedatangan orangtua Tere.


Pernikahan mereka dilaksanakan dua hari kemudian. Namun untuk resepsi. besar-besaran akan diadakan nanti, setelah kedua anak menantu Dina melahirkan semuanya.


***

__ADS_1


__ADS_2