
"Reyn..." Jennie membelai lembut kepala Reyno yang sedang tidur menungguinya. Pria itu terlihat lelap sambil duduk di samping Jennie. "Reyn ...," lirih Jennie lagi.
"Iya Sayang." Reyno langsung terjaga. Buru-buru ia bangun untuk menaikkan kesadarannya.
"Mana Luna kita?" Jennie sedikit menitikan air matanya. Proses melahirnya Jennie tidak selancar wanita lainnya. Ia hampir kehilangan nyawanya sendiri karena terlalu banyak mengeluarjan darah. Dan di hari ke dua ini, Jennie baru mulai pulih dan tersadar.
"Luna kita baik-baik saja Sayang, dia sedang di ruang bayi bersama anak lainnya." Reyno membelai lembut wajah istrinya. Merapikan anak rambut dan menyelipkannya di balik telinga. "Selamat ya Sayang, akhirnya kamu menjadi wanita sejati. Terima kasih karena sudah melahirkan anak yang cantik untukku."
Jennie hanya tersenyum. Karena sejujurnya ia masih lemas untuk berbicara. Reyno segera ikut naik ke atas ranjang. Ikut berbaring dan mencium kening Jennie bahagia.
"Aku ingin melihat Luna Reyn," lirih Jennie sambil membenamkan wajahnya di dada suaminya. Ana itu memeluk Reyno dengan sisa tenaga yang ada.
Sebenarnya keadaan Luna sedang kurang baik, ia masih berada di ruang ruang khusus. Luna kecil mengalami ikterus fisiologi dan keracunan air ketuban yang mengandung mekonium. Tubuhnya masih lemah dan butuh penanganan khusus. Butuh waktu beberapa hari lagi untuk dapat berbaur dengan manusia lainnya.
Karena Luna sudah mendapatkan penanganan khusus dari ahlinya, sekarang yang harus Reyno khawatirkan adalah Jennie. Wanita yang hampir kehilangan nyawanya demi si buah hati. Jennie pasti sedih jika mendengar kondisi Luna yang belum dapat di jenguk seperti bayi lainnya.
"Sabar ya sayang, nanti pasti kamu bisa lihat Luna. Oh ya, aku masih punya fotonya, kamu mau lihat?" Gambar yang Reyno ambil saat menjenguk Luna kemarin.
"Mana ... mana? Aku ingin lihat Luna kecil." Jennie langsung berubah antusias. Seperti ada energi tambahan begitu mendengar kalimat itu.
__ADS_1
Reyno menggeluarkan ponselnya dari celana. Membuka galeri dan memperlihatkan Luna kecil yang sedang di gendong oleh suster. Jennie langsung membelalakan keduanya matanya.
"Hai Luna?" sapa Jennie dengan linangan air mata. Ia merasa sangat bahagia walau hanya melihat Luna kecil di dalam layar ponsel.
"Cantik yah, anak kita." Reyno menaikan kepala Jennie. Menaruhnya di atas lengan. Lalu memeluk tubuh gadis itu dengan hangat.
"Kamu curang, Reyn." Jennie mencubit paha Reyno kesal. Mata berliannya menatap Reyno dengan wajah cemberut.
"Loh, kenapa kesal? Memangnya aku curang kenapa?" Reyno menyerngitkan dahinya bingung. Sedang sakit saja Jennie masih sempatnya ngambek begini. Tapi imut sih, jadi pengin meluk terus.
"Aku yang melahirkan, aku yang mengandung, tapi wajah Luna semuanya mirip kamu. Ngga ada bagian yang mirip aku sama sekali." Jennie mengerucutkan bibirnya. Entah kenapa otak Reyno mendadak kotor melihat tingkah istrinya yang manja di atas rata-rata.
"Tentu saja harus mirip aku sayang, biar semua orang tahu kalau Reyno versi wanita itu cantik sekali." Pria itu tergelak kencang. Jennie ikut tertawa sambil mengacak-acak rambut suaminya.
"I love you, Reyn." Jennie menatap wajah Reyno lekat-lekat. Ada aura cinta yang sangat besar di dalam bola kristal matanya.
"Aku juga cinta kamu, Jennie." Reyno mendekatkan wajahnya. Memberikan sentuhan hangat penuh cinta dengan bibirnya. Jennie membalas ciuman Reyno. Keduanya saling memberikan sentuhan yang mendamaikan jiwa.
"Ya ampun Reynooo!" Mamah Dina datang dengan wajah berapi-api. Matanya menatap dengan sorot kebencian. " Turun kau anak nakal! Berani sekali mencium menantuku, gila kamu ya Reyn, Jennie baru saja mempertaruhkan nyawanya, kamu malah melakukan hal mesum seperti ini." Mamah Dina langsung berceloteh. Meluapkan emosinya yang meletup-letup.
__ADS_1
Reyno langsung lompat dari pembaringan. Mamahnya ini mengganggu saja sih, padahal mereka sedang memadu momen romantis. Semuanya buyar begitu saja gara-gara kedatangan nyonya tua itu.
"Mamah ganggu saja sih, Reyno kan sedang mesra-mesraan. Ini urusan anak muda," protes Reyno sambil memegangi kepalanya yang sakit, habis di pukul mamahnya dengan keranjang buah.
"Tidak tahu diri kamu! Istrimu baru melahirkan malah diajak mesra-mesraan. Otakmu di mana Reyno?" Langsung menjewer telinga Reyno geram. Pria itu meringis kesakitan karena perbuatan mamahnya.
"Ampun, Mah." Reyno melirik Jennie yang sedang tertawa. "Bei, bantu aku dong, singkirkan mertua galakmu ini." Reyno memohon pada istrinya. Jennie malah semakin tergelak melihat tingkah mereka berdua.
"Mertua galak? Kurang ajar kamu Reynold. Aku ini mamahmu." Mencubit-cubit semua anggota tubuh Reyno. Pria itu melompat-lompat seperti kodok.
"Ampun ... Mah ... ampun. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Awas kamu Reyn, mulai hari ini sampai enam bulan ke depan Mamah akan tinggal bersama kalian. Jennie akan tidur bersama mamah." Menyeringai.
"Yah, kok gitu sih? Mamah mau bunuh anak sendiri?"
"Bodoh! Wanita itu butuh pemulihan saat melahirkan. Jangan berani mendekati Jennie." Mamah mengancam dengan nada marah. Hampir saja ia melayangkan keranjang buahnya ke kepala Reyno.
"Terus nasib Reyno gimana? Pemulihan kan hanya sebulan lebih. Mamah pikir Reyno tidak tahu apa?"
__ADS_1
"Itu hukuman untuk lelaki menyebalkan sepertmu. Bercintalah dengan kambing sana!" cibir Mamah jengkel.
***